Kelas Literasi Sinema Jadi Ruang Promosi Dangdut Menuju UNESCO
Jakarta — Humas Perpusnas. Kelas Literasi Sinema yang akan digelar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 29 September 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan musik dangdut kepada masyarakat. Hal ini sekaligus menguatkan upaya Perpusnas dalam mengusulkan dangdut sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Persiapan kegiatan tersebut dimatangkan Perpusnas bersama Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (DPP PAMDI) dalam audiensi lanjutan di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menegaskan keseriusan dukungan Perpusnas terhadap upaya PAMDI membawa musik dangdut ke tingkat dunia. Menurutnya, dukungan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi kegiatan sekaligus pemanfaatan sumber literatur dan dokumentasi yang dimiliki Perpusnas.
“Perpusnas mendukung secara penuh musik dangdut sampai ke kelas dunia di UNESCO. Warisan budaya takbenda ini akan kami kawal,” tandasnya.
Ia menjelaskan, Kelas Literasi Sinema tidak semata-mata diarahkan sebagai kegiatan pemutaran atau bedah film. Film akan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah dan perkembangan musik dangdut. Diskusi dan penampilan musik menjadi bagian penting untuk memperkenalkan dangdut kepada masyarakat.
“Yang lebih kita tekankan adalah bagaimana ada diskusi mengenai dangdut sampai ke UNESCO. Karena itu menjadi bukti ketika nanti mengusulkan ke UNESCO bahwa ada kegiatan seperti ini di Perpusnas. Dan yang kedua, memang pentas dangdutnya yang harus kita perlihatkan kepada masyarakat,” tuturnya.
Melalui format tersebut, Perpusnas dan PAMDI membahas agar unsur sinema dan musik dangdut tetap berjalan beriringan. Penayangan film direncanakan sesuai tujuan dan durasi sehingga tersedia ruang untuk diskusi serta penampilan musik dangdut dari PAMDI.
Sejumlah judul film yang berkaitan dengan perjalanan musik dangdut dan karya Rhoma Irama turut menjadi bahan pembahasan. Dalam pertemuan tersebut, pilihan film mengerucut pada “Pengabdian”.
Kelas Literasi Sinema juga akan menghadirkan Ketua Umum PAMDI Rhoma Irama sebagai salah satu narasumber. PAMDI selanjutnya akan menyiapkan satu narasumber pendamping dan moderator, sedangkan Perpusnas memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan.
Pembahasan juga diarahkan agar diskusi dapat dipahami masyarakat umum dan tidak terbatas pada komunitas penggemar dangdut. Suharyanto menilai keterlibatan masyarakat di luar komunitas penting untuk memperluas pemahaman dan apresiasi terhadap musik dangdut. “Kalau masyarakat yang hadir berasal dari luar komunitas, mereka juga ingin tahu. Dengan begitu suasananya akan lebih hidup dan jaringan juga bertambah. Masyarakat luar bisa lebih tahu tentang dangdut,” jelas Suharyanto.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PAMDI, Cici Paramida, mengapresiasi dukungan Perpusnas terhadap upaya PAMDI memperkenalkan dangdut secara lebih luas. “Kami dari PAMDI sangat-sangat bersyukur dengan sambutan Perpusnas. Insyaallah tanggal 29 nanti kami akan hadir bersama Ketua Umum kami, Pak Rhoma Irama, yang merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia dangdut Indonesia dan internasional,” ungkapnya.
Cici menilai kolaborasi tersebut dapat menjadi ruang edukasi sekaligus apresiasi terhadap musik dangdut yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Kehadiran Perpusnas juga dinilai penting dalam memperkuat upaya dokumentasi dan literasi mengenai dangdut sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.
Kelas Literasi Sinema direncanakan diikuti sekitar 150 peserta yang berasal dari PAMDI, Perpusnas, dan masyarakat umum. Dalam persiapan kegiatan, kedua pihak juga membahas mekanisme dokumentasi dan siaran secara daring dengan tetap memperhatikan ketentuan hak cipta terkait pemutaran film. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AIF)
Galeri









