Termite Control/Pengendalian Rayap di Perpustakaan: Studi Action Research pada Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perpustakaan termasuk bangunan dan seluruh isinya adalah rumah kedua bagi pustakawan. Sebagai rumah kedua kami selalu berusaha agar perpustakaan mempunyai kondisi dan suasana yang aman dan nyaman. Aman terhindar dari gangguan yang mungkin muncul dan telah muncul. Nyaman dalam pengertian enak digunakan dan membuat penghuninya senang menggunakannya.
Akan sangat menjengkelkan jika perpustakaan dan isinya mendapatkan serangan, seperti serangan rayap. Awalnya kami berpikir bahwa gedung perpustakaan kami terlihat baik-baik saja di luar tetapi kenyataannya keropos didalamnya. Ratusan rayap telah menyerang bangunan perpustakaan, rak buku dan koleksi perpustakaan. Hal ini didukung dengan kondisi lingkungan di luar perpustakaan yang mendukung kelangsungan hidup rayap dimana suhu hangat dengan kelembaban yang tinggi (karakteristik dari daerah tropis). Akibatnya menimbulkan kerusakan gedung perpustakaan, rak buku dan koleksi perpustakaan dimana material tersebut mengandung bahan selulosa yang merupakan makanan utama bagi rayap. Fenomena inilah yang terjadi di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau.
Jika dibiarkan hal tersebut akan menyebabkan gedung perpustakaan, rak buku dan koleksi perpustakaan rapuh, berjamur, rusak dan tidak dapat digunakan. Akibat yang paling fatal adalah penghuni terancam ketika bangunan runtuh, dan bisa membayangkan jika hal ini sampai terjadi.
Kejadian ini memberi arti betapa pentingnya kegiatan pelestarian perpustakaan. Sebuah metode diperlukan untuk mengontrol, memberantas gangguan rayap ini, sehingga gangguan rayap dapat diselesaikankan dan diantisipasi. Kegiatan ini telah dikenal sebagai kegiatan termite control atau pengendalian rayap. Pustakawan sebaiknya tahu bagaimana mengantisipasi, memberantas rayap yang menjadi gangguan perpustakaan agar perpustakaan mempunyai kondisi dan suasana yang aman dan nyaman seperti yang terjadi di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau.
Penulis juga berharap dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika perpustakaan memiliki serangan rayap tanpa menimbulkan kerusakan bangunan, mengganggu pengguna, dan kegiatannya ramah lingkungan. Penulis berharap bahwa secara nyata dapat membantu menambah pengetahuan praktek pustakawan dan mitra mereka. Sehingga harapannya akan membuat perpustakaan menjadi aman dan nyaman bagi pengelola dan penggunanya.

1.2. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dirumuskan masalah yaitu: “Jenis rayap apa yang menyerang Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau dan Bagaimana cara mengendalikan dan memberantas rayap yang menjadi gangguan perpustakaan tersebut.”

1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui jenis rayap yang menyerang Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau
2. Untuk mengendalikan dan memberantas rayap yang menjadi gangguan di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sebelum membahas tentang termite control atau pengendalian rayap, penulis akan memaparkan terlebih dahulu mengenai rayap. Tujuannya dapat membantu pustakawan mengetahui dan mengidentifikasi jenis-jenis rayap yang menyerang.

2.1. Serangga
Rayap dalam biologi adalah hewan yang merupakan salah satu jenis dari Isoptero dari kelas Antropoda. Ada lebih dari 2.300 jenis rayap di dunia dan kebanyakan hidup di daerah tropis, seperti yang dikatakan AS Hornby yang mengatakan rayap adalah serangga yang hidup dalam kelompok yang terorganisir, terutama di negara panas. Rayap melakukan banyak kerusakan dengan cara memakan kayu pohon dan bangunan. (Hornby, 2005:1583)
Hal ini juga dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimana: rayap merupakan serangga (seperti semut) putih, mengepung, memakan dan merusak kayu “Anai-Anai” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 935)

