Film Sejarah Tidak Hanya untuk Masa Lalu, Namun Investasi untuk Masa Depan
Jakarta - Perang Jawa, yang pecah pada 20 Juli 1825, bukan sekadar perlawanan fisik terhadap kolonialisme Belanda, melainkan sebuah gerakan multidimensional yang mencerminkan keteguhan jiwa, kecerdasan strategis, dan spiritualitas Pangeran Diponegoro serta para pengikutnya.
Demikian dikatakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar pada kegiatan Pemutaran dan Diskusi Film Bertajuk “Diponegoro Dalam Layar: Meneroka Jejak Sang Lentera Bangsa”, Selasa (22/7/2025).
“Pangeran Diponegoro, sebagai pemimpin spiritual, memadukan nilai-nilai Islam Jawa dengan kepemimpinan kharismatik, menciptakan gerakan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Adin juga menyampaikan bahwa di balik kebesaran Pangeran Diponegoro, hadir sosok perempuan yang menumbuhkan pemikiran dan mengukuhkan ideologi spiritualnya. Dialah Ratu Ageng Tegalrejo, nenek buyut yang mengasuh Sang Erucokro sejak kecil.
“Peran perempuan sering kali terlupakan dalam narasi sejarah kolonial yang didominasi oleh tokoh-tokoh laki-laki. Padahal, tanpa dukungan dan kecerdikan mereka di balik layar, perlawanan terhadap Belanda mungkin tidak akan sekuat itu,” ungkapnya.
Film tentang Diponegoro dan Perang Jawa adalah medium literasi yang vital untuk memperkuat ingatan kolektif bangsa, menantang dominasi narasi kolonial melalui sudut pandang pribumi, dan menginspirasi aksi sosial dengan nilai-nilai kepahlawanan yang relevan hingga kini.
Seperti film berjudul Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa yang digarap oleh Produser Metro TV, Mas’ad Taharani tidak hanya memaparkan peristiwa Perang Jawa (1825-1830), tetapi juga bagaimana sosok Sang Pangeran terus hidup dalam ingatan masyarakat.
“Film dokumenter ini hadir untuk mengingatkan pada publik tentang siapa sosok Diponegoro dan Perang Jawa. Ini penting karena sosok Diponegoro sendiri harus selalu diingatkan terus kepada generasi-generasi sesudahnya,” jelasnya.
Tidak hanya menceritakan tentang Diponegoro, film lainnya yang berjudul Ratu Tegalrejo, Perempuan yang Tersamarkan Sejarah yang dikerjakan oleh Produser Kompas TV, Julia Nur Rochmah justru mengangkat kisah perempuan yang berada di sekitar Sang Pangeran.
“Kerap kali pahlawan-pahlawan perempuan ini hanya disebut atau dikenal sebagai objek penyerta suaminya tanpa kita tahu bahwa sebenarnya mereka itu punya sisi-sisi kemerdekaannya sendiri,” katanya.
Selain itu, ada juga film animasi Diponegoro 1830 hasil pekerjaan Sutradara Film, Subiyanto yang berkisah tentang perjalanan hidup Pangeran Diponegoro (1785-1855) setelah penangkapannya di Magelang pada Ahad, 28 Maret 1830.
“Film ini awalnya diperuntukkan untuk Museum Sejarah Jakarta karena yang datang ke sana banyak dari remaja, anak-anak, bahkan sampai orang dewasa. Jadi animasi adalah pilihan untuk bisa menjadikan audiens menjadi satu,” terangnya.
Ketiga produksi film ini mengalami tantangan yang sama yakni dalam hal visualisasi. Banyak cara yang sudah ditempuh untuk akhirnya film-film tersebut selesai diproduksi antara lain melalui riset visual seperti pameran hingga riset literatur berdasarkan manuskrip yang ada.
Reporter: Basma Sartika
Dokumentasi: Aditya Irfan Fakhruddin dan Andri Tri Kurnia






