Alih Wahana Karya Sastra Klasik Jadi Solusi Penguatan Literasi di SR
Jakarta - Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menjajaki kerja sama dengan PT Balai Pustaka untuk memperkuat literasi di Sekolah Rakyat (SR) melalui alih wahana karya sastra klasik ke berbagai media yang lebih menarik bagi anak.
Menurut Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, alih wahana merupakan salah satu strategi untuk menghadirkan kembali karya-karya sastra klasik dalam format yang lebih dekat dengan generasi muda. Cerita-cerita klasik Indonesia dapat diadaptasi menjadi animasi, film kartun, maupun media kreatif lainnya sehingga lebih mudah dipahami, menarik, dan diminati anak-anak.
"Alih wahana merupakan proses pengalihan karya sastra ke media lain, misalnya animasi atau film kartun, sehingga cerita-cerita klasik tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi muda. Saya menilai Balai Pustaka memiliki kapasitas, pengalaman, dan kekayaan koleksi yang dapat mendukung pengembangan program ini," tuturnya Kamis (23/7/2026).
Hal senada disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Sekolah/Madrasah dan Perguruan Tinggi Perpusnas, Taufiq A. Gani. Baginya, PT Balai Pustaka memiliki kekayaan karya sastra dan gagasan kreatif yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai media pembelajaran, yang menarik bagi peserta didik di SR.
"Balai Pustaka memiliki kekayaan karya sastra dan kreativitas yang sangat mendukung pengembangan literasi di Sekolah Rakyat. Para peserta didik Sekolah Rakyat pun memiliki potensi yang luar biasa. Dalam satu tahun pembelajaran, mereka berhasil menghasilkan sekitar 164 karya animasi yang diadaptasi dari cerita sastra klasik," urainya.
Taufiq menambahkan, kolaborasi antara Perpusnas dan PT Balai Pustaka tidak hanya difokuskan pada pengembangan alih wahana, tetapi juga dapat diperluas untuk mendukung penguatan budaya baca di SR melalui penyediaan bahan bacaan yang berkualitas.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Balai Pustaka, Achmad Fachrodji menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Ia menyampaikan bahwa transformasi karya sastra ke dalam media digital maupun animasi perlu terus dikembangkan, namun keberadaan buku cetak tetap harus dipertahankan sebagai dasar penguatan budaya baca.
"Alih wahana penting untuk menjangkau generasi muda, tetapi buku cetak tidak boleh ditinggalkan. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai bagian dari ekosistem literasi," ujarnya.
Achmad memaparkan, PT Balai Pustaka memiliki beragam koleksi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan literasi di SR, mulai dari cerita rakyat dan legenda Nusantara, kisah para pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman, hingga biografi tokoh-tokoh inspiratif dunia.
“Koleksi-koleksi tersebut dapat menjadi materi pembelajaran yang menarik sekaligus memperkuat karakter, wawasan kebangsaan, dan minat baca peserta didik di Sekolah Rakyat,” pungkasnya.*** (AL/Ed: BS/Dok: ATK)
Galeri








