Delegasi Perpusnas Bagikan Pengalaman IFLA, Dorong Inovasi Perpustakaan Indonesia
Jakarta – Humas Perpusnas. Pengetahuan dan pengalaman delegasi Indonesia dalam Kongres ke-90 International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) yang mengusung tema Libraries Powering Transformation di Busan, Korea Selatan, diharapkan dapat menjadi angin baru yang menggerakkan ekosistem perpustakaan di Indonesia ke arah yang lebih baik.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso, dalam kegiatan Belajar dari Kongres IFLA, Sharing Pengalaman Delegasi IFLA yang diselenggarakan secara daring, Kamis (3/9/2026).
Pada kesempatan tersebut, Joko mengapresiasi para pustakawan Indonesia yang telah membawa gagasan dan pengalaman Indonesia ke panggung internasional. “Keterlibatan itu menunjukkan bahwa pustakawan Indonesia memiliki kapasitas untuk turut membentuk arah perkembangan perpustakaan di tengah perubahan zaman. Kontribusi tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi perpustakaan Indonesia,” ujarnya.
Joko menambahkan, transformasi perpustakaan ke depan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pustakawan perlu membangun sinergi dengan akademisi, pemerintah, komunitas, industri kreatif, teknologi informasi, media massa, serta berbagai unsur masyarakat lainnya. Kolaborasi tersebut menjadi penting agar perpustakaan mampu merespons perubahan sekaligus menghadirkan layanan dan inovasi yang relevan bagi masyarakat.
“Salah satu pelajaran penting dari forum global seperti IFLA adalah bahwa perpustakaan masa depan membutuhkan pustakawan masa depan. Pustakawan masa depan bukan hanya seorang yang menguasai teknik pengelolaan informasi, tetapi profesional yang mampu membaca perubahan sosial, profesional yang mampu memahami teknologi, profesional yang mampu membangun jejaring, profesional yang mampu melakukan advokasi dan menciptakan inovasi,” tegas Joko.
Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas, Nurhadisaputra, mengatakan Kongres IFLA 2026 relevan dengan berbagai perubahan yang dihadapi perpustakaan di seluruh dunia. Perubahan teknologi, pola belajar, cara masyarakat mengakses informasi, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), hingga kebutuhan generasi muda turut mendorong perpustakaan untuk terus beradaptasi.
“Perpustakaan tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai tempat penyimpanan dan peminjaman buku. Perpustakaan berada di tengah perubahan besar yang terjadi di masyarakat,” katanya.
Ia menilai keterlibatan pustakawan Indonesia dalam forum internasional tidak boleh berhenti pada peningkatan kapasitas individu. Pengetahuan, pengalaman, praktik baik, dan jejaring global yang diperoleh perlu dibawa pulang serta diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk memperkuat perpustakaan dan budaya literasi di tanah air.
“Pengetahuan, pengalaman, praktik baik, dan jejaring global yang diperoleh dari pelaksanaan Kongres kemarin harus dibawa pulang dan diterjemahkan menjadi aksi nyata,” ujarnya.
Melalui sesi berbagi pengalaman tersebut, para delegasi Perpusnas yakni Irhamni Ali, Suci Indrawati Irwan, Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, dan Yaya Ofia Mabruri, membagikan pengalaman serta pembelajaran yang mereka peroleh selama mengikuti berbagai rangkaian forum IFLA di Busan dan Seoul.
Selain berbagi pengalaman di panggung internasional, para delegasi juga membagikan tips dan strategi dalam menyusun serta mempersiapkan makalah agar dapat diterima dan dipresentasikan dalam forum perpustakaan internasional. Berbagai pengalaman global tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dan inspirasi untuk memperkuat inovasi serta pengembangan perpustakaan di Indonesia.*** (FM/Ed: BS/Dok: ATK)
Galeri








