Budaya Baca Tumbuh melalui Kolaborasi dan Penyediaan Bahan Pustaka
Jakarta, Perpusnas – Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa budaya baca hanya dapat tumbuh melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa. Selain itu, pertumbuhannya didukung juga oleh penyediaan bahan bacaan yang sesuai dengan karakter setiap generasi.
Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk “Menggerakkan Literasi: Duta Baca, Duta Bahasa, dan Relawan Literasi Bergerak Bersama”. Diskusi digelar sebagai rangkaian Semesta Buku di Blok M Hub, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026).
Kepala Perpusnas menilai pembangunan literasi selama ini masih sering berjalan sebagai program yang terpisah-pisah sehingga belum memberikan dampak yang optimal. "Kegagalan pembangunan literasi adalah karena pekerjaan ini hanya berakhir sebagai sebuah proyek. Padahal sudah diyakini ini adalah pekerjaan bersama, tetapi tidak pernah dikerjakan bersama-sama," ujarnya.
Berangkat dari gagasan tersebut, ia menginisiasi GEULIS (Gerakan untuk Literasi Semesta) pada 2021 sebagai upaya menyinergikan berbagai program literasi lintas sektor. Tantangan literasi yang terus berkembang saat ini diakuinya juga memerlukan peninjauan kembali terhadap peta jalan literasi nasional agar kolaborasi antarlembaga semakin efektif.
"Persoalan literasi bukan persoalan satu kementerian, bukan persoalan satu lembaga, bukan persoalan satu keluarga, tetapi persoalan semua orang yang harus dikerjakan bersama-sama," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Aminudin mengatakan masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki keinginan membaca. Berdasarkan survei yang pernah dilakukannya, persoalan utamanya justru terletak pada terbatasnya bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. "Yang jadi persoalan adalah buku yang sesuai dengan minat baca mereka tersedia secara sangat terbatas," tuturnya.
Selain itu, tantangannya kini literasi pada Generasi Alpha, Beta, dan Z, ia mengungkapkan perkembangan bahasa setiap generasi merupakan hal yang wajar. Karena itu, bahan bacaan perlu disajikan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka agar mampu menarik minat membaca. "Harus tersedia juga bahan-bahan bacaan yang menggunakan bahasa seperti yang digunakan oleh anak-anak generasi ini. Supaya bacaan ini menjadi menarik bagi mereka," jelasnya.
Sebagai bentuk nyata penguatan budaya baca, Perpusnas menjalankan berbagai program, di antaranya Bantuan Bacaan Bermutu melalui penyaluran sekitar 1.000 buku ke desa dan taman bacaan masyarakat (TBM) yang disertai pendampingan sejak 2024 hingga 2025. Selain itu, ada juga program penguatan program Relawan Literasi Masyarakat (Relima), dan program KKN Tematik Literasi bersama perguruan tinggi mulai 2025, Duta Baca Indonesia, serta Bunda Literasi.
Menurut Kepala Perpusnas, kehadiran Relima merupakan bentuk dukungan negara kepada para pegiat literasi yang selama ini bekerja secara mandiri di masyarakat. "Selama ini negara belum pernah hadir mengangkat kinerja para pegiat literasi. Sekarang kehadiran negara adalah dengan memberdayakan mereka sebagai Relima," ungkapnya.
Peran Duta Baca Indonesia juga diperkuat Perpusnas sebagai figur inspiratif dalam mempromosikan budaya membaca kepada masyarakat. Di sisi lain, program Bunda Literasi pun terus didorong agar tidak hanya bersifat seremonial, melainkan memiliki program nyata dalam mendukung gerakan literasi di daerah, mulai dari penguatan dukungan anggaran hingga pemantauan pelaksanaan program secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Aminudin mengajak seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat kolaborasi dalam membangun kecakapan literasi masyarakat. "Kalau kita semua percaya bahwa tidak ada bangsa yang maju tanpa tingkat kecakapan literasi yang tinggi, maka sudah selayaknya menjadi tugas kita bersama untuk meneguhkan niat dan melaksanakan praktik-praktik pembangunan kecakapan literasi itu secara terstruktur, masif, dan bersama-sama," ajaknya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan berpikir kritis. Dengan demikian, menurutnya, penguatan literasi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dan tidak dapat menjadi tanggung jawab satu kementerian atau lembaga semata.
Senada dengan Hafidz, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menuturkan bahwa pembangunan kota harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manusianya melalui budaya literasi yang berkelanjutan. Ia meyakini, gerakan literasi perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem agar mampu menciptakan masyarakat yang cerdas seiring terwujudnya konsep smart city.
Sebagai informasi, Semesta Buku yang merupakan festival literasi berskala nasional garapan Gramedia, memandang bahwa literasi saat ini tidak lagi terbatas pada ruang kelas dan perpustakaan. Literasi telah berkembang di berbagai ruang publik, komunitas, media sosial, hingga festival yang digerakkan oleh masyarakat. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AA).
Galeri








