Dari Ruang Bermain ke Literasi, Perpusnas Dukung Layanan Perpustakaan Bangka Barat
Jakarta-Humas Perpusnas. Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berencana untuk menghadirkan ruang bermain anak terpadu. Kelak ruang bermain ini akan dilengkapi dengan pojok baca sebagai upaya pemenuhan hak anak atas akses informasi dan layanan perpustakaan.
Bupati Bangka Barat, Markus menyampaikan bahwa pembangunan ruang bermain anak terpadu tersebut akan dilakukan di enam kecamatan di Bangka Barat. Adapun tahap awal pembangunannya akan dimulai dari kawasan depan kantor bupati dengan sekitar 1,2 hektar.
“Proyek tersebut direncanakan didukung pendanaan dari perusahaan swasta, sehingga tidak membebani APBD daerah. Target kami setiap kecamatan memiliki tempat bermain anak yang ramah, ada taman, fasilitas rekreasi, sekaligus ruang baca agar anak-anak terbiasa dengan literasi sejak dini,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar menyambut baik dan mendukung rencana yang disampaikan.
Ia menjelaskan bahwa penyediaan ruang anak di ruang publik juga termasuk taman bermain yang terintegrasi dengan fasilitas literasi. Adin juga mengungkapkan, ruang anak merupakan salah satu indikator penting dalam klaster pemenuhan hak sipil dan kebebasan anak dalam mendapatkan informasi.
“Dengan adanya pojok baca di area bermain diharapkan mampu meningkatkan minat baca sekaligus kunjungan anak-anak ke perpustakaan. Perpusnas akan memberikan dukungan melalui penyediaan bahan bacaan bermutu yang sesuai dengan minat baca anak-anak,” tuturnya Senin (23/2/2026).
Tak lupa, Adin juga menekankan pentingnya penguatan pemanfaatan layanan gedung perpustakaan Kabupaten Bangka Barat. Ia menambahkan, gedung yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Tahun Anggaran 2020 tersebut, pemanfaatannya merupakan indikator kinerja kunci pembangunan di daerah.
”Saat ini, indikator kinerja kunci pembangunan literasi tidak lagi hanya bertumpu pada koleksi dan sarana fisik,” terang Adin. “Tetapi lebih besar pada data laporan tingkat kunjungan dan pemanfaatan layanan perpustakaan oleh masyarakat, termasuk anak-anak, yang bobotnya mencapai sekitar 70 persen,” sambungnya.
Di penghujung pertemuan, Adin menambahkan bahwa layanan di gedung perpustakaan sebaiknya terdiri dari kombinasi layanan digital dan cetak untuk meningkatkan minat masyarakat berkunjung ke perpustakaan. “Akan lebih baik jika layanan di perpustakaan memiliki perpaduan antara buku-buku digital dan cetak,” pungkasnya.*** AL/Ed:BS/Dok:ATK
Galeri








