Dukung Kesetaraan Gender, Deputi Perpusnas Bersama Wardiman Djojonegoro Bahas Penguatan Literasi dan Pemberdayaan Perempuan

Gallery image

Dukung Kesetaraan Gender, Deputi Perpusnas Bersama Wardiman Djojonegoro Bahas Penguatan Literasi dan Pemberdayaan Perempuan

Medan Merdeka Selatan, Jakarta—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan literasi pemberdayaan perempuan melalui pendidikan. 

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, saat menerima kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (1993-1998) Wardiman Djojonegoro dalam diskusi yang membahas topik literasi dan pemberdayaan perempuan, Jumat (19/12/2025).

Suharyanto menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan gagasan yang disampaikan Wardiman. Menurutnya, isu kesetaraan gender, khususnya pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, merupakan persoalan strategis yang sejalan dengan misi Perpusnas dalam meningkatkan budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat.

“Perpusnas sepanjang tahun menyelenggarakan berbagai pameran tematik dan akan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kegiatan literasi, khususnya tentang pemberdayaan perempuan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyambung, Perpusnas melalui unit-unit layanan siap mendukung berbagai kegiatan literasi, seperti penulisan esai, pembacaan teks tokoh dan pahlawan perempuan, serta lomba menulis, pidato, dan aktivitas literasi lainnya yang menyasar pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Hadiah kegiatan direncanakan berupa buku bacaan sesuai kategori peserta.

Dalam kesempatan tersebut, Wardiman menyoroti kondisi kesetaraan gender di Indonesia yang menurutnya masih setengah berjalan. Berdasarkan pengalaman lapangan, termasuk hasil 35 kegiatan bedah buku yang telah ia lakukan di berbagai daerah, ia mengungkapkan, pemahaman masyarakat terhadap isu kesetaraan gender masih tergolong rendah, terutama di tingkat akar rumput.

Ia juga mengkritisi peringatan Hari Kartini yang dinilai semakin kehilangan makna substantif. “Perayaan Kartini kini lebih banyak menonjolkan simbol seperti busana batik, sementara esensi emansipasi perempuan justru kurang dipahami,” ungkapnya.

Wardiman menjelaskan bahwa terdapat empat indikator utama kesetaraan gender menurut standar internasional, yakni keterlibatan perempuan dalam bidang ekonomi dan keuangan, partisipasi politik, ketersediaan layanan kesehatan ibu dan anak, serta akses pendidikan. Di Indonesia, partisipasi perempuan dalam politik masih berada di kisaran 21 persen, layanan kesehatan ibu dan anak belum merata, khususnya di daerah, serta rata-rata pendidikan perempuan masih berada di jenjang SMP, di bawah target global minimal SMA.

Secara regional, Indonesia berada di peringkat tujuh di Asia dalam hal pemberdayaan perempuan. Keterbatasan fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan tenaga bidan, masih berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu di wilayah perdesaan, meskipun di perkotaan menunjukkan tren penurunan. Bahkan di lingkungan perguruan tinggi, pemberdayaan perempuan dinilai belum sepenuhnya optimal.

Diskusi tersebut dinilai semakin relevan menjelang peringatan Hari Ibu. Ia menilai peringatan tersebut kerap sarat muatan politis. Selain itu, belum sepenuhnya dipahami sebagai momentum emansipasi dan penguatan peran perempuan melalui pendidikan, terutama di wilayah perdesaan.

Sebagai solusi, Wardiman mengusulkan Gerakan Literasi Nasional Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan yang dapat diselenggarakan setiap tahun dengan ikon 21 April. Rangkaian kegiatan diusulkan dimulai tiga hingga empat minggu sebelumnya, meliputi pembacaan surat-surat Kartini, kajian artikel kesetaraan gender, serta lomba penulisan esai singkat yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan, dan komunitas literasi.

 

Reporter: Arwan Subakti / Alditta Khoirun Nisa

Editor: Dyah R. Sugiyanto

Dokumentasi: Tim Sekretariat Deputi I

 

 

Galeri