Menurut Rudy C Tarumingkeng rayap perusak digolongkan dalam lima jenis, berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, yaitu sebagai berikut:
1. Rayap kayu adalah jenis rayap yang menyerang pohon. Rayap kayu tinggal di sarang dan tidak terhubung dengan tanah. Contoh rayap ini adalah Neotermes Tectonae (Keluarga Kalotermitidae) yang merupakan hama dari kayu jati
2. Rayap Kayu hujan, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang di kayu dan tidak terhubung dengan tanah. Contoh jenis inilah Glyptotermes genus atau Glyptotermes spp (Keluarga Kalotermitidae)
3. Rayap kayu kering sebagai Cryptotermes spp (Keluarga Kalotermitidae) hidup dalam kayu mati yang kering dan tidak berhubungan dengan tanah. Hama ini umumnya mendapat di rumah dan mebel, seperti meja, kursi, rak buku, dan sebagainya. Tanda serangan mereka adalah adanya ekskremen atau butiran kecoklatan kecil yang jatuh di lantai atau di sekitar kayu yang diserang.
4. Rayap Subterranean umumnya tinggal di tanah yang mengandung banyak bahan kayu mati atau membusuk. Coptotermes genus (Coptotermes spp) dan Schedo Rhinotermes adalah jenis rayap bawah tanah yang sering merusak. Jenis ini bisa hidup meskipun sarangnya tidak terhubung dengan tanah, tapi kadang-kadang menerima lembab, misalnya, tetesan air dari atap bangunan yang bocor.
5. Rayap tanah di Indonesia adalah jenis family Termitidae. Mereka tinggal di tanah sarang, terutama dekat bahan organik yang mengandung selulosa, seperti kayu, jeroan dan humus. Macrotermes spp (terutama m.Gilvus), odontotermes spp dan Microtermes cadangan Termitidae jenis-jenis rayap yang paling umum menyerang bangunan. Namun, habitat rayap yang paling disukai adalah bagian dari konstruksi. Rayap ini memakan targetnya hingga 200 meter dari sarang mereka. Bahkan mereka bisa menembus dinding yang tebalnya beberapa cm dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya untuk mencapai target mereka.
Rayap memiliki tiga fase hidup yaitu: telur, sebelum dewasa dan tahap dewasa. Ada tiga jenis utama dari anggota koloni dewasa: reproduksi, pekerja dan prajurit. Rayap selalu hidup teratur dan terorganisir. Salah satu karakteristik mereka adalah menyembunyikan diri mereka sendiri. Selulosa adalah makanan rayap: buku, kertas, perabotan, dan kayu bangunan tetapi habitat rayap yang paling mirip adalah bagian dari konstruksi. Selain itu, rayap adalah hewan perusak yang paling berbahaya bagi keberadaan koleksi dan gedung perpustakaan. Rayap kerusakan dan menyelesaikan makanan mereka dalam waktu singkat.
Menurut Tarumingkeng (2008) rayap mencapai sasaran serangan mereka karena berbagai hal, yaitu:
a. Benda itu langsung berhubungan dengan tanah
b. Rayap membangun pipa perlindungan (berlindung tabung) dari tanah ke objek serangan.
c. Melalui celah kecil, retak (minimal 0, 4 mm) contoh: fondasi bangunan dan dinding.
d. Menembus objek hambatan (plastik dan logam tipis)

2.2. Termite Control atau Pengendalian Serangga
Sebuah metode diperlukan untuk mengontrol, untuk mencegah dan memberantas gangguan rayap ini secara aman dan nyaman. Kegiatan ini dikenal sebagai kegiatan termite control. Berbagai metode pengendalian rayap dan umumnya memiliki dua metode pengendalian rayap, yaitu:
1. Metode metode konvensional dengan penyemprotan dan suntikan termitidae atau Chemical Barrier System.
2. Metode eliminasi adalah metode dengan bahan aktif Hexaflumuron atau disebut Termite Baiting System.
Pengendalian rayap ini dimaksudkan untuk menghilangkan masalah tanpa kerusakan bangunan, mengganggu pengguna, kegiatan dan ramah lingkungan.
Prosedur pada Chemical Barrier System dengan penyemprotan dan suntikan Termitidae dengan bahan aktif dalam terowongan rayap di sekitar gedung perpustakaan yang menyerang dan sarang mereka. Berbagai macam teknik telah digunakan dalam Termite Baiting System, salah satu dari mereka yang dikenal sebagai Sentricon. Sentricon sistem yang telah dikembangkan di Amerika Serikat sejak 1989. Dimulai dengan penelitian dari University of Florida yang secara entomologi menyimpulkan bahwa bahan aktif hexaflumuron bahan terbaik untuk digunakan dalam Termite Baiting System. Setelah melalui proses penelitian secara mendalam pada tahun 1995 Sentricon Termite Baiting System mulai dipasarkan ke perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat (salah satu yang terbesar Terminix International USA), dan tumbuh sampai sekarang. Sistem Sentricon Indonesia masuk sejak 2000 dan hingga sekarang terbukti efektif untuk mengatasi rayap paling kejam dari jenis tanah di Indonesia yakni Coptotermes spp. Penulis berharap dengan termite control ini, perpustakaan dapat terhindar dari wabah rayap, khususnya di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau, Indonesia.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN DAN OBJEK PENELITIAN

