Agar Program Literasi Lebih Berdampak, Kepala Perpusnas Perkuat Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Jakarta - Humas Perpusnas. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menekankan dalam memperkuat budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat diperlukan kolaborasi lintas sektor.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan Tahun 2026 "Mengukuhkan Sinergi Program Perpustakaan dan Literasi" yang diselenggarakan secara hibrida pada, Selasa (12/5/2026).
Kepala Perpusnas menyampaikan, dari berbagai hasil survei dan kajian seperti Program for International Student Assessment (PISA), World Bank, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) terkait dengan indeks pembangunan literasi masyarakat dan kegemaran membaca hasilnya belum terlalu menggembirakan. Secara nasional, kemampuan membaca masih belum mencapai angka 50 persen.
"Artinya apa yang kita baca dan telaah itu belum betul-betul menjadi sesuai yang kita pahami dan dipraktikkan ke dalam kehidupan nyata. Ini adalah tantangan bagi kita semua," ungkapnya.
Menurut Amin, rendahnya tingkat kecakapan literasi tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu lembaga. Ia menilai selama ini sinergi antar pemangku kepentingan masih belum berjalan optimal, baik antara pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi, perguruan tinggi, komunitas literasi, hingga sektor swasta.
“Belum muncul kemitraan atau kolaborasi yang utuh dan erat antar pemangku kepentingan yang menggarap masalah literasi ini. Berkolaborasi secara berdampak,” katanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan, perubahan teknologi, persepsi dan harapan masyarakat menuntut adanya transformasi dalam pendekatan literasi. “Hal ini menuntut kita untuk secara lebih aktif memikirkan program-program baru, sehingga program yang dikembangkan dapat memenuhi harapan dan tantangan serta perubahan saat ini,” tuturnya
Perpusnas sangat berkepentingan untuk melakukan koordinasi ini dengan seluruh pemangku kepentingan yang ada, baik itu di pusat maupun di daerah.
"Kepentingan itu ingin kita ramu untuk disatukan menjadi sebuah program yang betul-betul menjadi garapan bersama, karena memang literasi adalah urusan kita bersama," lanjutnya.
Kepala Perpusnas juga memaparkan sejumlah program yang telah digagas dan dijalankan untuk memperluas akses literasi masyarakat. Salah satunya program bantuan bacaan bermutu. Program bantuan ini terpaksa dihentikan sementara pada 2026 akibat kebijakan efisiensi anggaran.
"Sayangnya tahun ini kami tidak mampu menyediakan bantuan buku sebagaimana kita lakukan pada tahun 2024-2025. Semoga ke depan program ini dapat berlanjut karena respon yang begitu positif dari masyarakat yang menerima bantuan," terangnya.
Selain itu, Perpusnas menginisiasi program KKN Tematik Literasi dengan menggandeng perguruan tinggi negeri maupun swasta. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan di masyarakat. *** (WM/Ed: DRS/Dok: ATK,AK)






