Festival Literasi Yogyakarta, Literasi Bukan Sekadar Membaca
Banguntapan, Bantul - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz bersama Penjabat (PJ) Sekretaris Daerah (Sekda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Aria Nugrahadi, membuka secara resmi Festival Literasi Yogyakarta Tahun 2025 yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Rabu (9/7/2025).
Festival yang diselenggarakan dengan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik bidang Perpustakaan ini mengangkat tema "Membaca, Berdaya, dan Sejahtera".
Kepala Perpusnas menyampaikan, tingkat pemahaman terhadap bacaan di kalangan pelajar dan masyarakat umum masih terbatas. Berdasarkan data dari asesmen nasional maupun internasional menunjukkan hanya sekitar setengah dari pembaca yang mampu memahami isi teks secara utuh.
"Bahkan dalam aspek numerasi, dua dari tiga anak belum memahami konsep dasar berhitung," ungkapnya.
Indonesia, menurutnya, berada di posisi ke-6 dari negara-negara ASEAN dalam hal literasi membaca, masih di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.
Meski begitu, dia mengapresiasi DIY yang menempati posisi kedua tertinggi dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), dengan Kulon Progo menjadi daerah dengan capaian tertinggi di tingkat kabupaten/kota.
"Yogyakarta menunjukkan bahwa dengan sinergi dan komitmen bersama, literasi dapat tumbuh dan berkembang. Tapi tentu tantangan masih ada, seperti kesenjangan antara kegemaran membaca dan kemampuan mencipta atau berpikir kritis," katanya.
Kepala Perpusnas mengajak seluruh elemen untuk membangun ekosistem literasi yang kolaboratif dan berkelanjutan. "Literasi tidak cukup hanya dengan membaca atau menulis. Kita perlu mendorong lahirnya karya dan perilaku yang mencerminkan pemahaman, kreativitas, dan etika," ujarnya.
Sementara itu, Pj DIY Aria mengajak seluruh lemen masyarakat untuk merenungkan kembali makna sejati literasi di tengah era digital yang serba cepat. "Kita sering dihadapkan pada dilema: apakah teknologi menggerus budaya literasi atau justru memperkuatnya? Di sinilah kita harus bijak," katanya.
Ia mencontohkan sejumlah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Finlandia, misalnya, mengembalikan pelajaran menulis tangan ke kurikulum sekolah dasar untuk mengaktifkan lebih banyak area otak anak. Prancis melarang penggunaan ponsel di sekolah, dan Jerman tetap mempertahankan pelajaran menulis indah sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Teknologi tidak untuk memberangus budaya baca, tapi memperkuatnya. Gunakan gawai untuk mengakses ilmu, tapi tetap setia pada buku. Gunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan, tapi jangan lupa kekuatan menulis tangan yang melatih kesabaran dan karakter,” jelasnya.
Lebih jauh, Aria menegaskan bahwa literasi sejati tidak hanya membuat seseorang cerdas, tapi juga bijak. “Orang yang melek literasi harus bisa membaca kehidupan, membedakan yang benar dan salah, adil dan dzalim. Literasi tanpa etika ibarat lentera tanpa cahaya: ada wujudnya tapi tak memberi penerangan,” tegasnya.
Festival Literasi Yogyakarta, lanjutnya, menjadi bukti bahwa literasi bukan hanya wacana. Melalui lomba, diskusi, dan pertunjukan seni, masyarakat diajak untuk mentransformasikan pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Festival literasi yang diselenggarakan pada 9-13 Juli 2025 ini, juga juga dimeriahkan pameran literasi oleh dinas perpustakaan kab/kota, yang merupakan bagian dari kolaborasi lintas tingkatan pemerintah yang menghasilkan implementasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Acara juga diramaikan dengan pasar buku yang diikuti oleh 100 penerbit yang tergabung dalam IKAPI.
Reporter: Wara Merdeka
Dokumentasi: Ahmad Kemal Nasution
Galeri








