40 Tahun Susilawati Susmono Berkarya, 162 Judul Bukunya Tersimpan di Perpusnas
Jakarta — Humas Perpusnas. Sebanyak 162 judul karya Susilawati Susmono saat ini disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Keberadaan karya tersebut menjadi bagian dari jejak perjalanan empat dekade Susilawati Susmono dalam menghasilkan 8.110 karya di berbagai bidang. Karya tersebut dihadirkan dalam Peluncuran Buku Buah Pemikiran Susilawati Susmono: 40 Tahun Berkarya melalui 8.110 Karya di ISAQ™ Center dan ISAQ™ Gallery, Rabu (16/9/2026), di Auditorium Sukarman, Perpusnas, Jakarta.
Buku yang ditulis Elisa Anggraeni bersama 15 orang tim penyusun tersebut diluncurkan dengan mengangkat tema “Bara Kehidupan Sang Arsitek Peradaban Menolak Padam di Tengah Arus Zaman”.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Menurutnya, peluncuran buku ini bukan sekadar perayaan atas jumlah karya. “Kita bisa menyaksikan transmisi sebuah perjalanan transfer knowledge yang sangat panjang dari sosok Susilawati Susmono, yang tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari laku, dari sujud, dan dari cinta,” ujarnya.
Ribuan karya tersebut menggambarkan keluasan bidang yang digeluti Susilawati Susmono. Karya-karya tersebut mencakup buku dan sastra, lagu yang dilantunkan, tari yang digerakkan, lukisan yang ditorehkan, hingga museum yang dirancang.
Suharyanto mengatakan, peluncuran buku tersebut memiliki keterkaitan dengan rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September. Ia menegaskan bahwa kehadiran kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai fungsi perpustakaan. “Perpustakaan bukanlah etalase yang hanya memajang buku. Perpustakaan adalah ruang peradaban, ruang ilmu, ruang pengetahuan, tempat di mana pengetahuan tidak hanya disimpan tetapi dihidupkan,” tegasnya.
Sebagai rumah peradaban, Perpusnas terus berupaya merawat dan mendayagunakan kekayaan pengetahuan yang dimilikinya. Kini, Perpusnas merawat sekitar 3,6 juta judul koleksi dengan jumlah sekitar 9,8 juta eksemplar. Perpusnas juga menyimpan dan merawat sekitar 13 ribu naskah Nusantara serta terus melakukan upaya perbaikan dalam pengelolaan, layanan, dan penyebarluasan informasi mengenai naskah tersebut.
Dalam merawat ratusan judul karya Susilawati Susmono di Perpusnas, Suharyanto menyatakan bahwa Perpusnas bangga menjadi bagian kecil dari perjalanan besar hari ini. Ia berharap warisan intelektual yang terangkum dalam buku tersebut dapat terus dibaca dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Biarkan ini menjadi pemantik. Biarkan dia menginspirasi akademisi, peneliti, budayawan, seniman dan juga anak-anak muda kita,” pesannya.
Kesan terhadap Perpusnas turut disampaikan Ustaz Ahmad Al Habsyi yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku baru pertama kali berkunjung dan tertarik dengan gedung serta fasilitas yang tersedia. “Ini baru pertama kali. Nyesel kenapa enggak dari dulu,” ucapnya.
Melihat berbagai fasilitas yang dimiliki Perpusnas, ia menyampaikan gagasan untuk mengembangkan kolaborasi dalam kegiatan literasi dan edukasi, seperti bedah buku, menayangkan tontonan bersama, dan pelatihan. Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih sering datang dan memanfaatkan ruang-ruang yang tersedia di Perpusnas.
“Semua kutu itu berbahaya, lho! Kecuali kutu buku. Makanya kalau ingin makin luas wawasannya, sering-sering main ke sini. Banyak hal yang bisa kita temukan,” ajaknya.
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Al Habsyi juga memberikan apresiasi terhadap perjalanan Susilawati Susmono. Mengutip sebuah nasihat, tambahnya, yang menggambarkan bahwa seseorang akan dikenang melalui cerita dan jejak yang ditinggalkannya. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AIF)
Galeri









