Urgensi dan Kelayakan Operasional Pengembangan Database Pakar Bidang Ilmu Informasi dan Perpustakaan

Pendahuluan
Latar Belakang

Database pakar adalah database yang berisi data keahlian pakar berdasarkan latar belakang pendidikan, publikasi, penelitian, prestasi, dll. Beberapa database pakar dilengkapi dengan alamat kontak serta keunikan dan keunggulan fasilitas layanan seperti adanya grup diskusi, sarana mengunggah proposal riset, serta informasi lowongan pekerjaan riset. Sebagian besar pakar dalam database pakar adalah peneliti dan pengajar di universitas. Lembaga yang mengembangkan database ini umumnya adalah lembaga penelitian, universitas, dan otoritas pemerintah bidang riset seperti kementerian sains/teknologi (Diane 1988; Bosch 2001; National Research Council 2005; Seljak & Bošnjak 2006, D’Onofrio 2009). Selain database pakar peneliti, beberapa perpustakaan juga mengembangkan database yang mirip database pakar berisi direktori keahlian pustakawan di bidang ilmu tertentu seperti directory of subject specialist dan librarian: directory of specialist.

Database pakar peneliti dikembangkan untuk beberapa tujuan antara lain sebagai indikator sains dan teknologi di suatu lembaga bahkan negara, manajemen sumber daya manusia khususnya peneliti, sarana membangun jaringan riset, promosi keahlian, komersialisasi produk penelitian, pengambilan keputusan, dan pendanaan (Watts 2008; Roy et al. 2010), sedangkan direktori pustakawan umumnya bertujuan untuk memudahkan pemustaka menghubungi pustakawan yang dapat membantu mereka sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Di Indonesia database pakar mulai banyak dikembangkan antara lain oleh Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan juga oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI). Semua database ini berisi data dosen pengajar dan peneliti. PDII sendiri mengembangkan Sistem Informasi Direktori Kepakaran (SIDIK) berisi data peneliti di LIPI dan lembaga penelitian dan pengembangan milik pemerintah. SIDIK memetakan kepakaran berdasarkan bidang ilmu, sub bidang ilmu, atau bidang penelitian yang dikerjakan (Riyanto et al. 2011).

Ketika database pakar peneliti dan dosen banyak dikembangkan, database atau direktori pustakawan belum dikembangkan dengan baik di Indonesia. Padahal pustakawan dan beragam profesional lain di perpustakaan seperti peneliti informasi, ahli komputer, dll memiliki banyak keahlian namun banyak pemustaka yang tidak mengetahui kemampuan SDM ini khususnya dalam membantu mereka memperoleh informasi yang dibutuhkan. Salah satunya adalah kasus para peneliti di LIPI yang lebih menyukai memperoleh informasi melalui jurnal online daripada datang ke perpustakaan dan berinteraksi dengan pustakawan. Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh ketidaktahuan peneliti bahwa di perpustakaan seperti di PDII terdapat pustakawan yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu tertentu yang dapat membantu peneliti dalam beberapa tahapan proses penelitian yang mereka lakukan (Yaniasih et al. 2012) . Di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) pun pangkalan data pustakawan yang dikembangkan belum mengakomodasi tujuan besar database pakar, namun baru sebatas kumpulan data nama, pangkat, dan jabatan fungsional pustakawannya.

Tujuan
Makalah ini mengulas urgensi, manfaat, dan studi kelayakan operasional ide pengembangan database pakar khusus bidang ilmu informasi dan perpustakaan (library and information science / LIS). Ulasan fokus pada apakah sistem ini sesuai dengan bisnis perpustakaan serta apa saja urgensi pengembangan bagi individu, kelembagaan, ilmu pengetahuan, dan masyarakat luas.

Signifikansi
a) Perpustakaan seperti PNRI, PDII, universitas serta perpustakaan lainnya memiliki SDM yang berkualitas dengan keahlian yang bersifat khusus, namun belum ada database khusus berisi informasi kepakaran mereka sehingga belum banyak yang menyadari pentingnya keahlian di bidang ini dan manfaatnya bagi banyak pihak.
b) Beberapa pihak sudah mengembangkan database pakar untuk peneliti dan pengajar di Indonesia namun hasilnya belum maksimal. Apalagi model database pakar yang sesuai untuk bidang LIS di Indonesia belum ada sehingga diperlukan inisiatif pengembangan untuk dapat dijadikan contoh bagi pengembangan di perpustakaan tingkat lokal maupun nasional.
c) Makalah yang membahas mengenai database pakar di Indonesia belum banyak, sedangkan makalah database pakar khusus bidang LIS belum ada.

