Generasi Z, Harapan Baru Dunia Perbukuan Indonesia
Jakarta-Humas Perpusnas. Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha menyampaikan optimisme terhadap dunia perbukuan. Berdasarkan hasil riset tahun 2025, tren membaca meningkat dan antusiasme generasi muda, khususnya Generasi Z terhadap pameran buku juga semakin tinggi.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Seminar Nasional “Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa” yang diselenggarakan secara hibrida oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-46 Perpusnas dan Hari Buku Nasional 2026, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan antusiasme generasi muda terhadap buku terlihat pada pameran buku Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention Center yang diselenggarakan tahun lalu. Dalam pameran buku tersebut, pameran selalu dipadati pengunjung khususnya Generasi Z.
“Generasi Z, terlihat sangat terhubung dengan dunia baca secara global. Mereka mengetahui buku-buku yang akan terbit dan menantikan kehadirannya. Saat itu ada sebuah buku yang terbit pada 27 Agustus. Ketika kami menggelar pameran pada 19 September, buku tersebut sudah habis terjual, padahal belum diterjemahkan. Buku itu sudah menjadi bahan pembicaraan di kalangan anak muda. Hal ini menunjukkan sesuatu yang sangat menggembirakan bagi dunia perbukuan,” urainya.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa buku tetap memiliki tempat penting di tengah perkembangan digital. Buku merupakan sumber ilmu pengetahuan utama dan sumber kreativitas di tengah perkembangan digital. “Pengalaman membaca buku dapat membangun imajinasi seseorang termasuk bagi mereka yang bergerak di bidang teknologi dan sebagainya,” tuturnya.
Meski demikian, Indonesia saat ini menghadapi persoalan aliterasi, yakni masyarakat yang sudah mampu membaca tetapi belum memiliki kebiasaan dan budaya baca yang kuat.
“Oleh karena itu dibutuhkan dukungan akses terhadap buku, perpustakaan, toko buku, hingga harga buku yang terjangkau sehingga budaya baca dapat tumbuh di masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya tersebut perlu didukung dengan sinergitas regulasi dan koordinasi antar lembaga pemerintah terkait dunia perbukuan sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang mengatur agar buku tersedia secara bermutu, murah, dan merata bagi masyarakat.
Terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI), ia mengingatkan akan pentingnya perlindungan hak cipta bagi penulis dan penerbit. Menurutnya, masih banyak yang belum menyadari bahwa karya buku-buku mereka digunakan perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk dipelajari tanpa membayar royalti. “Padahal ketentuan di Indonesia sudah jelas. Seharusnya ada pembayaran royalti dan lisensi,” pungkasnya.*** (AL/Ed: BS/Dok: AIF)
Galeri








