Coaching Jadi Strategi Perpusnas Bangun Organisasi Pembelajar

Gallery image

Coaching Jadi Strategi Perpusnas Bangun Organisasi Pembelajar

Jakarta – Humas Perpusnas. Coaching dilakukan oleh pelatih (coach) dan yang dilatih (coachee) untuk menghasilkan dialog dua arah guna menggali potensi diri, meningkatkan kinerja, serta mencapai tujuan personal maupun profesional.

 

Hal ini sejalan dengan sambutan Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso, yang menekankan bahwa pengembangan lembaga harus berorientasi pada manusia sebagai modal utama.

  

“Tanpa upaya meningkatkan kompetensi, mustahil target kinerja dapat tercapai di era disrupsi ketika kita bicara soal AI dan seterusnya,” ujarnya pada kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Berbasis Coaching, Kamis (3/9/2026).

 

Joko juga menegaskan pentingnya pemimpin memberikan ruang kepada staf untuk berpikir secara merdeka. Melalui metode coaching, pemimpin tidak selalu menjadi pihak yang memberikan jawaban, tetapi mendorong staf berdiskusi dan menemukan solusi.

 

“Tidak selalu pemimpin itu yang benar dan tidak selalu juga staf itu yang salah. Jangan khawatir kita akan berbuat salah kalau kita melakukannya dengan benar,” tegasnya.

 

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Perpusnas, Triani Rahmawati, menambahkan bahwa pelatihan ini berlandaskan kebijakan pengembangan kompetensi ASN secara berkelanjutan, termasuk implementasi Wiyata Kinarya sebagai model organisasi pembelajar.

 

“Melalui coaching, pimpinan diharapkan mampu membangun percakapan produktif, mendengarkan secara aktif, dan memberi ruang bagi pegawai untuk menemukan solusi,” ungkapnya.

 

Pelatihan yang berlangsung pada 3 - 4 September 2026 ini diikuti 59 peserta, terdiri atas pejabat pimpinan tinggi pertama, agen perubahan, dan coach internal Perpusnas. Keterlibatan ketiga unsur tersebut diharapkan memperkuat ekosistem coaching di lingkungan Perpusnas.

 

Program Wiyata Kinarya yang digerakkan Pusdiklat mengintegrasikan mentoring, peer learning, dan coaching sebagai model pembelajaran. Penerapan coaching diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berkembang menjadi budaya kepemimpinan yang mendorong pembelajaran, berbagi pengetahuan, dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan di lingkungan Perpusnas.

 

Kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Berbasis Coaching ini terselenggara berkat kerja sama antara Asosiasi Praktisi Coach Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan Ikatan Pustakawan Indonesia. *** (FM/Ed: BS/ Dok: ATK)

Galeri