Bahas Kesehatan Mental di Era Instan, Kepala Perpusnas Singgung Perilaku Koruptif

Gallery image

Bahas Kesehatan Mental di Era Instan, Kepala Perpusnas Singgung Perilaku Koruptif

Jakarta - Humas Perpusnas, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menyoroti tantangan di era instan, ketika masyarakat baik anak-anak maupun orang dewasa tidak lagi terbiasa membaca teks panjang. “Gejala ini saya percaya berkaitan dengan kesehatan mental yang mengemuka di sekitar kita. Melalui seminar ini dan praktik-praktik yang sudah dilakukan, kita berharap bisa memberikan pencerahan untuk memperbaiki situasi yang kurang menguntungkan ini,” ungkapnya saat membuka Webinar Nasional Seri Minat Baca #31 yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (PP GPMB), Sabtu (31/1/2026).

“Saya selalu mengatakan, kita berharap sehat yang afiat. Banyak di antara kita yang secara fisik tampak sehat, tetapi memiliki masalah karena mentalnya tidak sehat, baik kejiwaan maupun pikirannya,” ujarnya. 

Ia bahkan mencontohkan perilaku koruptif sebagai bentuk gangguan kesehatan mental yang berdampak luas bagi masyarakat. “Koruptor dan penipu sesungguhnya adalah orang-orang yang sehat secara fisik, tetapi secara mental sakit, karena berani mengambil hak orang lain untuk kepentingan dirinya dan keluarganya, dengan kerugian yang tidak sedikit bagi kita semua,” tegasnya.

Senada dengan Aminudin, Ketua Dharma Wanita Persatuan Perpusnas, Teti Aminudin Aziz  mengatakan, kesehatan mental tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. 

“Faktor yang memengaruhi kesehatan mental masyarakat sangat beragam, mulai dari faktor sosial, ekonomi, lingkungan, hingga budaya. Di era Gen Z, perubahan kehidupan yang begitu cepat, termasuk pengaruh teknologi dan kompleksitas rumah tangga, memberi dampak besar terhadap kesehatan mental,” urainya.

Ia menerangkan, ketika faktor-faktor tersebut dikelola dengan baik, masyarakat akan tumbuh sehat secara mental. Sebaliknya, jika tidak dikelola, persoalan mental pun mudah muncul. Dalam konteks tersebut, literasi keluarga menjadi kunci. “Literasi keluarga mencakup kemampuan berdiskusi, menganalisis informasi, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berkelanjutan, termasuk literasi digital di lingkungan keluarga,” jelasnya.

Literasi keluarga, lanjutnya, berperan penting dalam menumbuhkan budaya baca sejak dini, meningkatkan keterampilan anak, mempererat hubungan keluarga, serta mendukung pendidikan anak secara menyeluruh. 

Untuk mewujudkan literasi keluarga, ia menyebutkan sejumlah langkah konkret. “Orang tua harus menjadi teladan, membiasakan membaca bersama, menciptakan lingkungan yang literat, melibatkan anak dalam kegiatan menulis dan berhitung, serta menggunakan teknologi secara bijak,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa literasi keluarga merupakan investasi jangka panjang. “Literasi keluarga adalah investasi penting yang memperkuat keterampilan anak dan keluarga, sekaligus menjadi bagian dari gerakan literasi nasional untuk membentuk masyarakat yang lebih literat,” katanya.

Dari segi tantangan kesehatan mental di era digital, Alumni Magister Counselling University of Edinburgh Rin Aziz, mengulas strategi membangun ketahanan diri, diawali dengan sorotan tingginya intensitas penggunaan gawai di Indonesia. “Rerata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu layar lebih dari 7,5 jam per hari. Sejumlah studi bahkan menunjukkan bahwa kondisi ini sudah mengarah pada kecanduan internet,” ungkapnya.

Menurut Rin, era digital menghadirkan berbagai tantangan baru yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan mental, mulai dari anonimitas di ruang digital, akses internet yang bebas dan nyaris tanpa batas usia, hingga banjir informasi yang sulit dikendalikan. “Kita menghadapi digital overload, konten berdurasi pendek yang membuat fokus semakin pendek, persoalan akurasi informasi, serta dorongan untuk selalu menampilkan versi diri yang ideal,” jelasnya.

Berbagai tantangan tersebut, lanjutnya, memicu beragam persoalan psikologis. “Dampaknya bisa berupa digital anxiety, kecenderungan membandingkan diri, kebutuhan akan kepuasan instan, nomophobia atau ketakutan berlebihan saat jauh dari ponsel, gangguan tidur, rasa kesepian, burnout, Fear of Missing Out (FOMO), rendahnya harga diri, hingga meningkatnya risiko depresi dan perasaan terisolasi,” pungkasnya. *** (AKN/Ed.DRS/Dok.AKN)

Galeri