AI or Die: Perpustakaan Digital Harus Bertransformasi di Era Kecerdasan Buatan

Gallery image

AI or Die: Perpustakaan Digital Harus Bertransformasi di Era Kecerdasan Buatan

Jakarta - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan pentingnya transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam webinar bertajuk “AI or Die: The Digital Library Unlock AI Knowledge Anytime Anywhere” yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Informasi Perpusnas RI bekerja sama dengan Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) pada Jumat 22 Mei 2026. 

 

Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-46 Perpusnas RI diikuti oleh pustakawan, pengelola perpustakaan dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Webinar menghadirkan dua narasumber, yakni perangkat lunak dan teknologi open source Dr. Blasius L. Dewanto serta praktisi teknologi Ir. Alexander Ludi Epifaniyanto, MBA.

 

Kepala Pusat Data dan Informasi Perpusnas RI, Wiratna Tritawirasta, S.Kom., M.P., dalam laporannya menyampaikan bahwa perkembangan AI telah membawa perubahan signifikan di berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. Menurutnya, pustakawan sebagai garda terdepan pengelolaan informasi dituntut untuk selalu meningkatkan kompetensi agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. 

 

Webinar dibuka secara resmi oleh Sekretaris Utama Perpusnas RI, Dr. Drs. Joko Santoso., M.Hum, menegaskan bahwa perkembangan AI menjadi momentum penting bagi perpustakaan untuk bertransformasi menjadi smart library yang adaptif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pemustaka. Menurutnya AI dapat mendukung pengelolaan pengetahuan, personalisasi layanan, hingga peningkatan kualitas temu kembali informasi. 

 

Pada sesi utama, Dr. Blasius L. Dewanto menjelaskan bahwa istilah “AI or Die” bukan dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai peringatan bahwa organisasi yang tidak mengikuti perkembangan AI berisiko mengalami disrupsi, kehilangan relevansi, bahkan ditinggalkan. 

 

Menurut beliau, perkembangan AI saat ini telah memasuki era AI Agent, yaitu sistem cerdas yang mampu memahami tujuan pengguna dan menjalankan berbagai tugas secara mandiri. Ia mengibaratkan AI Agent seperti “Jarvis”, asisten virtual dalam film Iron Man, yang dapat membantu pengguna mengakses informasi, menjalankan proses kerja, hingga berinteraksi dengan berbagai sistem digital. AI berpotensi meningkatkan layanan perpustakaan digital melalui pencarian informasi yang lebih cerdas, rekomendasi koleksi yang personal, serta pengelolaan pengetahuan yang lebih efektif. 

 

Sementara itu, Ir. Alexander Ludi Epifaniyanto, MBA. menekankan pentingnya membangun ekosistem inovasi AI yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas. Ia memaparkan berbagai program pengembangan talenta digital, inkubasi startup, pendampingan inovasi, hingga akses pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong lahirnya solusi berbasis AI di berbagai sektor termasuk perpustakaan. 

 

Melalui kegiatan ini, Perpusnas RI berharap pemanfaatan AI tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan perpustakaan, tetapi juga membuka peluang inovasi yang lebih luas dalam penyediaan akses pengetahuan bagi masyarakat di era digital. 

Galeri