Perpusnas Hidupkan Naskah Kuno, Wariskan Pengetahuan untuk Generasi Masa Depan
Jakarta — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat upaya pelestarian dan pemanfaatan warisan dokumenter bangsa melalui rangkaian “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”. Upaya tersebut tidak berhenti pada penyelamatan dan digitalisasi naskah kuno, tetapi diarahkan agar pengetahuan yang tersimpan di dalamnya dapat kembali dibaca, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat lintas generasi.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, mengatakan naskah kuno merupakan catatan perjalanan peradaban yang telah bertahan selama ratusan tahun. Karena itu, pelestarian tidak cukup dilakukan melalui inventarisasi, konservasi, preservasi, dan digitalisasi.
Perpusnas juga melakukan alih aksara, alih bahasa, hingga alih wahana untuk membuka akses terhadap kandungan naskah bagi masyarakat yang lebih luas, termasuk mereka yang bukan peneliti maupun filolog.
“Bagaimana memanfaatkan naskah-naskah yang sudah dialihwahanakan, dialihaksarakan, dialihbahasakan, menjadi lebih mudah diakses dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang bukan peneliti, yang bukan filolog, yang bukan ahli filologi, tetapi ini dibuat menjadi bacaan-bacaan populer,” ujar Aminudin dalam Taklimat Media “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa” di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Perpusnas menghubungkan kembali warisan pengetahuan masa lalu dengan kehidupan masyarakat masa kini. Naskah yang sebelumnya membutuhkan kemampuan membaca aksara tertentu dapat dialihaksarakan ke aksara Latin, dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, kemudian dikembangkan menjadi format yang lebih dekat dengan pembaca.
“Ini adalah cara kita supaya karya-karya yang dibuat ratusan tahun yang lalu juga masih tetap bisa dibaca oleh anak-anak kekinian, masyarakat kekinian, tetapi dalam tekstur yang lain, yang menjadi bacaan populer,” kata Aminudin.
Sejak 2024, Perpusnas telah menerbitkan 125 komik dan bacaan anak berbasis naskah kuno, di samping ratusan hasil kajian alih aksara, alih bahasa, dan saduran naskah kuno.
Pada 2026, Perpusnas bekerja sama dengan Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (DKV ITB) menerbitkan 50 buku anak dan komik yang bersumber dari naskah kuno Nusantara. Buku-buku tersebut akan menjadi bagian dari penyediaan bahan bacaan bermutu bagi perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat (TBM), dan Sekolah Rakyat.
Seluruh karya juga dapat dibaca secara gratis melalui aplikasi iPusnas. Berdasarkan data Perpusnas, lebih dari 60 ribu pengguna iPusnas telah membaca karya-karya tersebut.
Perpusnas juga menerbitkan 25 komik dan buku anak seri Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris. Karya tersebut akan diluncurkan pada 23 September 2026 dengan memanfaatkan dana hadiah Jikji/Memory of the World Prize UNESCO.
Penerjemahan tersebut menjadi salah satu jalan untuk memperluas jangkauan khazanah Nusantara kepada masyarakat internasional. “Ini menjadi cara kami sebagai Perpustakaan Nasional untuk menjadikan naskah-naskah lama bisa diakses dan dimanfaatkan oleh manusia dunia, bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga orang luar,” ujar Aminudin.
Selain mendayagunakan koleksi yang telah dikelola lembaga, Perpusnas memberikan perhatian terhadap naskah-naskah kuno yang masih berada di tangan masyarakat. Menurut Aminudin, jumlah naskah yang disimpan masyarakat sangat besar. Cara penyimpanannya pun beragam. Sebagian naskah diwariskan secara turun-temurun dan diperlakukan sebagai pusaka, bahkan terdapat naskah yang hanya dibuka dalam tata cara tertentu.
Karena itu, Perpusnas memberikan bantuan teknis kepada masyarakat mengenai cara merawat dan melestarikan naskah. “Masyarakat itu memegang peran yang sangat-sangat penting di dalam proses preservasi ini. Karena begitu banyak naskah yang masih tetap dipegang oleh masyarakat,” katanya.
