Perpusnas dan FTBM Jalin Kolaborasi Perkuat Literasi di Masyarakat
=
Jakarta - Humas Perpusnas. Kolaborasi antara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dengan para pegiat literasi yang tergabung dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) menjadi langkah untuk memperkuat budaya baca dan literasi. Kolaborasi ini membuka peluang keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar, mengatakan kolaborasi dengan berbagai pihak perlu dikembangkan untuk mendukung gerakan literasi. Karena gerakan literasi, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga tumbuh dari inisiatif masyarakat secara sukarela.
"TBM ini inisiatifnya dari masyarakat. Tersebar di 38 provinsi, para pegiat literasi di TBM bergerak tanpa adanya dana dari pemerintah dan sifatnya sukarela," katanya dalam Audiensi FTBM dengan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), Rabu (16/9/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa Perpusnas, dalam hal ini pemerintah, berperan sebagai pembina. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam mendorong penguatan budaya baca dan literasi.
Di sisi lain, pemerintah saat ini dihadapkan pada kebijakan efisiensi anggaran. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk sektor lain melalui program CSR, untuk mendukung penguatan budaya baca dan literasi.
"Memang diperlukan dukungan pemerintah melalui APBN maupun APBD, namun di tengah efisiensi, ini tidak mudah. Maka kami mendorong dan meminta dukungan CSR untuk mendukung program pemerintah, khususnya bidang literasi," lanjutnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) FTBM, Heni Wardatur, menyampaikan pihaknya akan menyelenggarakan Temu Pegiat TBM pada 6-8 November 2026 di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi ruang para pegiat TBM dari berbagai daerah untuk bertemu, berbagi pengalaman, sekaligus saling menguatkan.
“Selama ini kami banyak berkomunikasi melalui ruang Zoom. Ada kerinduan teman-teman untuk bisa bertemu langsung dan melihat berbagai praktik baik yang dilakukan di daerah,” ujarnya.
Heni menjelaskan, FTBM saat ini menjadi ruang berhimpun bagi para pengelola TBM di berbagai wilayah Indonesia. Tercatat sekitar 4.213 anggota telah bergabung. Lebih lanjut, TBM memiliki segmen dan karakteristik yang beragam. Ada TBM yang secara khusus melayani anak-anak, mahasiswa, hingga kelompok lansia.
“Kehadiran kami mewakili banyak lokasi dan TBM. Segmennya sangat beragam, sehingga forum ini menjadi ruang untuk berbagi, saling terhubung, sekaligus menemukan berbagai inovasi yang dilakukan teman-teman di daerah,” katanya.
Lebih lanjut, menurut Heni, pertemuan tahun ini menjadi semakin penting karena untuk pertama kalinya kegiatan Temu Pegiat TBM diarahkan ke luar Pulau Jawa.
“Kami memutuskan untuk bergiat di luar Jawa. Kalimantan Timur menjadi menarik karena saat ini banyak anak muda yang memimpin berbagai gerakan di sana. Kami ingin belajar dari masa lalu sekaligus melihat praktik baik yang berkembang hari ini,” ujarnya.
Peluang kolaborasi melalui CSR juga dibahas bersama Kepala Bagian Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Askrindo, Nur Aini, mengatakan pihaknya memiliki sejumlah bidang yang dapat disinergikan dengan kegiatan literasi. Program TJSL ini mencakup empat pilar, diantaranya sosial, ekonomi, lingkungan dan tata kelola. Maka, kegiatan literasi dapat menjadi bagian dari program edukasi masyarakat pada pilar sosial.
“Di Askrindo, kami melihat edukasi, parenting bahkan komunitas sebagai bagian yang dapat dikembangkan. Kami juga perlu melihat sejauh mana potensi value yang bisa diberikan Askrindo melalui program ini," pungkasnya.*** (WM/Ed: BS/Dok: AA)
Galeri










