Bedah Buku Babad Kedhung Kebo di Perpusnas, Membaca Perang Jawa dari Sudut Pandang Liyan
Medan Merdeka Selatan, Jakarta— Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar kegiatan Bedah Buku Babad Kedhung Kebo : “Perang Jawa dari Sudut Pandang Liyan”, di Auditorium lantai 2, Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Selasa (26/8/2025).
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku merupakan bentuk penghormatan terhadap tradisi akademik yang menjungjung tinggi prespektif kritis.
“Kalau kita membedah sesuatu tidak kritis melihatnya, pasti itu bukan pembedahan terhadap isi buku,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa dalam dunia akademik, perbedaan sudut pandang merupakan hal yang wajar dan bahkan esensial. Menurutnya, setiap penulis berhak menyampaikan perspektifnya, sementara pembaca berperan sebagai penafsir. Karena itu Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang pembelajaran yang terbuka dan reflektif.
“Mari kita gunakan forum ini sebagai forum untuk belajar bagaimana kita melihat sisi-sisi dari sebuah peristiwa secara terbuka. Jangan lagi kita berpikir ini benar atau salah, padahal kita belum memiliki pengetahuan yang cukup terhadap fenomena itu,” tuturnya.
Penerjemah Babad Kedhung Kebo, Witoyo menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap naskah kuno tersebut sudah muncul sejak 2019. Setelah berhasil memperoleh salinan digital dan cetak, ia kemudian diminta untuk menerjemahkan ulang naskah tersebut agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Dalam sesi diskusi, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gajah Mada, Sudibyo, menjelaskan bahwa Babad Kedhung Kebo mengajak pembacanya untuk memaknai sejarah secara lebih menyeluruh. Menurutnya, sejarah dapat dinarasikan dari sudut pandang pihak-pihak yang selama ini dimarginalkan.
“Dengan cara seperti ini, penilaian terhadap tokoh dan peristiwa sejarah terasa lebih adil. Lebih-lebih jika peristiwa itu ditempatkan dalam ruang dan waktu ketika peristiwa sejarah terjadi,” jelasnya yang juga sebagai Filolog.
Salah satu isu penting yang dibahas, lanjutnya, yakni keterlibatan Cokronegoro I yang memilih berpihak kepada kolonial Belanda, sehingga berseberangan dengan Pangeran Diponegoro.
Peristiwa yang paling dikenang adalah gugurnya tiga pangeran kerabat Diponegoro dalam pertempuran di Bukit Menoreh. “Kyai Cakrajaya merasa sangat gundah, dalam hati berkata, mengapa kemarin tidak mengaku, jika mengaku saya tidak akan melakukannya,” tuturnya mengutip naskah babad.
Dosen Program Studi Sastra Jawa, FIB Universitas Indonesia (UI), Darmoko, menyimpulkan bahwa penulis Babad Kedhung Kebo menorehkan gagasan dalam menghasilkan karya budaya berbekal pada kekuatan imajinasi, kepekaan intuisi, intelektualitas, dan penguasaan kode budaya.
“Oleh karena itu, sudah saatnya barangkali nantinya ada produksi-produksi entah itu kesenian film, ataupun juga seni kontemporer lainnya, itu berorientasi pada kitab-kitab babat,” ungkapnya.
Ditulis pada awal 1840-an, sekitar satu dekade setelah Perang Jawa berakhir, Babad Kedhung Kebo bertujuan memberikan pengetahuan kepada generasi penerus mengenai perjalanan bangsa.
“Perspektif Liyan yang ditawarkan Babad Kedhung Kebo membuka peluang baru bagi kajian sejarah, seni, bahkan produksi budaya kontemporer seperti film atau teater. Kita tidak hanya melihat Diponegoro sebagai pusat, tetapi juga tokoh-tokoh lain yang membentuk wajah perjuangan” ujarnya.
Sementara itu, Dosen FIB UI, Turita Indah,memaparkan bahwa naskah kuno berbahasa Jawa tersebut merekam perjalanan rohani Pangeran Diponegoro dalam tujuh tahapan, mulai dari Kesadaran Diri hingga Penyatuan dengan Kehendak Ilahi.
“Diponegoro bukan sekadar pemimpin perang, tapi juga seorang sufi. Perjuangannya berpijak pada laku spiritual yang dalam,” jelasnya.
Menurutnya, pembacaan ulang sejarah melalui naskah seperti Babad Kedhung Kebo penting untuk menyeimbangkan perspektif kolonial yang selama ini dominan.
“Buku ini adalah jendela untuk melihat sisi terdalam perjuangan Diponegoro—sebuah jihad lahir dan batin,” tegasnya.
Reporter : Frista/ Vera/ Kela/ Suci
Dokumentasi : Aditya Irfan
Editor : Wara Merdeka