Pembahasan
Pengembangan sebuah sistem memerlukan desain dan analisis yang tepat sehingga sistem tersebut dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dan sesuai dengan kebutuhan. Salah satu pendekatan dalam desain dan analisis sistem adalah metode system development life cylce (SDLC). SDLC terdiri dari beberapa tahapan yaitu investigasi, analisis, desain, implementasi, dan perawatan sistem. Tahapan investigasi sistem merupakan tahapan pertama dalam perencanaan sistem. Tahapan ini berfungsi untuk melihat apakah sistem sesuai dengan bisnis utama dan kebutuhan organisasi. Dalam tahap ini kebutuhan pengguna, kebutuhan biaya, teknologi, SDM, dan aspek legal/politik ditentukan dengan menggunakan studi kelayakan. Studi kelayakan yang pertama adalah kelayakan operasional yang mengkaji apakah sistem yang akan dikembangkan mendukung bisnis utama organisasi, menyelesaikan permasalahan yang ada, dan sesuai dengan struktur organisasi (O’Brien 2008; Davis & Shaw 2011).

PDII LIPI dan PNRI merupakan lembaga terdepan dalam bidang LIS di Indonesia. Bisnis utama PDII dan PNRI adalah menyediakan informasi untuk masyarakat luas. Salah satu komponen penting dalam kesuksesan bisnis tersebut adalah adanya SDM yang berkualitas di bidang LIS. Siapa saja yang disebut profesional dan ilmuwan bidang LIS telah lama menjadi perdebatan. Hal ini disebabkan informasi bersifat komplek dan multidimensional sehingga ilmu informasi dan perpustakaan tidak berdiri sendiri tetapi adalah ilmu interdisiplin yang merupakan turunan dan terkait dengan ilmu lain seperti matematika, linguistik, ilmu dan teknik komputer, ilmu perpustakaan, manajemen, dll. Secara umum ilmu informasi meliputi 5 area yaitu koleksi dan penyimpanan, klasifikasi dan kontrol, akses untuk temu kembali, komunikasi, dan evaluasi informasi (Norton 2010; Bawden & Robinson 2012).

Berdasarkan definisi di atas dapat dijabarkan bahwa profesi di bidang ilmu informasi, khususnya LIS, terdiri dari banyak keahlian seperti pustakawan, ahli komputer, ahli bahasa, dll. Royal School of Library and Information Science Denmark mengidentifikasi beberapa peran profesional dalam bidang LIS antara lain pustakawan, pustakawan riset, spesialis subyek (subject specialist), spesialis informasi (information specialist), arsiparis, manajer informasi, dll (Royal School of Library and Information Science 2012).

PDII memiliki SDM dengan beragam peran di bidang LIS. Mereka terdiri dari pustakawan, peneliti, pemrogram komputer, dll dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu sebagai spesialisasinya seperti biologi, kimia, hukum, dll. Dengan beragam peran tersebut, SDM di PDII terbukti mampu mengembangkan berbagai produk layanan seperti Paket Informasi Teknologi Industri (PITI), Seri Panduan Usaha, Analisis Paten, Kemasan Informasi, Pohon Industri, dll. Di era teknologi informasi, selain SIDIK, PDII juga mengembangkan Database Jurnal Ilmiah Indonesia (Indonesian Scientific Journal Databases / ISJD) yang menyajikan data jurnal ilmiah di Indonesia dilengkapi dengan sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Support System / DSS Jurnal Ilmiah Indonesia). Beragam jasa informasi ini merupakan bukti kemampuan SDM PDII dalam berinovasi merespon kebutuhan lingkungan mulai dari kondisi krisis ekonomi sampai era digitalisasi (Yaniasih et al. 2012). PNRI sendiri merupakan otoritas tertinggi dalam pembinaan perpustakaan dan pustakawan di seluruh Indonesia. Lembaga ini memiliki tanggung jawab besar dalam meningkatkan profesionalisme pustakawan dan kebermanfaatannya bagi masyarakat luas.

