SIARAN PERS: Perpusnas Alihwahanakan Naskah Kuno Nusantara menjadi 50 Buku Anak dan Komik
Warisan dokumenter dalam bentuk naskah kuno Nusantara bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas, pengetahuan, dan dialog. Warisan tersebut membentuk cara masyarakat memahami diri mereka, bagaimana komunitas menafsirkan informasi, serta membayangkan masa depannya. Pada kegiatan Peluncuran Buku dan Gelar Wicara Alih Wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MoW), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menghadirkan kisah, pengetahuan, dan nilai-nilai yang tersimpan dalam naskah kuno dalam bentuk bacaan yang lebih dekat dengan dunia anak.
Jakarta, 23 September 2026 –Sejalan dengan semangat pelestarian warisan dokumenter UNESCO, inisiatif Perpusnas ini mendorong agar naskah warisan dokumenter tidak hanya dilestarikan, tetapi juga semakin mudah diakses melalui pendekatan yang kreatif dan menarik. Inisiatif tersebut mendapatkan dukungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan disponsori JIKJI Prize UNESCO 2024.
Sumber yang dialihwahanakan berasal dari sembilan kelompok naskah kuno Nusantara yang kemudian dikembangkan menjadi 50 karya. Sembilan kelompok sumber tersebut meliputi, Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Peto Syarif, Siksa Kandang Karesian, Sutasoma, Syekh Yusuf, Tuanku Imam Bonjol, dan Panji Kuda Semirang. Sebanyak 50 karya tersebut terdiri atas 38 buku anak bergambar, dua chapter book, dan 10 komik. Khusus Syekh Yusuf, sebanyak delapan judul.
Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa mengatakan, adaptasi naskah kuno Nusantara ke dalam buku anak dan komik memastikan bahwa warisan nasional terus menginspirasi dan mendidik generasi mendatang. “Saat ini, Perpusnas melanjutkan warisan tersebut dengan mentransformasikan catatan menjadi format yang lebih mudah diakses oleh generasi muda termasuk penerbitan 50 buku anak dan komik, serta 25 adaptasi Babad Diponegoro dalam Bahasa Inggris,” ucapnya, pada Rabu (23/09/2026).
Pada kesempatan itu, Maki menyampaikan apresiasi kepada Perpusnas, ITB, dan seluruh mitra yang terlibat. Menurutnya, dedikasi yang telah dituangkan semua pihak dalam proyek ini menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat mengubah warisan menjadi pengetahuan hidup yang dapat diakses oleh semua orang.
“Saat kita merayakan pencapaian ini, mari kita meneguhkan kembali komitmen bersama untuk menjaga warisan dokumenter. Bersama, kita dapat memastikan bahwa naskah, arsip, dan rekaman tetap menjadi sumber pembelajaran, kreativitas, dan dialog yang hidup bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz menyampaikan kolaborasi Perpusnas dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, merupakan ikhtiar nyata untuk mendekatkan kekayaan sejarah, budaya, serta kearifan lokal yang terkandung dalam naskah kuno kepada generasi masa kini.
“Tujuan penerbitan ini sangatlah jelas, bahwa kami ingin anak-anak di tanah air lebih mengenal jati diri dan sejarah bangsanya sendiri, sekaligus menjadikan karya ini sebagai jembatan untuk memperkenalkan mahakarya intelektual dan warisan Nusantara kita kepada dunia internasional,” ujarnya.
Aminudin menambahkan, proses alih wahana tidak melunturkan keaslian maupun nilai dari naskah kuno Nusantara. Sebaliknya, pendekatan kreatif tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai dalam naskah dengan cara yang jauh lebih menarik, komunikatif dan relevan dengan gaya generasi masa kini.
Menurutnya, upaya memperkenalkan naskah kuno melalui medium yang lebih akrab bagi anak, seperti buku bacaan dan komik, merupakan salah satu cara dalam membangun jembatan lintas generasi. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan minat dan kegemaran membaca sedari dini, sekaligus mengakar kuat menjadi kesadaran masyarakat dalam mencintai sejarah dan budaya bangsanya.
“Misalnya cerita Panji yang menjadi MoW UNESCO, dari situ banyak pelajaran yang bisa diambil. Dengan kata lain, kita fokus kepada penyediaan bahan bacaan anak karena kita ingin membangun kecakapan literasi anak-anak sejak dini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Aminudin menegaskan, pemanfaatan naskah kuno melalui alih wahana merupakan langkah nyata Perpusnas dalam merawat naskah kuno Nusantara. ”Bukan hanya sampai kepada mengidentifikasi, mendaftarkan, kemudian melakukan pelestarian dalam bentuk digitalisasi, tapi kita buatkan dalam langkah lanjutan yaitu memanfaatkan naskah itu untuk dibaca oleh lebih banyak orang,” tegasnya.
Dosen Institut Teknologi Bandung, Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW, Riama Maslan Sihombing, menegaskan bahwa naskah kuno Nusantara bukan sekadar benda lama yang disimpan, tetapi merekam cara masyarakat masa lalu memahami dunia, mulai dari kekuasaan, agama dan spiritualitas, keluarga, alam, pengetahuan, etika, dan kehidupan bersama yang dapat diakses dan dipahami oleh anak-anak pada masa kini.
Ia menjelaskan, penelusuran fisik, konservasi, digitalisasi, dan kajian terhadap naskah merupakan tahapan penting untuk menggerakkan warisan pengetahuan di dalamnya. “Naskah dapat tetap terjaga secara material, sementara hubungan generasi berikutnya dengan pengetahuan di dalamnya perlahan mungkin terputus. Bahasa dan aksaranya mungkin tidak lagi akrab, konteks sosialnya terasa berbeda, dan tokoh-tokohnya tidak selalu mudah dikenali oleh anak-anak hari ini,” ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Jasa Informasi dan Naskah Nusantara, Yeri Nurita, menekankan, kegiatan alih wahana ini bukan berarti mengurangi nilai dan keaslian naskah kuno. Justru sebaliknya, melalui pendekatan kreatif nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah kuno dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih menarik, komunikatif, dan sesuai dengan karakter generasi masa kini.
Ia mengungkapkan bahwa memperkenalkan naskah kuno melalui media yang lebih dekat dengan generasi muda dapat menjadi jembatan antargenerasi. "Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kegemaran membaca dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan budaya bangsa," pungkasnya.***
Galeri










