Berpulangnya Sri Sularsih: Pejuang Literasi yang Mendedikasikan Hidup untuk Buku dan Perpustakaan
Jakarta — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Dra. Hj. Sri Sularsih, M.Si., Kepala Perpustakaan Nasional RI periode 2010–2016 pada Minggu, 16/11/2025 pukul 15.15 WIB. Almarhumah merupakan sosok pemimpin visioner yang telah menorehkan jejak monumental dalam sejarah perpustakaan dan literasi Indonesia.
Lahir dari keluarga sederhana di Kulon Progo, Sri Sularsih kecil menumbuhkan kecintaannya pada buku melalui kertas koran bekas pembungkus roti. Pengalaman itu melahirkan rasa lapar akan bacaan dan menjadi landasan tekad hidupnya. Ia memastikan anak-anak Indonesia tidak lagi “membaca dari sisa-sisa”, tetapi memperoleh akses literasi yang layak, merata, dan bermartabat. Kisah perjalanan itu ia tuangkan dalam buku 30 Tahun Mengukir Makna, berisi kilasan hidup yang membentuk karakter, integritas, dan visi kepemimpinannya.
Jejak Kiprah Kepemimpinan dan Kontribusi Abadi
1. Inisiator Berdirinya Gedung Layanan Perpustakaan Nasional RI 24 Lantai — Gedung Perpustakaan Tertinggi di Dunia
Salah satu warisan terbesar Sri Sularsih adalah pembangunan Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, gedung 24 lantai yang kini menjadi gedung perpustakaan nasional tertinggi di dunia dan simbol modernisasi perpustakaan Indonesia.
2. Penggagas Program Perpustakaan Keliling Nasional
Beliau merintis gerakan besar pemerataan akses literasi dengan pengadaan ratusan mobil perpustakaan keliling dan kapal perpustakaan keliling untuk menjangkau wilayah pesisir dan tertinggal. Program ini kini menjadi salah satu tonggak layanan langsung Perpusnas ke masyarakat.
3. Pendorong Program Gemar Membaca Berskala Nasional
Dengan kerja keras dan jejaringnya, almarhumah mendorong distribusi sekitar 50 juta buku ke seluruh pelosok Indonesia sebagai bagian dari Program Gemar Membaca, menjadikan literasi sebagai gerakan publik yang inklusif.
4. Kontribusi dalam lahirnya Kebijakan Literasi Nasional
Sri Sularsih memainkan peran penting dalam proses penguatan regulasi literasi nasional, termasuk implementasi UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yang menjadi dasar pengembangan perpustakaan di seluruh Indonesia.
5. Pemimpin Humanis, Tegas, dan Transformasional
Di mata kolega, Sri Sularsih dikenal sebagai pemimpin yang:
· tegas namun lembut,
· disiplin, rendah hati, dan penuh empati,
· mendorong inovasi nyata, bukan sekadar wacana,
· mewariskan budaya integritas dan pelayanan publik.
Dalam catatan hidupnya, ia menekankan bahwa buku adalah makanan bagi jiwa, sumber kebijaksanaan, dan jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan harapan. Ia mengajarkan bahwa literasi bukan sekadar membaca tetapi membebaskan pikiran, memperluas dunia, dan mengangkat derajat bangsa.
“Indonesia kehilangan salah satu perempuan terbaiknya dalam dunia literasi. Jasa dan warisan pemikiran Ibu Sri Sularsih akan terus hidup dalam transformasi layanan Perpustakaan Nasional RI,” demikian pernyataan resmi Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminudin Aziz.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, kami menyampaikan doa semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga diberi kesabaran serta ketabahan.
Sebagai penghormatan, Perpusnas berkomitmen meneruskan visi dan perjuangan beliau dalam memperkuat layanan berbasis transformasi digital, memperluas jangkauan literasi hingga pelosok, menghadirkan fasilitas yang ramah, inklusif, dan setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Reporter: Arwan Subakti
Desain: A. Irfan






