Dorong Jakarta Jadi Kota LIterasi Dunia, Perpusnas Tegaskan Peran Pustakawan sebagai Penggerak Literasi
Cikini, Jakarta—Upaya menjadikan Jakarta sebagai Kota Literasi Dunia tidak bisa lepas dari peran pustakawan sebagai penggerak literasi untuk kesejahteraan bangsa. Hal itu ditegaskan Sekretaris Utama (Sestama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso, dalam Talkshow Kepustakawanan pada kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi DKI Jakarta, di Aula Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2025).
Dalam gelar wicara tersebut, Sestama Perpusnas menekankan bahwa pustakawan tidak hanya menjaga koleksi, tetapi juga menggerakkan pengetahuan menjadi tindakan nyata yang relevan. “Transformasi pustakawan perlu diarahkan agar adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan pustakawan dalam melampaui peran tradisional dan tampil sebagai agen perubahan sosial. “Kami menawarkan konsep transformasi pustakawan, dari sekadar knowledge keeper menjadi change agent. Pustakawan perlu mendekonstruksi peran tradisionalnya agar mampu memberikan dampak sosial nyata melalui literasi kritis,” jelasnya.
Menurutnya, ada empat kompetensi utama yang harus diperkuat, yaitu kompetensi teknologi, pedagogi, manajerial, dan sosial-kultural. Keempatnya menjadi fondasi agar pustakawan tetap relevan dan tak tergantikan oleh kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Pria yang juga berkiprah sebagai Ketua Umum IPI ini menjelaskan bahwa penguatan ekosistem literasi perlu melibatkan berbagai unsur masyarakat. “Konsep kota literasi tidak hanya bertumpu pada perpustakaan, tetapi juga melibatkan pendidik, komunitas literasi, toko buku, taman bacaan, hingga keluarga. Semua elemen ini saling berkelindan untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan yang sejahtera,” sambungnya mengaitkan dengan tema diskusi “Pustakawan sebagai Agen Transformasi Perpustakaan Menuju Jakarta Kota Literasi Dunia.”
Literasi kritis juga di tengah banjir informasi digital dibahas olehnya. “Kita masih menghadapi kesenjangan literasi kritis. Tugas pustakawan adalah membantu masyarakat memahami dan memanfaatkan informasi secara bijak untuk pengambilan keputusan yang tepat,” tegasnya.
Selain Sestama Perpusnas, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber lain seperti Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, yang menyampaikan bahwa Jakarta sesungguhnya telah layak disebut Kota Literasi Dunia karena telah mengembangkan berbagai inisiatif literasi berskala internasional.
“Jakarta sudah menjadi kota literasi dunia dari sekarang. Wujudnya akan terlihat melalui pelaksanaan Jakarta International Literacy Festival bulan ini di TIM, yang menjadi bagian dari langkah menuju World Book Capital,” ungkapnya.
Nasruddin menambahkan bahwa literasi di Jakarta harus dikembangkan secara inklusif, menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok difabel dan masyarakat bawah. “Perpustakaan tidak boleh eksklusif hanya untuk kalangan terpelajar. Kita perlu memperluas akses dengan memanfaatkan teknologi dan kolaborasi lintas pihak agar seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas, dapat menikmati layanan literasi,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Perpustakaan Jakarta, Wien Muldian, memerhatikan urgensi keterlibatan keluarga dalam penguatan budaya literasi. “Tantangan terbesar literasi hari ini adalah bagaimana kita mengembangkannya dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Karena dari sanalah kemampuan literasi anak terbentuk sejak dini,” sebutnya.
Wien mengemukakan bahwa pustakawan perlu hadir lebih dekat dengan masyarakat dan komunitas, tidak hanya sebagai pengelola ruang baca, tetapi juga sebagai bagian aktif dari kehidupan sosial. “Pustakawan harus terlibat langsung dengan komunitasnya. Bukan sekadar mengatur ruang atau jadwal kegiatan, tapi menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Di situlah makna transformasi pustakawan,” paparnya.
Musda IPI DKI Jakarta 2025 ini tidak hanya menjadi ajang pemilihan pengurus baru untuk periode 2025–2030, tetapi juga forum strategis untuk menyusun arah kebijakan dan program kerja organisasi profesi pustakawan di wilayah DKI Jakarta. Selain itu, kegiatan ini turut menjadi wadah berbagi wawasan mengenai inovasi dan kebijakan literasi dalam mendukung terwujudnya Jakarta sebagai Kota Literasi Dunia.
Reporter: Alditta Khoirun Nisa
Dokumentasi: Aji Anwar
Galeri