3.1. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Action Research atau penelitian tindakan. Menurut Kemmmis (1983) bahwa penelitian tindakan adalah upaya untuk menguji gagasan-gagasan dalam praktik memperbaiki atau mengubah sesuatu dalam rangka untuk menerima dampak yang nyata terhadap situasi. (Zuriah, 2003: 54)
Penulis menggunakan metode penelitian tindakan yang mengadopsi model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin. Model ini didasarkan pada konsep subjek penelitian tindakan yang memiliki tiga komponen utama yang menunjukkan langkah-langkah berikut:
1. Perencanaan, tahap perencanaan merupakan kegiatan selama awal kegiatan penelitian
2. Actuating dan Refleksi adalah tahap yang menjelaskan rencana aksi dan observasi.
3. Mengevaluasi adalah perhatian membayar dekat dengan apa yang terjadi setelah tahap refleksi itu diselesaikan kemudian harus disusun oleh sebuah modifikasi yang teraktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan, pengamatan dan lain-lain lagi.

3.2. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau, dari bulan November 2008 sampai Februari 2010 dengan teknik Chemical Barrier System dan Termite Baiting System. Kemudian kegiatan dilanjutkan setiap tahunnya secara berkesinambungan sampai Oktober 2013 dengan hanya menerapkan teknik Chemical Barrier System. Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau (BPTSTH) berada di Jl. Raya Bangkinang-Kuok KM 9 of Kotak pos 4/BKN Bangkinang Riau Indonesia. Perpustakaan dengan luas sekitar 160m2. Perpustakaan ini sebelum tahun 2011 menggunakan nama Perpustakaan Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat (BPHPS) sesuai dengan nama balai, tetapi kemudian berganti nama menjadi yang sekarang yaitu Perpustakaan Balai penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan.

BAB IV
ANALISIS

Kegiatan pengendalian rayap ini dilakukan oleh penulis, pegawai Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan dan pegawai Terminix Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah mencegah, mengobati dan mensterilkan perpustakaan dari serangan rayap. Analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dilakukan untuk mengaudit kondisi perpustakaan dan lingkungannya serta kesediaan anggaran. Selanjutnya melakukan tiga tahapan proses pengendalian rayap di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, yaitu:

4.1. Perencanaan
Pada tahap ini, kita harus memperhatikan pertanyaan tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam kegiatan selanjutnya, apa, mengapa, siapa, di mana dan bagaimana melakukan kegiatan.
a. Apa yang akan dilakukan: untuk menghilangkan masalah rayap di perpustakaan (gedung, rak dan koleksi buku)
b. Mengapa: mengenai pemberantasan adalah termite control tanpa merusak bangunan, mengganggu pengguna, kegiatan dan ramah lingkungan.
c. Siapa: yang terlibat dalam kegiatan ini adalah staf di Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, yaitu: penulis sebagai pustakawan, Cakra Dewiza yang kemudian diganti Ratih Kusuma dan Shinta Pangesthi sebagai staf honorer perpustakaan, Kasubag TU, pegawai tata usaha, pegawai dari Perusahaan Pengendalian Rayap (Terminix Indonesia).
d. Mana: tempat di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau, Jl. Raya Bangkinang-Kuok KM 9 dari kotak pos 4/BKN Bangkinang Riau Indonesia.
e. Bagaimana: Melalui tiga tahap proses pengendalian rayap di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan.

4.2. Actuating dan Refeksi
Ada tiga tahap dalam tahap actuating dan refleksi, mereka adalah:
a. Kegiatan Pra-Termite Control
1) Fase pertama dalam refleksi actuating dan pra-kegiatan termite control. Kegiatan dalam tahap ini adalah: Survei, pengamatan dan wawancara dengan lembaga lain tentang aktivitas pengendalian rayap
2) Pengamatan dan wawancara dengan perusahaan termite control atau pengendalian rayap
3) Membuat proposal kegiatan termite control atau pengendalian rayap
4) Mengenalkan dan mengajukan proposal kegiatan termite control ke Kasubag TU dan Kepala Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan
b. Kegiatan Pengendalian Rayap
Setelah atasan mensepakati usulan atau proposal kegiatan pengendalian rayap maka kegiatan ini siap untuk dilakukan. Langkah selanjutnya adalah melakukan survei terhadap serangan rayap untuk menentukan jenis yang menyerang dan menentukan solusi untuk mengendalikan. Kegiatan ini telah dilaksanakan oleh Terminix International Indonesia sebagai perusahaan pengendalian payap yang telah dipilih untuk mengatasi gangguan rayap. Hasil survei yang dilakukan pihak Terminix di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kuok Riau (BPHPS) menghasilkan data sebagai berikut:

Solusi untuk masalah-masalah itu adalah termite control atau pengendalian rayap dengan teknik Chemical Barrier System untuk rayap jenis Nasutermes spp dan teknik Termite Baiting System (Sentricon) untuk jenis rayap Coptotermes spp. Kegiatan ini telah dilakukan pada bulan November 2008 sampai Februari 2010 dengan teknik Chemical Barrier System dan Termite Baiting System. Kemudian kegiatan dilanjutkan setiap tahunnya secara berkesinambungan sampai Oktober 2013 dengan hanya menerapkan teknik Chemical Barrier System.

1. Chemical Barrier System
Prosedur pekerjaan dengan sistem penyemprotan dengan bahan kimia aktif imidakloropid dalam tunnels Nasutermes spp yang ditemukan di sekitar perpustakaan dan sarang mereka. Aktivitas penyemprotan telah dilakukan tiga kali selama satu tahun. Sistem yang menggunakan bahan termitida, yaitu:

2. Termite Baiting System
Prosedur Termite Baiting System adalah sebagai berikut:

a) Instalasi
Semua lokasi sistem Termite Baiting System ditutupi dalam In-Ground Station. Stasiun umpan dikubur di dalam tanah di sekitar gedung atau bangunan perpustakaan setiap 6 meter. Stasiun umpan berisi kayu umpan untuk memancing rayap yang sedang mencari makanan. Selanjutnya, Above-Ground Station, stasiun umpan yang dipasang secara langsung ke bangunan yang diserang. Stasiun umpan langsung berisi rayap memiliki bentuk jaringan yang disukai oleh rayap.

b) Pemantauan atau monitoring

Pemantauan atau monitoring rutin dilakukan pada kedua stasiun. Kayu umpan diganti dengan sirkuit II jika ditemukan adanya serangan aktif lain dalam umpan kayu. Pemantauan juga dilakukan pada Above-Ground Station untuk memastikan bahwa umpan telah termakan, dan jumlah umpan cukup untuk pemantauan lebih lanjut. Pada saat pemantauan, inspeksi juga dilakukan pada daerah sekitar stasiun dan daerah-daerah lain yang dirasa penting untuk mengantisipasi adanya serangan rayap baru.

c) Elimination atau penghapusan dengan rutin inspeksi dan penggantian jaringan In Ground Station dan Above-Ground Station 2 setiap minggu sampai koloni rayap habis dihapuskan. Hasilnya menunjukkan setelah treatment koloni rayap terberantas dan tidak muncul kembali.

d) Pemantauan lanjutan
Setelah penghapusan koloni proses ini selesai, pegawai Terminix Indonesia akan tetap memantau Above-Ground Station dan pergantian Sirkuit II pada In Ground Station dengan WMD / kayu umpan kembali. Mereka kembali memeriksa umpan stasiun, gedung dan sekitarnya setiap bulan untuk memposisikan, mendaftar ulang atau mengisi kembali umpan, jika diperlukan.

c. Pasca kegiatan Pengendalian rayap
Bahan kimia dalam kegiatan termite control ini aman bagi pengguna dan penghuni perpustakaan sehingga aktivitas di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan dapat dilakukan seperti biasa dan kegiatan termite control juga selesai, seperti pepatah lama menyatakan “Sekali mendayung dua buah pulau terlampaui.” Selain itu, kita hanya melakukan pemantauan perpustakaan dan isinya setelah kegiatan termite control.

4.3. Evaluasi
Aktivitas pengamatan telah dilakukan dalam tahap ini dalam kegiatan termite control. Tujuannya untuk mengetahui hasil dari kegiatan termite control. Kegiatan termite control ini dilakukan secara intensif pada bulan November 2008 sampai Februari 2010 dengan teknik Chemical Barrier System dan Termite Baiting System. Kemudian kegiatan dilanjutkan setiap tahunnya secara berkesinambungan sampai Oktober 2013 dengan hanya menerapkan teknik Chemical Barrier System. Hasilnya rayap bersama dengan koloni mereka mati dan tidak terlihat adanya gangguan rayap di perpustakaan dan sekitarnya lagi.