Salah satu masalah berkaitan dengan pakar bidang LIS di perpustakaan adalah ketidaktahuan masyarakat terhadap keahlian profesi ini. Sebagai contoh adalah posisi spesialis subyek di PDII LIPI. Spesialis subyek memiliki beberapa istilah lain yang tugas pekerjaanya hampir sama yaitu subject librarian, liaison librarian, information librarian, information specialist or liaison librarian (Brewerton 2011). Profesi ini memiliki tugas lebih spesifik dibandingkan pustakawan pada umumnya dan membutuhkan keahlian dan pengetahuan tertentu untuk mendukung tercapainya tujuan riset, akademik, atau bisnis (Auckland 2012). Saat ini belum banyak pustakawan atau spesialis subyek di PDII yang berhubungan dan terlibat dengan peneliti dalam kegiatan penelitian. Salah satu sebabnya adalah peneliti tidak mengetahui bahwa di PDII ada orang dengan kemampuan tertentu yang akan sangat membantu untuk meningkatkan kualitas riset mereka. Ketidaktahuan ini salah satunya disebabkan kurangnya promosi kemampuan pustakawan, dan juga profesional lain di PDII serta perpustakaan lain pada umumnya (Yaniasih et al. 2012).

Keberadaan pustakawan, spesialisasi subyek, serta profesional lain di perpustakaan perlu dipromosikan ke masyarakat luas, salah satunya dengan mengembangkan database kepakaran mereka. Beberapa perpustakaan di beberapa negara sudah mengembangkan database khusus untuk pustakawan subyek atau subyek spesialis seperti di Yale University Library, Claremont College Library, dan Arizona State University Library. Database ini berupa direktori yang dapat diakses secara online yang bertujuan untuk memudahkan pemustaka menghubungi pustakawan sesuai dengan spesialisasi disiplin ilmu yang dibutuhkan. Halaman website yang menampilkan contoh database ini dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.

Manfaat database pakar bidang LIS ini tidak hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, namun lebih jauh lagi memiliki manfaat besar bagi eksistensi lembaga dan pengembangan karir individu pakar tersebut. Bagi lembaga, misal perpustakaan atau PDII, ketika keahlian SDM-nya dipublikasikan secara luas, pemustaka baik peneliti, mahasiswa, atau masyarakat luas akan mengetahui bahwa lembaga tersebut didukung oleh banyak ahli sehingga prestise, kredibilitas, dan kepercayaan masyarakat akan meningkat. Hal ini akan berdampak pada persepsi masyarakat terhadap perpustakaan yang semakin kurang populer di era teknologi informasi ini kembali meningkat, bahwa perpustakaan adalah sumber informasi yang lebih baik dibandingkan internet. Dampak lebih lanjutnya adalah pengunjung, pembaca, dan pengguna jasa perpustakaan akan semakin meningkat. Bagi profesional yang bekerja di perpustakaan, ketika keahlian dan biodata mereka dapat diakses publik, berbagai manfaat akan mengikuti terkait dengan pengembangan karir mereka seperti sebagai konsultan, pembicara, kerjasama penelitian atau proyek, dll.

 

 

Direktori pustakawan yang dikembangkan di luar negeri hanya fokus pada pustakawan spesialis, sedangkan pangkalan data pustakawan di website PNRI hanya menampilkan data fungsional pustakawan. Terkait dengan tujuan pengembangan database pakar bidang LIS adalah untuk promosi keahlian dan untuk menarik kerjasama dan inovasi di bidang LIS, maka database yang dikembangkan harus menonjolkan keahlian selain biodata. Data yang ditampilkan dalam database ini minimal terdiri dari nama, alamat kantor, no kontak (telepon, seluler, email, akun sosial media), klaim keahlian, publikasi, proyek yang pernah dikerjakan produk yang dihasilkan, prestasi, latar belakang pendidikan, pelatihan, dan data dukung lainnya. Selain itu juga dapat dilakukan pemisahan dan pemetaan mengenai jenis profesi atau keahlian mereka seperti pustakawan umum, pustakawan referensi, spesialis subyek, spesialis informasi, peneliti bidang manajemen informasi, ahli komputer, dll.

