Perpusnas Kembangkan Teknologi AI untuk Percepat Penyelamatan Naskah Kuno Nusantara
Jakarta – Humas Perpusnas. — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mempercepat identifikasi kerusakan naskah kuno Nusantara. Teknologi ini diharapkan dapat membantu menentukan tingkat kerusakan dan merekomendasikan penanganan yang sesuai, sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan dokumenter bangsa.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, mengatakan pengembangan aplikasi tersebut merupakan inisiatif Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Perpusnas. Melalui teknologi AI, kondisi fisik naskah dapat dianalisis berdasarkan hasil pemotretan sehingga proses identifikasi kerusakan menjadi lebih cepat dan terukur.
Dalam wawancara bersama Tempo di Perpusnas, Jakarta, Selasa (20/10/2026), Aminudin menjelaskan bahwa aplikasi tersebut telah diuji coba pada sejumlah naskah dan menunjukkan hasil yang konsisten. Meski belum diterapkan secara luas, ia berharap pengembangannya dapat segera diselesaikan agar mendukung pekerjaan tenaga ahli preservasi.
“Paling tidak kita punya matriks yang akan memberikan gambaran naskah ini jenis kerusakannya ini, tingkat kerusakannya begini. Dan si AI ini memberikan rekomendasi, ini harus pakai apa nih perbaikannya,” ujar Aminudin.
Menurutnya, teknologi tersebut juga berpotensi dimanfaatkan masyarakat dan lembaga pemilik naskah kuno di berbagai daerah. Aplikasi itu nantinya diharapkan dapat dibagikan secara cuma-cuma agar pemilik naskah dapat melakukan identifikasi awal terhadap kondisi koleksinya.
Pemanfaatan AI menjadi salah satu langkah Perpusnas dalam menghadapi tantangan pelestarian naskah kuno yang tersebar di berbagai wilayah. Berdasarkan data Perpusnas, sebanyak 143.259 naskah kuno Nusantara telah tercatat, terdiri atas 100.770 naskah di dalam negeri dan 42.489 naskah di luar negeri.
Dari keseluruhan naskah yang terdata, sekitar 18,8 persen atau 26.970 naskah telah terdigitalisasi dan dapat diakses publik. Capaian tersebut menunjukkan pentingnya percepatan pelestarian, mengingat proses digitalisasi membutuhkan penanganan khusus sesuai karakteristik dan kondisi fisik setiap naskah.
Aminudin mengungkapkan bahwa dari sekitar 13 ribu naskah yang tersimpan di Perpusnas, sebanyak 43 persen berada dalam kondisi baik, 42,8 persen mengalami kerusakan ringan hingga sedang, dan 14,2 persen mengalami kerusakan berat yang mendekati ambang tidak dapat dipulihkan.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan catatan tenaga ahli, sekitar 570 naskah setiap tahun berisiko mengalami kerusakan berat apabila penurunan kondisi fisiknya tidak segera ditangani.
Karena itu, Perpusnas menerapkan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi setiap naskah. Naskah yang masih baik dapat langsung didigitalisasi, sedangkan naskah yang rapuh atau mengalami kerusakan harus terlebih dahulu melalui proses preservasi dan konservasi.
“Kalau kondisinya bagus bisa langsung didigitalisasi. Kalau kondisinya tidak bagus, ini perlu dipreservasi dulu, dikuatkan dulu secara fisik sebelum bisa didigitalisasi. Karena kalau didigitalisasi pasti akan dibuka. Begitu dibuka, kemudian misalnya tiba-tiba patah, sobek, terpisah, ini malah makin bahaya lagi,” jelasnya.
Penentuan prioritas penanganan juga mempertimbangkan tingkat dan jenis kerusakan serta nilai penting informasi yang terkandung dalam naskah. Proses tersebut melibatkan filolog, pustakawan, dan tenaga ahli preservasi untuk memastikan tindakan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan setiap koleksi.
Keragaman bahan dan aksara menjadi tantangan tersendiri. Naskah Nusantara ditulis pada berbagai media, antara lain daun lontar, daluang, kulit, bambu, dan kertas. Masing-masing membutuhkan teknik konservasi dan digitalisasi yang berbeda agar proses penanganan tidak menimbulkan kerusakan baru.
Untuk meningkatkan kapasitas tenaga ahli, Perpusnas terus mengembangkan kerja sama dan pelatihan teknis. Salah satunya melalui pendampingan Tom Rieger, tenaga ahli asal Amerika Serikat melalui program Fulbright, yang memberikan pelatihan mengenai teknik pemotretan berbagai jenis dan bentuk naskah.
