Kepala Perpusnas: Pelestarian Naskah Kuno Nusantara Tidak Cukup Berhenti pada Digitalisasi
Jakarta – Humas Perpusnas. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menyampaikan pelestarian naskah kuno tidak cukup berhenti pada preservasi, konservasi, dan digitalisasi. Isi naskah juga perlu dihadirkan dalam bentuk yang lebih mudah diakses oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda. “Kalau dulu kita tentang preservasi - konservasi yang sampai ujungnya adalah digitalisasi,” ujarnya dalam Peluncuran Buku dan Gelar Wicara Alih Wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Dan Memory of the World (MoW).
Agenda tersebut sekaligus menjadi momen peluncuran bahan pustaka anak berbasis naskah kuno Nusantara. Tercatat 50 Komik dan Buku Anak serta 25 terbitan hasil adaptasi Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris. Acara berlangsung di Auditorium Gedung Layanan Perpusnas Medan Merdeka Selatan, Jakarta, pada Rabu (23/9/2026).
Kepala Perpusnas mengungkap, selama ini naskah kuno hanya dapat diakses oleh para ahli seperti filolog, sehingga pemanfaatannya kurang optimal. “Oleh karena itu, yang kami lakukan berikutnya lewat pemanfaatan naskah ini, supaya bisa dibaca dan dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.
Sebanyak 25 buku diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk membuka akses yang lebih luas kepada pembaca internasional. Narasumber gelar wicara, Wulandari Pratiwi, yang juga terlibat langsung proses penerjemahan Buku Bacaan Anak dan Komik Seri Babad Diponegoro, mengatakan penerjemahan sangat penting bagi karya sastra Indonesia.
“Indonesia itu sebetulnya termasuk ke dalam negara-negara yang sastranya kurang teramati di peta global. Jadi penerjemahan itu sangat diperlukan agar Indonesia bisa keluar dari status negara-negara yang karya sastranya tidak teramati di panggung global,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa proses penerjemahan tidak hanya berkaitan dengan pengalihan bahasa, tetapi juga mempertimbangkan perbedaan sosial dan budaya serta karakteristik pembaca anak. “Kosakata dan susunan kalimat perlu disesuaikan agar mudah dipahami pembaca usia anak tanpa mengubah jalan cerita,” katanya lagi.
Sementara itu, perwakilan dari Komunitas Teman Main sekaligus Co-Founder Studio Argosy, Evin Jevani Iskandar, menyoroti pentingnya menghadirkan naskah kuno melalui medium yang dekat dengan generasi muda. Menurutnya, cerita dari naskah Nusantara memiliki peluang untuk dikembangkan melalui media sosial, permainan, animasi, komunitas, hingga kolaborasi dengan content creator. “Dari ruang arsip ke ruang bermain,” tegasnya
Menurut Evin, pemanfaatan media digital juga menjadi peluang untuk memperluas jangkauan. Media sosial, gamifikasi, YouTube, animasi, merchandise, komunitas, sekolah, hingga kolaborasi dengan content creator dapat menjadi ruang baru untuk membawa cerita Nusantara kepada anak-anak dan generasi muda.
Lebih lanjut, Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan konten yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi tetap memiliki nilai edukasi. “Kekayaan cerita yang terdapat dalam naskah kuno dapat menjadi bahan untuk dikembangkan menjadi berbagai konten yang mampu memperkenalkan pengetahuan dan budaya Nusantara secara lebih dekat kepada generasi masa kini,” pungkasnya. ***(REA/ ed:FM, DRS/ Dok: AKN)
Galeri