Pengembangan database ini potensial untuk dikembangkan oleh PDII karena memiliki SDM yang beragam dan sudah dikenal keahliannya serta PDII memiliki pengalaman mengembangkan database peneliti SIDIK. PDII dapat mengembangkan database jenis ini sama seperti database peneliti SIDIK (Gambar 3). SIDIK menggunakan bahasa pemrograman PHP versi 5.2.3 atau sesudahnya dan database MySQL 5.0.0 atau sesudahnya (Riyanto et al., 2011). Kedua aplikasi tersebut bersifat open source sehingga dapat dimodifikasi untuk database pakar LIS. Pengembangan database oleh PDII nantinya dapat dijadikan pionir dalam pengembangan oleh perpustakaan lain di tingkat universitas atau lembaga serta ditingkat nasional oleh PNRI.

 

Kesimpulan
PDII dan khususnya perpustakaan riset maupun universitas yang mengalami permasalahan yang sama dimana pemustaka (peneliti) belum mengetahui adanya pustakawan spesialis subyek yang dapat terlibat dalam penelitian perlu melakukan promosi mengenai keahlian para pustakawannya. Masalah yang sama juga dialami oleh perpustakaan umum dimana pustakawan dan profesional lain di perpustakaan belum dikenal luas seperti halnya peneliti dan dosen. Oleh karena itu mengembangkan database pakar online yang berisi informasi pustakawan, spesialis subyek, peneliti informasi, dan ahli komputer di perpustakaan dapat menjadi sarana yang tepat sesuai dengan visi misi perpustakaan dan dapat mengatasi permaalahan tersebut. PDII LIPI dan PNRI dapat menjadi pionir mengembangkan database ini menggunakan program yang bersifat open source sehingga dapat dijadikan model dan ditiru oleh perpustakaan lainnya.

Referensi
Auckland M. 2012. Re- ¬ – skilling for Research. Retrieved from http://www.rluk.ac.uk/files/RLUK Re-skilling.pdf

Bawden D, Robinson L. 2012. Introduction to information science. London [GB]: Facet Publishing.

Bosch X. 2001. Spain launches database of biomedical researchers. The Lancet 358(9282):648.

Brewerton A. 2011. “… and any other duties deemed necessary?:” an analysis of subject librarian job descriptions. Sconul Focus 51:60–67.

Davis CH, Shaw D. 2011. Introduction to information science and technology. New Jersey [USA]: Information Today, Inc.

Diane DH. 1988. A System Of Cataloging Institutional Research Expertise Usi. Journal of the Society of Research Administrators 19(4):31–38.

D’Onofrio MG. 2009. The public CV database of Argentine researchers and the “CV-minimum” Latin-American model of standardization of CV information for R&D evaluation and policy-making. Research Evaluation 18(2):95–103. doi:10.3152/095820209X441763

National Research Council. 2005. CANADA’S NRC EXPERTISE DATABASE UPGRADED. Online Currents 20(4):6.

Norton MJ. 2010. Introductory Concepts in Information Science. New Jersey [USA]: Information Today, Inc.

O’Brien JA, Marakas G. 2008. Introduction to information system. New York [USA]: The McGraw-Hill Companies.

Riyanto S, Lukman, Subagyo H. 2011. Sistem Informasi Direktori Kepakaran Nasional Berbasis Web sebagai Sarana Knowledge Management. Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia (pp. 306–311).

Roy AS, Petter F, Griessinger D. 2010. EPPO database on diagnostic expertise: http://dc.eppo.org. EPPO Bulletin 40(1):127–130.

Royal School of Library and Information Science. 2012. Professional Aspects of Library and Information Science (LIS). Retrieved February 21, 2012, from www.iva.dk/bh/Core Concepts in LIS/articles a-z/profeisonal_aspects_of_lis.htm

Seljak T, Bošnjak A. 2006. Researchers’ bibliographies in COBISS.SI. Information Services and Use 26(4):303–308.

Watts G. 2008. National institute publishes directory of top researchers. BMJ: British Medical Journal (International Edition) 337(7673):777

Yaniasih, Mahmudi, Hartinah S, Lastiwi DT, Marzuki R. 2012. Involving Library in Research: Case Study of Research Library and Subject Librarian in Indonesian Institute of Sciences. International Conference& Workshop “Making you know” (18–19 October).

Yaniasih, Mahmudi, Lastiwi DT. 2012. Scientific Information for Supporting Industry and Entrepreneurship: Learning from Information Services at Center for Scientific Documentation and Information. International Seminar on Enhancing Grassroots Innovation Competitiveness for Poverty Alleviation (EGICPA) (16–18 October).