|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

08 May 2018

Bedah Buku ‘Indonesia Merdeka’ : Kisah Hatta Berpolitik Melawan Kolonial  

 Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Den Haag tahun 1928 merupakan salah satu momen penting dalam sejarah kehidupan Mohammad Hatta. Kala itu, Hatta dituduh melakukan tindakan subversif terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Pengadilan internasional Den Haag, Belanda, menjadi saksi atas pembelaan (pledoi) dari Mohammad Hatta. Semua momen yang terungkap pada masa itu ditulis jelas oleh Sang Proklamator dalam bukunya ‘Indonesia Merdeka’ atau Indonesie Vrij.

Meutia Hatta, putri sang proklamator, mengatakan, bagaimana ayahnya memiliki prinsip keberanian, teguh, dan jujur. “Karakter seorang Hatta yang dominan terlihat,” imbuhnya saat menjadi salah satu narasumber bedah buku ‘Indonesie Vrij’ karya Mohammad Hatta di teater Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa, (8/5).

Ketika itu, Hatta yang berstatus mahasiswa bersama rekan-rekan seperjuangan ditangkap dan diadili karena melakukan aktifitas politik. Hatta melihat perlakuan pemerintahan kolonial Hindia Belanda tidak adil. Banyak rakyat yang ternista dan menderita. Ketidakadilan yang dilihat dan dirasakan Hatta tampak ketika anak-anak Belanda dengan mudah menerima pekerjaan setelah selesai dari pendidikannya, tapi tidak berlaku sama terhadap rakyat Indonesia.

“Membaca kembali ‘Indonesia Merdeka’ memberikan manfaat dalam merefleksikan diri tentang bagaimana keadaan kita saat ini sebagai bangsa dan negara,” ungkap Meutia Hatta.  

Senada dengan yang disampaikan Meutia Hatta, sejarawan dari Universitas Negeri Padang Mestika Zed mengatakan bahwa pemerintah saat ini harus kembali kepada akar sejarah negara Indonesia didirikan, yakni untuk untuk melindungi rakyat dan bukan membiarkannya. Negara hadir untuk mensejahterakan rakyat dan bukan mengambil dari rakyat. Negara ada untuk mencerdaskan kehidupan rakyat dan bukan membodohi rakyat, serta ikut bertanggung jawab terhadap urusan internasional.

Buku Indonesia Merdeka penting untuk dibaca, diketahui dan dimaknai kandungannya sebagai kompas (arah) kemana tujuan Indonesia didirikan. Mestika Zed berpendapat saat ini mayoritas pemimpin tidak lagi memikirkan urusan merdeka atau tidak merdeka. “Yang penting cari selamat sendiri-sendiri,” ujar Mestika.

Mestika Zed menanyakan apakah pemimpin bangsa saat ini telah menjalankan amanah konstitusi seperti yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa? Zed menyerahkan rakyat yang menjadi saksi sejarah saat ini. Zed menambahkan apabila masyarakat Indonesia sadar dan paham akar sejarahnya maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang berdaulat yang bebas dari belenggu kolonialisme modern.

Bedah buku ‘Indonesia Merdeka’ merupakan bagian dari rangkaian acara Perpusnas Expo yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta memeriahkan HUT ke-38 Perpustakaan Nasional.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2018-05-09 13:24:18)

Berita Lainnya

Berita - 05 Jun 2018


Perpusnas Pertahankan Predikat WTP