|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

09 May 2018

Bedah Buku “Sarinah”: Peranan Wanita dalam Perjuangan Kemerdekaan RI

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Buku “Sarinah” karya Bung Karno mengandung makna mendalam mengenai pemikiran sang proklamator terhadap peranan wanita. Pemberian judul buku “Sarinah” bukan sekadar bentuk ucapan terima kasih Bung Karno kepada inang pengasuhnya di kala kecil. Karena melalui buku ini, pembaca dapat memahami alur pikiran Bung Karno yang bersifat dialektis dan progresif radikal revolusioner; hasil perenungan Bung Karno dalam melawan kolonialisme; serta pemikirannya dalam perspektif filsafat ilmu.

Hal ini disampaikan pengajar pascasarjana di Universitas Indonesia, Hardjono, dalam bedah buku “Sarinah” yang diselenggarakan UPT Perpustaaan Proklamator Bung Karno di Gedung Auditorium Lantai 2, Gedung Fasililtas Layanan Perpustakaan Nasional RI di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Rabu (9/5).

Menurut Hardjono, untuk memahami buku “Sarinah” diperlukan tiga hal tersebut. “Tiga syarat ini harus dipenuhi untuk mendapatkan pemahaman substansi materil yang tertuang dalam buku tersebut,” jelasnya.

Pemilik gelar doktor ilmu filsafat dari Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menjelaskan, pengasuh Bung Karno digambarkan sebagai sosok yang mengajarkan sang proklamator untuk mencintai kaum kecil. Namun dalam buku “Sarinah”, Bung Karno menggambarkan peranan wanita secara luas dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Keyakinan Bung Karno bahwa peranan wanita sangatlah dibutuhkan untuk bersatu padu dengan kaum pria antara pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan di masyarakat, dan peranannya dalam satu gerakan revolusi. Bung Karno mengatakan bahwa revolusi akan gagal tanpa keterlibatan kaum wanita revolusioner,” urainya.

Pendiri Pondok Pesantren Al-Kamal, Jakarta, KGPH Soeryo Soedibyo Mangkoehadiningrat, menyatakan melalui buku “Sarinah”, terlihat bahwa Bung Karno sudah memiliki pemikiran peranan wanita dalam meraih kemerdekaan. “Jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan sudah sadar bahwa peranan wanita dalam perjuangan itu tidak bisa dinafikan. Baik wanita sebagai pendamping laki-laki dalam mengelola rumah tangga maupun sebagai pejuang revolusi nasional,” jelasnya.

Menurutnya, buku “Sarinah” memiliki dimensi luas karena mampu membaca situasi kondisi bangsa saat ini. Karena dalam buku tersebut, Bung Karno menulis agar tidak ada lagi eksploitasi manusia oleh manusia atau negara, terutama terhadap wanita. “Republik Indonesia harus kita anggap sebagai modal kita sekalian untuk meneruskan perjuangan kita sekalian, mengejar cita-cita kebangsaan kita yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peliharalah modal ini, belalah modal ini, dan pertahankanlah modal ini. Hal ini tertulis di halaman 273. Itu sedikit kutipan isi hati Bung Karno,” jelasnya.

Dalam sambutannya, Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengapresiasi bedah buku mengenai Sarinah yang dilakukan di perpustakaan. Menurutnya, perpustakan berfungsi menjadi tempat untuk memperdalam ilmu pengetahuan berdiskusi, dan menghasilkan karya ilmiah. “Kita berharap dengan bedah buku ini semakin menguatkan jati diri perempuan dan eksistensi Perpustakaan Nasional. Dan menggali potensi setiap individu,” pungkasnya.

Bedah buku “Sarinah” merupakan salah satu kegiatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-38 Perpustakaan Nasional.  

 Reportase: Hanna Meinita

 



Diunggah oleh admin (2018-05-09 18:34:27)

Berita Lainnya

Berita - 05 Jun 2018


Perpusnas Pertahankan Predikat WTP