|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

27 Feb 2018

Seminar Nasional Literasi : Perpustakaan Masuk Dalam Rencana Prioritas Pembangunan Nasional Bappenas

Menteng, Jakarta - Pembangunan sektor sosial-budaya melalui peningkatan literasi masyarakat berkaitan erat dengan pembangunan sektor ekonomi. Karena itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai penting untuk membangkitkan kesadaran bersama bahwa literasi merupakan salah satu pokok masalah mendasar yang berpengaruh pada upaya meningkatkan kualitas hidup dan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Sekretasis Menteri PPN/Bappenas Gellwynn Daniel Hamzah Jusuf pada Seminar Nasional Literasi dan Pembangunan Sosial-Ekonomi yang diselenggarakan di kantor Kementerian PPN/ Bappenas, Jakarta, Selasa (27/2).

Kajian Ilmiah di Kanada berjudul Literacy, Numeracy and Labour Market Outcomes in Canada menunjukkan korelasi yang berbanding lurus, antara skor literasi dengan pendapatan rata-rata pekerja di Kanada. "Dokumen kajian ini menunjukkan bahwa skor literasi berbanding lurus dengan pendapatan rata-rata per tahun. Penduduk dengan skor literasi satu memiliki pendapatan rata- rata per tahun sebesar 35.000 USD," ujar Jusuf.

Untuk mewujudkan masyarakat berliterasi tinggi dan meningkatkan peran literasi dalam pembangunan sosial-ekonomi, menurut Jusuf, dibutuhkan peran perpustakaan. Perpustakaan dinilai sebagai institusi yang vital karena daya jangkauannya luas, mulai dari pelosok desa hingga tingkat nasional.

Karena peran perpustakaan yang sangat strategis, Bappenas mendorong perpustakaan menjadi pelopor gerakan literasi untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat. Pada 2015, Bappenas meluncurkan kebijakan transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kebijakan ini diperkuat melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2019, dengan menjadikan literasi untuk kesejahteraan sebagai salah satu kegiatan prioritas untuk mendukung prioritas nasional pembangunan manusia.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando sangat mengapresiasi langkah dari Bappenas untuk menjadikan pembangunan sosial budaya melalui literasi sebagai faktor yang mempengaruhi pembangunan sektor ekonomi. "Ini merupakan suatu langkah yang sangat maju dan mengapresiasi kebutuhan masyarakat. Insya Allah, jika Bappenas tahun ini dapat menetapkan perpustakaan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, terutama untuk literasi dan pembangunan sosial-ekonomi, maka saya rasa sebuah lompatan bisa kita capai dan tentu memberi harapan pada daerah-daerah terutama yang memiliki keterbatasan terhadap akses bacaaan," ucapnya.

Perpustakaan Nasional berkomitmen untuk mengubah paradigma perpustakaan yang dianggap sebagai gudang buku dan bertransformasi menjadi perpustakaan yang dapat memberdayakan masyarakat dengan pendekatan teknologi informasi. "Yang paling penting adalah bagaimana orang diyakinkan bahwa akan ada perubahan status sosial, keluar dari kesulitan dengan memiliki ilmu-ilmu tertentu yang sesuai dengan potensi yang ada," urainya.

Fakta di lapangan juga menunjukkan hal serupa. Direktur Program Perpuseru Erlyn Sulistyaningsih mengatakan bagaimana perpustakaan yang berperan memberikan layanan informasi dan pusat kegiatan masyarakat dapat memberikan dampak sosial ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ia mencontohkan mantan juru parkir yang sukses menjadi pengusaha ternak ayam dan katering setelah belajar di perpustakaan. Lalu, kisah sukses eks tenaga kerja wanita yang sukses mengembangkan usaha Keripik Herbal setelah mengambil ilmu dari perpustakaan.

Erlyn menegaskan bahwa perpustakaan sekarang bukan hanya gudang buku. "Mereka bertransformasi meningkatkan kemampuan masyarakat, sehingga dapat mengubah kualitas hidupnya menjadi lebih baik menuju kesejahteraan. Sepanjang lima tahun berkiprah, Perpuseru mengharapkan perluasan transformasi ini untuk memberikan dampak yang lebih luas," ujarnya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kesenjangan akses terhadap bahan bacaan di wilayah Indonesia yang luas. Ketersediaan bahan bacaaan di kota besar tentunya lebih baik dibandingkan daerah pelosok di Indonesia. Celah inilah yang coba diisi oleh para relawan yang tergabung dalam komunitas Pustaka Bergerak. Inisiator Pustaka Bergerak Nirwan Arsuka menceritakan bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang secara sukarela menggunakan dana pribadi untuk menghantarkan dan mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat di daerah terpencil.

Bagi komunitas Pustaka Bergerak, bangsa Indonesia yang malas membaca hanyalah sebuah mitos. "Dulu, gerakan ini kita sebut sebagai gerakan pemburu pembaca, setelah dua tahun berjalan, malah relawan yang diburu pembaca," tegasnya.

Sementara itu, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab menyoroti peran perpustakaan dalam merangkul generasi millenial yang merupakan generasi penerus bangsa. Menurutnya, aplikasi perpustakaan digital iPusnas dari Perpusnas merupakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan generasi millenial yang dekat dengan gawai. Walaupun banyak hal yang perlu diperbaiki, menurut Najwa, iPusnas merupakan platform yang sangat menarik bagi anak muda.

Reportase: Radhitya Purnama/Hanna Meinita



Diunggah oleh admin (2018-04-23 12:09:51)

Berita Lainnya

Berita - 05 Jun 2018


Perpusnas Pertahankan Predikat WTP