Perpusnas Dorong Perpustakaan Sekolah Rakyat Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak
Jakarta — Humas Perpusnas. Perpustakaan di Sekolah Rakyat tidak hanya ditujukan sebagai ruang untuk membaca, tetapi juga diharapkan menjadi ruang belajar kontekstual, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik.
“Perpustakaan itu menjadi ruang terbuka dalam kerangka membangun belajar kontekstual, tidak hanya tekstual. Perpustakaan juga menjadi ruang berbagi pengetahuan bersama antara anak-anak didik kita di Sekolah Rakyat,” tutur Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, perpustakaan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, informasi, pelestarian, dan rekreasi masyarakat. Peran tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.
Adin juga menekankan pentingnya pengelola perpustakaan yang kompeten, terlebih dengan adanya regulasi baru yang menempatkan pengelola perpustakaan sebagai salah satu tenaga kependidikan. “Peraturan baru ini menjadi bagian yang sangat penting bahwa peranan pengelola perpustakaan di satuan pendidikan itu sangat berperan penting,” jelasnya.
Dalam lingkup Sekolah Rakyat, ia berharap perpustakaan dapat memperkuat akses peserta didik terhadap informasi dan pengetahuan. Proses tersebut tidak berhenti pada kemampuan mengakses informasi, tetapi dilanjutkan dengan memahami, menerapkan, mengevaluasi, hingga menciptakan karya secara kreatif dan inovatif.
“Penguatan budaya baca dan kecakapan literasi turut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penguasaan pengetahuan akan mendorong seseorang menjadi lebih produktif, kreatif, dan inovatif sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan, khususnya bagi anak-anak dari kelompok sosial ekonomi yang memiliki keterbatasan akses,” ungkapnya.
Peran perpustakaan sebagai ruang tumbuh kreativitas mulai terlihat melalui Gerakan Literasi Sekolah Rakyat yang diinisiasi Perpusnas bersama guru dan tenaga pengelola perpustakaan. Hingga 2026, gerakan tersebut telah dilaksanakan di 150 Sekolah Rakyat dan melibatkan 224 perpustakaan. Sebanyak 155 Sahabat Literasi dan Tim Literasi Sekolah Rakyat juga telah terbentuk.
Dari gerakan tersebut, peserta didik telah menghasilkan 164 alih wahana buku, termasuk pengembangan cerita menjadi animasi berbasis kecerdasan artifisial (AI), 1.178 cerita pendek, serta 34 video penampilan bertutur. “Melalui Gerakan literasi ini terlihat betul bahwa upaya kita dalam membangun kreativitas anak telah menunjukkan arah yang sangat positif,” ungkapnya.
Tak lupa, ia pun mengapresiasi para guru dan tenaga pengelola perpustakaan Sekolah Rakyat yang telah berperan dalam menggerakkan literasi di lingkungan sekolah. “Harapan kami ke depan, hasil-hasil karya ini akan juga didalami melalui coaching, agar cerita-cerita pendek yang telah dihasilkan anak-anak kita bisa dieksplorasi lebih jauh lagi sehingga dapat dibuatkan dalam bentuk produk buku sebagai karya intelektual mereka,” ujarnya
Untuk memastikan perpustakaan Sekolah Rakyat mampu menjalankan peran tersebut, Perpusnas bersama Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat kapasitas pengelolanya. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Layanan Perpustakaan bagi Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Tahun 2026 ini.
Pelatihan yang diikuti 120 peserta dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya menggunakan metode blended learning selama 10 hari, 5–16 Oktober 2026. Pembelajaran daring berlangsung pada 5–9 Oktober, kemudian dilanjutkan secara luring pada 12–16 Oktober 2026 di Yogyakarta.
Kurikulum pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan kompetensi pengelola perpustakaan dengan total 50 jam pelajaran. Tenaga pengajar berasal dari pejabat fungsional pustakawan dan widyaiswara Perpusnas serta pustakawan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. *** (AKN/Ed: BS/Dok: PA)
Galeri