4.4. Saran
Untuk mengantisipasi kejadian yang sama Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan (BPHPS) Kuok sebaiknya kedepannya selalu melakukan kegiatan termite control ini secara berkala dan berkesinambungan setiap tahun dengan menggunakan Chemical Barrier System saja seperti yang sudah dilakukan sebelumnya.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan dapat menyimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan hasil survei diperoleh hasil bahwa jenis rayap yang menyerang perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan adalah jenis Nasusitermes spp dan Coptotermes spp (Jenis rayap Subterranean)
2. Aktivitas termite control atau pengendalian rayap yang telah dilakukan pada Perpustakaan Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan adalah menggunakan teknik Chemical Barrier System dan Termite baiting system. Secara teknis Chemical Barrier System dan Termite baiting system aman digunakan tanpa kerusakan bangunan, mengganggu pengguna, kegiatan diperpustakaan dan ramah lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa teknik Chemical Barrier System dan Termite baiting system optimal dalam penggunaannya, hal itu bisa dilihat dari hasil evaluasi. Dan dengan kegiatan termite control atau pengendalian rayap ini serangan rayap dan koloninya bisa diberantas.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2003. Prosedure Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Aqib, Zainal. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Irama Widya, Pg 21

Business Editors. 2001. Sentricon System: The Only Termite Bait System Now Listed With SBCCI As Stand-Alone Alternative to Liquid Termiticide Treatments. New York: Business Wire. May 29, 2001. pg. 1

BusinessWorld. 2002. Don’t let the termites bite. Manila: Business World. Jun 28, 2002. pg. 1

Cameron, Stephen L; Whiting, Michael F. Mitochondrial genomic comparisons of the subterranean termites from the Genus Reticulitermes (Insecta: Isoptera: Rhinotermitidae). Ottawa: Genome. Feb 2007. Vol. 50, Iss. 2; p. 188 (15 pages)

Cornel University Library. 2005. Pest Control. http://www.library.cornell.edu/ librarypreservation/mee/management/pestcontrol.html diakses 12 Februari 2009.

Fumapest Group. 1995. Termite Control Methods. http://www.termite.com/termite-control.html diakses 17 Juli 2010

Harby, Karla. 1988. Safe Termite Control. Topeka: Mother Earth News. Mar 1988. p. 80 (4 pages)

Hornby, A S. 2005. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English seventh edition. Oxford: Oxford University Press.

http://www.sucofindo.co.id/pdf/General%20Services_1.pdf diakses 12 February 2010

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia ed. 3. cet.2. Jakarta: Balai Pustaka.

Narbuka, Kholid. 1997. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara

Nalencz, Nicole. 2006. Sentricon: Spring Brings Earth Day, Swarming Termites. New York: Business Wire. Apr 18, 2006. pg. 1

Okezone. 2008. Awas, Rayap Kuasai Rumah. www.style.okezone.com access November 30, 2008.

Pest and Termite Consultant. 2008. Surat Penawaran Pengendalian Rayap (Termite Control). Pekan Baru: Terminix International Indonesia

PR Newswire . 1999. What You Should Know About Your Termite Contract; Orkin Offers Termite Education for New and Existing Termite Customers. New York: PR Newswire. Feb 11, 1999. p. 1

Stromberg, Meghan. 2003. Termite tech. Highlands Ranch: Professional Builder. Jul 2003. Vol. 68, Iss. 7; p. 63

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Cet.3. Bandung: Rosda Karya. Hal 195

Suszkiw, Jan; Peabody, Erin. Fungal Foam Seeks and Destroys Termites. Washington: Agricultural Research. Sep 2007. Vol. 55, Iss. 8; p. 4 (3 pages)

Tarumangkeng, Rudy C. 2008. Biologi dan Pengendalian Rayap Bangunan di Indonesia. www.tumoutov.net diakses 20 Oktober 2010.

Tarumangkeng, Rudy C. 2008. Biologi dan Perilaku Rayap. http://tumoutou.net/biologi_dan_perilaku_rayap.htm diakses 30 November 2010.

Zuriah, Moh. 1988. Metode Penelitian. Cet.3. Jakarta: Ghalia Indonesia