Berdasarkan data kelembagaan, sebanyak 40 konservator mendukung kegiatan pelestarian naskah, sementara 358 peserta telah mengikuti pelatihan sejak 2015. Pada periode 2019–2024, lebih dari 300 naskah kuno yang mengalami kerusakan telah direstorasi.
Capaian kegiatan alih media sepanjang 2003–2025 tercatat sebanyak 25.737 naskah atau koleksi, sedangkan kegiatan konservasi mencapai 14.146 naskah atau koleksi. Pada 2025, kegiatan tersebut mencatat 2.124 alih media dan 868 konservasi.
Selain penguatan teknologi dan kapasitas sumber daya manusia, Perpusnas memperluas kolaborasi dengan masyarakat pemilik naskah kuno. Menurut Aminudin, sebagian besar naskah Nusantara masih tersimpan di lingkungan masyarakat, baik secara perseorangan maupun melalui komunitas adat, pesantren, keraton, dan lembaga lainnya.
Perpusnas mendorong pendekatan pelestarian yang tidak selalu mengharuskan pemindahan kepemilikan naskah kepada negara. Melalui edukasi, pelatihan, dan pendampingan, masyarakat diharapkan mampu menjaga serta merawat naskah yang mereka miliki. “Kan negara tidak mesti selalu untuk memiliki,” tegas Aminudin.
Pendekatan tersebut juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga budaya, termasuk lingkungan keraton di Surakarta dan Yogyakarta. Perpusnas turut menjajaki perluasan kerja sama dengan Nahdlatul Ulama dan kalangan pesantren untuk mendukung pembacaan, preservasi, konservasi, serta digitalisasi naskah beraksara Arab Pegon.
Aminudin menjelaskan bahwa kerja sama dengan komunitas yang memiliki kemampuan membaca bahasa dan aksara tertentu sangat diperlukan. Selain mempercepat identifikasi kandungan informasi, kolaborasi ini memungkinkan proses pelestarian dilakukan dengan melibatkan pengetahuan dan keahlian yang berkembang di masyarakat.
Di sisi lain, digitalisasi menjadi langkah penting untuk memperluas akses publik terhadap pengetahuan yang terkandung dalam naskah kuno. Dengan tersedianya salinan digital, masyarakat dapat mempelajari isi naskah tanpa harus berulang kali membuka atau menyentuh koleksi aslinya.
Perpusnas juga berupaya mengembangkan pengaturan akses digital yang memperhatikan pelindungan koleksi, hak kekayaan intelektual, serta tanggung jawab pengguna. Aminudin menegaskan bahwa akses terhadap koleksi digital tersebut tidak dipungut biaya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pelestarian naskah kuno tidak boleh berhenti pada penyelamatan fisik dan digitalisasi. Informasi, pengetahuan, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya perlu terus dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat. “Tidak berhenti didigitalisasi. Kalau berhenti di situ belum selesai,” ujarnya.
Perpusnas telah mendorong pemanfaatan naskah kuno melalui pengembangan buku bacaan, komik, animasi, dan pertunjukan seni. Berdasarkan data kelembagaan, sebanyak 940 buku berbasis naskah kuno Nusantara telah diterbitkan dalam tujuh tahun terakhir. Selain itu, sebanyak 125 komik berdasarkan naskah kuno Nusantara telah diproduksi sejak 2024.
Salah satu contohnya adalah pengembangan kisah Pangeran Diponegoro menjadi 25 judul buku yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dan pembelajaran. Kisah tersebut juga diadaptasi menjadi pertunjukan teater berkonsep omnibus yang digagas Wawan Sofwan.
Aminudin menilai kekayaan cerita dan pengetahuan dalam naskah Nusantara memiliki potensi besar untuk dikembangkan oleh pelaku ekonomi kreatif menjadi film, animasi, serial, hingga permainan digital. Pemanfaatan tersebut sekaligus dapat menjadi sarana memperkenalkan sejarah dan kebudayaan bangsa kepada generasi muda.
Upaya ini sejalan dengan Kerangka Besar Peta Jalan Penyelamatan Naskah Kuno Nusantara 2027–2036 bertema "Menyelamatkan Warisan, Membangun Peradaban". Kerangka tersebut diarahkan pada peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan pelindungan dan pelestarian, serta perluasan akses dan pendayagunaan naskah kuno Nusantara.
Melalui pengembangan teknologi AI, peningkatan kapasitas tenaga ahli, penguatan kolaborasi, dan perluasan pemanfaatan koleksi, Perpusnas berupaya memastikan naskah kuno Nusantara tidak hanya terselamatkan sebagai warisan dokumenter, tetapi juga terus memberikan manfaat sebagai sumber pengetahuan, pembelajaran, dan inspirasi bagi generasi mendatang. ***(AS/Dok. ATK)
Galeri