Peran masyarakat tersebut juga menjadi dasar penting dalam memberikan apresiasi kepada pemilik dan pegiat naskah yang secara konsisten menjaga warisan dokumenter. “Mereka itu bukan hanya merawat naskah, tetapi merawat peradaban,” tegas Aminudin.
Selain alih wahana, Perpusnas memperkuat Program Ingatan Kolektif Nasional (IKON) sebagai bentuk pengakuan terhadap warisan dokumenter yang memiliki nilai penting bagi sejarah, kebudayaan, dan peradaban Indonesia.
Hingga 2025, sebanyak 20 naskah kuno telah ditetapkan sebagai IKON. Beberapa di antaranya, seperti Hikayat Aceh, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, serta syair-syair Hamzah Fansuri, telah ditetapkan sebagai Memory of the World.
Pada 2026, sebanyak 11 warisan dokumenter ditetapkan sebagai IKON, yakni Karya-karya Syekh Abdus Somad al-Falimbani; Naskah-naskah dari Skriptorium Merapi-Merbabu; Karya-karya K.H. Ahmad Rifa’i; Warisan Berharga Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari; Syair Perang Siak; Lontara Pagatan, Catatan Sejarah Masyarakat Bugis di Kalimantan Selatan; Sestra Ageng Adidarma; Babad Besuki; Cerita Aji Saka; Hukum-Hukum Pelayaran Amanna Gappa; dan Sahakhi Bulan.
Perpusnas juga tengah mengusulkan Kidung Bhuwana Winasa dari Bali dan Bo Sangaji Kai dari Bima untuk Memory of the World Asia Pasifik 2026. Sementara Kakawin Sutasoma dan Karya-Karya Syekh Yusuf al-Makassari dipersiapkan untuk pengusulan Memory of the World Internasional pada 2027.
Aminudin menjelaskan terdapat jenjang pengakuan terhadap warisan dokumenter, mulai dari Ingatan Kolektif Nasional hingga tingkat regional Asia-Pasifik dan dunia. “Jadi ada tiga jenjang. Satu, untuk yang tadi IKON, Ingatan Kolektif Nasional; ada yang Asia-Pasifik; ada yang dunia,” ujarnya.
Penyerahan sertifikat IKON 2026 akan dilaksanakan pada 24 September 2026 di Perpusnas dan dirangkaikan dengan seminar bertema “Naskah, Ingatan, dan Kolektivitas Bangsa”.
Pada rangkaian kegiatan yang sama, Perpusnas menyelenggarakan Nugra Jasa Dharma Pustaloka kategori Pelestarian Naskah Kuno 2026 sebagai apresiasi negara kepada pihak-pihak yang berkontribusi dalam menjaga warisan dokumenter bangsa.
Penghargaan diberikan dalam lima kategori, yakni pemilik naskah perseorangan, pemilik naskah lembaga, pegiat naskah perseorangan, pegiat naskah lembaga, serta media pemerhati naskah kuno.
Pemilik dan pegiat naskah terpilih akan memperoleh sertifikat penghargaan dan uang pembinaan masing-masing sebesar Rp5 juta, sedangkan media pemerhati naskah kuno memperoleh sertifikat penghargaan.
Perpusnas juga memberikan Penghargaan Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik kepada dinas perpustakaan provinsi dan kabupaten/kota untuk mendorong semakin kuatnya peran pemerintah daerah dalam pelestarian dan pendayagunaan naskah kuno Nusantara.
Keseluruhan rangkaian tersebut menempatkan pelestarian naskah bukan semata sebagai pekerjaan menjaga peninggalan masa lalu. Bagi Perpusnas, warisan dokumenter perlu dihadirkan kembali sebagai pengetahuan yang dapat terus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ikhtiar yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional dalam merawat peradaban bangsa ini tidak boleh berhenti pada tahap pelestarian semata, tapi harus berujung pada kemanfaatan naskah-naskah itu, sehingga masyarakat betul-betul bisa menikmati, membaca, menemukan pengetahuannya, dan juga merefleksi perjalanan masa lalu untuk perjalanan ke depan,” pungkasnya. (AS/Ed:AS/KN)
Galeri








