Di Perpusnas, Gilang Ramadhan Bahas Sawah Rhythm dan Harapan untuk Generasi Muda

Gallery image

Di Perpusnas, Gilang Ramadhan Bahas Sawah Rhythm dan Harapan untuk Generasi Muda

Jakarta – Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengembangkan Human Library. Gagasan baru tersebut untuk menghadirkan pengetahuan melalui pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Human Library diperkenalkan dalam Kelas Literasi Budaya Nusantara #3: Musik Tradisional Sawah Rhythm yang menghadirkan Gilang Ramadhan untuk berbagi pengalaman selama 30 tahun berkesenian.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto,  menyampaikan, Perpusnas tidak hanya berperan dalam menyimpan dan menyediakan koleksi, tetapi juga dapat menjadi ruang hidup, kreativitas, dan inovasi. Melalui Human Library, pengalaman seseorang dapat menjadi sumber pengetahuan yang dibagikan dan didiskusikan bersama masyarakat.

“Perpustakaan Nasional tidak hanya sebagai jajaran koleksi, tetapi sebagai ruang hidup, ruang kreativitas,” ujarnya pada Jumat (2/10/2026).

Menurut Suharyanto, pengalaman seseorang dapat menjadi sumber pengetahuan yang dibagikan dan didiskusikan bersama masyarakat melalui konsep Human Library. Hal tersebut sejalan dengan upaya Perpusnas memperluas ruang interaksi antara masyarakat, pengetahuan, serta pelaku seni dan budaya.

Dalam bidang musik tradisional, Perpusnas mempunyai koleksi tentang musik tradisional sebanyak 10.900, yang artinya seni tradisional hidup di Perpusnas. Perpusnas juga membuka kolaborasi dengan berbagai komunitas. Bukan hanya kementerian, lembaga, tapi membuka ruang bagi masyarakat untuk berkegiatan di Perpusnas. “Kami membuka sangat luas dan semuanya gratis, tidak berbayar,” lanjut Suharyanto.

Upaya pelestarian budaya juga dilakukan melalui berbagai kegiatan, di antaranya kelas gamelan dan kelas aksara. Promosi musik tradisional juga terus berjalan agar tetap dikenal dan hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, Suharyanto menambahkan, Perpusnas dikenal juga sebagai rumah peradaban. “Perpustakaan Nasional sebagai lumbung ilmu pengetahuan. Karena disinilah tersimpan 3,6 juta judul koleksi dan 9 juta eksemplar,” ungkapnya.

“Melalui Human Library, Perpusnas memperluas fungsi perpustakaan sebagai ruang bertemunya pengetahuan, pengalaman, dan masyarakat. Pengalaman para pelaku seni dan budaya dapat dibagikan secara langsung sehingga pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam koleksi, tetapi juga terus hidup melalui interaksi antarmanusia,” ulasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Gilang Ramadhan berbagi pengalaman mengenai perjalanannya mengenali dan mencatat berbagai ritme musik tradisional Nusantara. Musisi dan drummer tersebut telah mencatat sekitar 100 ritme dari berbagai daerah dan mendigitalisasikannya.

Gilang juga menggabungkan musik modern dengan berbagai alat musik tradisional Indonesia, seperti kendang, tifa, dan rebana. Ketertarikannya terhadap beragam perkusi membawanya mengunjungi sejumlah daerah, dari Aceh hingga Papua. Dalam perjalanannya, Gilang mencatat ritme yang ditemuinya dan mengumpulkannya dalam sebuah gagasan yang kemudian diberi nama Sawah Rhythm.

Gilang mengatakan, nama Sawah Rhythm dipilih karena terdengar lebih menarik sekaligus merepresentasikan pengalamannya selama mengunjungi berbagai daerah di Indonesia. “Dan sawah identik dengan orang-orang Indonesia. Kalau belum makan nasi itu belum makan, sudah menjadi budayanya,” ungkapnya.

Meski telah mencatat sekitar 100 ritme, Gilang menyebut kekayaan ritme musik tradisional Indonesia jauh lebih besar dan jumlahnya sulit dipastikan. “Ribuan. Karena memang ketukan setiap daerah berbeda. Bahkan di Papua, beda desa sudah beda ketukan,” jelasnya.

Keberagaman tersebut, menunjukkan bahwa kekayaan musik tradisional Indonesia masih sangat luas untuk dikenali, dicatat, dan dikembangkan. Namun Gilang mengaku khawatir Sawah Rhythm hanya berhenti sebagai catatan yang kemudian disimpan di museum. Baginya, pencatatan berbagai ritme musik tradisional tidak cukup jika tidak terus dimainkan dan dikembangkan.

“Yang saya inginkan adalah bergairah, dimainkan, diciptakan, memberikan inspirasi bagi anak-anak muda supaya bisa berkreasi dengan catatan Sawah Rhythm,” ujarnya.

Ia berharap catatan ritme yang telah dikumpulkannya dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menciptakan karya baru sekaligus menjaga musik tradisional tetap hidup.   ***(FM/ ed:DRS/ Dok: AA) 

Galeri