Empat Peran Perpusnas dalam Literasi Kebencanaan
Jakarta — Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan komitmennya sebagai pusat literasi kebencanaan melalui empat peran. Keempat peran tersebut adalah penguatan koleksi, penyediaan fasilitas, layanan diseminasi, dan aksi penyelamatan koleksi terdampak bencana. Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan, Suharyanto, dalam Peluncuran Buku Rumah Jingga Tamalanrea dan Seminar Kebencanaan 40 Tahun Search and Rescue (SAR) Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1986–2026 di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Mengenai penguatan koleksi, ia mengatakan, Perpusnas memiliki kurang lebih 1.600 koleksi tentang kebencanaan. Jenis koleksi tersebut terdiri atas monograf, buku langka, naskah kuno Nusantara, peta, foto, surat kabar, majalah, dan berbagai jenis koleksi lainnya. Selain itu, melalui layanan ISBN, Perpusnas mengelola penerbitan buku tentang bencana. Data hingga Agustus 2026 mencatat terdapat 3.234 judul buku tentang bencana.
Terkait penyediaan fasilitas, Suharyanto menyebut, Perpusnas memiliki fasilitas ruangan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi, pameran, seminar, dan workshop tentang kebencanaan. “Perpusnas membuka ruang bagi komunitas, relawan, pemerintah, maupun pihak lainnya untuk bersama-sama membangun literasi kebencanaan. Karena pengetahuan akan menjadi lebih kuat ketika dibagikan dan didiskusikan bersama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan Deputi Bidang Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Moh. Barokna Haulah. Ia mendukung adanya keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam sistem pencarian dan pertolongan.
Selanjutnya, khusus layanan diseminasi, Perpusnas turut memastikan karya-karya mengenai kebencanaan terdokumentasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas. “Perpusnas sebagai layanan untuk diseminasi tentang kebencanaan melalui Layanan ISBN dan Karya Cetak Karya Rekam (KCKR),” tutur Suharyanto.
Ia juga menjelaskan peran Perpusnas terkait aksi langsung di lapangan. Dirinya menyebut bahwa Perpusnas juga terlibat dalam penyelamatan koleksi yang terdampak bencana di sejumlah daerah, antara lain Garut pada 2016, Jeneponto pada 2019, dan Aceh pada 2026. “Kami juga hadir untuk menyelamatkan pengetahuan yang terdampak, terutama dalam melakukan penanganan koleksi terdampak banjir melalui proses asesmen, pembersihan, dan penyelamatan bahan pustaka yang mengalami paparan air dan lumpur,” ucapnya.
Suharyanto menambahkan penguatan literasi kebencanaan merupakan bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang mampu menghadapi bencana. “Kami percaya, bencana tidak hanya dimitigasi dengan perahu karet dan peluit, tetapi dengan pengetahuan. Ketika masyarakat memiliki literasi kebencanaan yang kuat, maka mereka tidak lagi menjadi korban, melainkan menjadi penolong pertama,” jelasnya.
“Penguatan literasi kebencanaan tidak hanya dilakukan melalui penyediaan informasi, tetapi juga melalui pengelolaan, penyebarluasan, dan penyelamatan pengetahuan,” tandasnya.
Untuk itu, menurutnya, tema seminar “Antisipasi Kebencanaan Aktual dan Partisipasi Masyarakat dan Komunitas” relevan dengan peran Perpusnas sebagai rumah repositori sumber ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kebencanaan. Pengetahuan tersebut perlu terus didokumentasikan dan disebarluaskan agar dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat.
Komitmen terhadap literasi kebencanaan tersebut turut tercermin melalui peluncuran buku Rumah Jingga Tamalanrea. “Buku Rumah Jingga Tamalanrea ini bukan sekadar buku. Ia adalah jejak sejarah, merawat ingatan, merajut masa depan sebagai monumen literasi,” sebutnya.
Salah satu pendiri SAR UNHAS, Gener Wakulu, mengatakan buku tersebut diharapkan dapat menjadi legasi yang memberikan manfaat bagi generasi penerus. “Jadi kami harap ini ada legasi, ada manfaatnya, bukan hanya generasi penerus, tapi juga teman-teman sekalian,” pungkasnya.
Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 40 tahun SAR UNHAS. Suharyanto menyampaikan apresiasi atas perjalanan SAR UNHAS yang lahir pada 14 Juni 1986 dan menjadi bagian dari sejarah gerakan kerelawanan mahasiswa dalam kegiatan kemanusiaan dan kebencanaan di Indonesia. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AIF)
Galeri









