Aksara Bukti Kemajuan Peradaban Bangsa

Gallery image

Aksara Bukti Kemajuan Peradaban Bangsa

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Aksara dan keberaksaraan merupakan bukti nyata kemajuan peradaban sebuah bangsa. Sejak abad ke-6 Indonesia telah mengenal aksara yang mendorong perkembangan tradisi keilmuan dan keagamaan.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Suharyanto, pada Kelas Literasi Naskah Nusantara #5 dengan tema "Aksara dan Keberaksaraan Membaca yang Silam, Menulis yang Menjelang",  Senin (29/9/2025).

"Aksara-aksara terebut terukir dalam berbagai media tulis di Nusantara, dilestarikan, dan diwariskan lintas zaman. Bahkan sejak abad ke-7, Nusantara memiliki mahawiara di masa Kerajaan Sriwijaya yang kini dikenal sebagai Candi Muaro Jambi, sebagai pusat pembelajaran ilmu pengetahuan," katanya.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa perkembangan zaman membuat banyak aksara daerah ditinggalkan akibat masuknya tulisan latin sejak abad ke-19. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya ilmuwan dan praktisi yang mampu membaca naskah kuno, serta absennya pembelajaran aksara daerah dalam kurikulum pendidikan.

Sebagai Lembaga negara, lanjutnya, Perpusnas terus berupaya menjaga kelestarian aksara Nusantara. Salah satunya, melalui pameran bertema aksara yang digelar di Gedung Cagar Budaya Perpusnas. Pameran ini menampilkan sekitar 34 naskah kuno dari berbagai daerah, antara lain aksara Kawi, Jawa, Batak, dan Bugis.

“Pameran ini mendapat sambutan luar biasa, rata-rata dikunjungi 1.500 orang per hari dan mencapai lebih dari 4.000 pengunjung saat akhir pekan,” jelasnya.

Dalam kegiatan kelas literasi ini, peserta diajak menelusuri sejarah panjang aksara di Nusantara, mengenal tantangan ilmu filologi dan paleografi, serta memahami proses digitalisasi aksara. 

Menurutnya, inisiatif pengalihmediaan ke digital menjadi peluang besar agar aksara Nusantara tetap bisa dinikmati lintas generasi.

“Semoga kelas literasi ini memberi manfaat dan inspirasi untuk menggali lebih dalam khazanah naskah kuno kita,” imbuhnya.

Sementara itu, Pembicara Kunci, Arlo Griffths dari French School of Asian Studies EFEO, menyampaikan bahwa aksara Nusantara tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar rumpun aksara Brahmi yang berkembang di India sejak abad ke-3 sebelum Masehi.

"Aksara Brahmi tidak hanya berkembang di India, tetapi menyebar hingga ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara. Dari penyebaran itu, maka muncul berbagai aksara lokal, seperti aksara Jawa, Bali, Lampung, Batak," jelasnya.

Menurutnya, aksara tidak hanya berarti huruf atau suku kata, melainkan juga memiliki dimensi bunyi bahkan mantra. Karena itu, memahami aksara Nusantara tidak cukup dari sisi tulisan, tetapi juga perlu pendekatan linguistik, khususnya fonologi.

"Memahami aksara bukan hanya urusan bentuk grafis, melainkan juga soal bunyi, makna, dan konsteks budaya dibaliknya," ungkapnya.

 

Reporter: Wara Merdeka

Dokumentasi: Ahmad Kemal

 

Galeri