Perpusnas Perkuat Peran Pelatih Ahli dalam Program TPBIS 2026

Gallery image

Perpusnas Perkuat Peran Pelatih Ahli dalam Program TPBIS 2026

Jakarta - Humas Perpusnas. Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) merupakan salah satu program unggulan yang dimiliki Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).  

Sejak digulirkan pada 2019, TPBIS terbukti mampu memberikan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Peran para pelatih ahli sebagai pendamping kekuatan pelaksanaan TPBIS tidak boleh diabaikan.

“Pembekalan pelatih ahli program TPBIS merupakan bagian dari upaya Perpusnas dalam memperkuat kesiapan dan kapasitas sumber daya manusia,” ucap Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpusnas Nani Suryani mengawali Pembekalan Pelatih Ahli TPBIS yang diadakan secara daring, Rabu, (22/04/2026).

Keberhasilan program TPBIS tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan maupun sarana dan prasarana yang dimiliki perpustakaan tapi juga didukung oleh keterlibatan para pelatih ahli sebagai fasilitator yang memberikan pemahaman dan pembelajaran kepada pengelola perpustakaan.

TPBIS sejauh ini telah menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang pemberdayaan bagi masyarakat.

“Para pelatih ahli tidak hanya diajarkan mengenai strategi komunikasi, tapi juga cara melakukan komunikasi secara efektif dan sesuai kontekstual,” tambah Nani

Ya, komunikasi yang efektif sangat menentukan sejauh mana pesan program tersampaikan dan dipahami dengan baik. Lewat penyampaian pesan yang efektif masyarakat bisa mengerti peran perpustakaan mewujudkan masyarakat pembelajar. Lewat komunikasi yang efektif, semua pihak akan menyadari pentingnya kecakapan literasi sebagai faktor kesuksesan pembangunan.

“Oleh karena itu, penting bagi para pelatih ahli untuk memahami konteks literasi tidak terbatas pada kemampuan baca-tulis melainkan kemampuan berpikir holistik,” tegas Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar.

Program TPBIS, tambah Adin, berkontribusi pada pencapaian misi Asta Cita Pembangunan Nasional 2025-2029, utamanya dalam aspek peningkatan kualitas SDM lewat penyediaan dan pemerataan akses pengetahuan, pemberdayaan kelompok masyarakat melalui pelatihan dan keterampilan kerja berbasis kebutuhan, serta penguatan kebudayaan dan karakter bangsa yang ditopang budaya baca dan literasi.

Di samping itu, program ini merupakan bagian dari agenda prioritas nasional yang bertujuan memperkuat peran perpustakaan umum sebagai pusat pembelajaran masyarakat, sekaligus sebagai ruang untuk membaca, berpikir, dan berkreasi guna meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat

Saat ini Perpusnas telah menyediakan 236 orang pelatih ahli, 1384 fasilitator daerah kemudian 12.109 pengelola perpustakaan. Dan keberadaan TPBIS pun sedikitnya telah memberikan dampak manfaat bagi 13 juta masyarakat. Dari angka tersebut, kini tercipta simpul-simpul ekonomi baru. Artinya, peran seluruh ekosistem literasi, termasuk pelatih ahli dan pegiat literasi tidak bisa dikesampingkan

Melalui visi baru “Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa”, keberadaan perpustakaan tidak tersekat pada ruang koleksi tapi juga berdampak pada pengembangan kreativitas dan inovasi masyarakat sekaligus membantu kegalauan berpikir dalam proses menemukan kebenaran.  

“Apalagi di era post truth saat ini dimana amat memungkinkan terjadinya distorsi informasi,” ungkap Adin.

Sementara itu, aktivis literasi Syahnaz Haque dalam kesempatannya mengatakan hasil positif akan terlihat ketika pesan informasi yang disampaikan kemudian dipraktikkan dalam keseharian sehingga menjadi perubahan yang berdampak. 

“Seseorang dikatakan berilmu ketika pengetahuan yang diperolehnya kemudian dipraktikkan. Tapi prosesnya tidak instan, harus bersabar. Belum tentu seseorang langsung mempraktikkan pengetahuan yang diterimanya,” ujarnya.

Di dalam otak manusia ada yang disebut dengan Neuroplastisitas. Neoplastisitas ada dua jenis, ada yang elastisitas struktural dan plastisitas fungsional. “Elastisitas struktural terlihat apabila disampaikan hal yang baru, otomatis terbawa senang. Sedangkan plastisitas fungsional apabila dikasih tahu otaknya masih ngeyel.  Istilahnya tidak mau berubah,” tandasnya.*** (WM/HD, Ed: BS, Dok: AA)

Galeri