GPMB Gelar Seminar Bahas Literasi di Era Kecerdasan Buatan

Gallery image

GPMB Gelar Seminar Bahas Literasi di Era Kecerdasan Buatan

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar Seminar Nasional 2025.

 

Kegiatan yang mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi Membangun Generasi Literat yang Beretika di Era Kecerdasan Buatan” ini digelar secara daring dan luring di Auditorium Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta, Selasa (4/11/2025).

 

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, dalam pidato kuncinya menyampaikan bahwa hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)  mengubah sebuah paradigma baru dalam sendi-sendi kehidupan.

 

Distribusi pasar kerja kini mulai meninggalkan sistem manual dan mulai menggunakan otomatisasi tenaga kerja hingga 60 persen dan mengganti 30 persen tenaga kerja dengan mesin.  “Artinya, yang dibutuhkan saat ini adalah manusia yang memiliki keterampilan aras tinggi. Di sinilah peranan kecakapan literasi menjadi faktor esensial dalam mendukung keberlanjutan masyarakat,” paparnya.

 

Lebih lanjut, Deputi Adin menjelaskan bahwa kondisi kecakapan literasi memiliki pengaruh yang signifikan pada distribusi pendapatan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi kecakapan literasi, maka ekonomi suatu negara akan semakin tumbuh dan sejahtera. 

 

“Perpusnas terus berupaya dan bersinergi dengan kementerian/lembaga serta pemerintah daerah melalui berbagai program untuk meningkatkan budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat Indonesia,” imbuhnya.

 

Perpusnas tahun 2025-2029 memiliki tiga program prioritas yakni penguatan budaya membaca dan peningkatan kecakapan literasi, pengarusutamaan naskah Nusantara, dan standardisasi dan akreditasi perpustakaan.

 

Sementara itu, Ketua GPMB Herlina Mustikasari dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi abad ke-21 tidak lagi cukup dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup literasi digital, media dan etika teknologi. 

 

Menurutnya, tantangan literasi di era digital bukan hanya soal teknologi, melainkan perlunya membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis memilah informasi dan bertindak dengan etika agar generasi muda menjadi pengguna aktif di tengah banjirnya informasi dan AI yang mampu meniru manusia. 

 

“Di sinilah GPMB hadir sebagai gerakan masyarakat bergandengan bersama gerakan masyarakat lain untuk menjangkau yang tak terjangkau, menyentuh yang tak tersentuh, dan membangkitkan semangat literasi yang berakar pada nilai bukan sekedar data,” tuturnya.

 

Di sisi lain, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Perpusnas, Teti Herawati, menyoroti kiprah perempuan dalam menjaga etika di era AI. Menurutnya perempuan memiliki nilai lebih dalam leadership berbasis empati dan kepedulian sosial. Dalam konteks AI, perempuan dapat mengambil peran penting untuk memastikan teknologi digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

 

“Hal itu dapat dilakukan melalui tindakan nyata seperti mengedepankan privasi dan keamanan data, menolak penggunaan AI untuk manipulisasi, serta mendorong kebijakan AI untuk melindungi kelompok rentan. Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga menjadi pembentuk arah masa depan teknologi yang inklusif, beretika, dan manusiawi,” jelasnya.

 

Dalam sesi seminar, Akademisi Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah Jakarta (PAUD UMJ), Adiyati Fathu Roshonah, menjelaskan pentingnya peran keluarga dalam membangun literasi yang beretika di era kecerdasan buatan dengan menanamkan nilai literasi dasar sejak usia dini sebelum anak mengenal literasi digital. Sedangkan sekolah berperan sebagai ruang pembiasaan dan menumbuhkan nilai budaya literasi, yang dampaknya diperluas masyarakat melalui pembangunan ekosistem literasi sosial.

 

“Harapannya adalah generasi saat ini tidak hanya cakap dalam membaca informasi, tetapi juga bijak dalam memilah makna dan bertanggung jawab atas informasi yang didapat,” ujarnya.

 

Head of Corporate Communication & CSR XLSMART, Dani M. Akhyar,  turut menyoroti etika keamanan penggunaan AI di kalangan generasi muda. Ia menyampaikan bahwa etika yang berlaku di dunia maya mengutamakan nilai, bukan hanya hasil. Untuk itu diperlukan pemahaman batasan penggunaan AI dan menghindari penyebaran konten menyesatkan.

 

“Gunakan AI untuk mendukung kreativitas dan pembelajaran, bukan menipu atau menyalin,” ungkap Dani.

 

Turut hadir Sekjen PP GPMB, Nuradi Indrawijaya, menyebutkan bahwa Rumah Literasi GPMB sebagai mitra perpustakaan desa dan kelurahaan hadir sebagai tempat warga membaca, berdiskusi, berkarya, dan berdaya. Ia menambahkan bahwa Rumah Literasi GPMB adalah kerangka gerakan untuk menyatukan para pegiat literasi.

 

“Rumah Literasi GPMB adalah kerangka gerakan untuk menyatukan para pegiat literasi yang dapat menghidupkan buku, mendekatkan akses buku kepada masyarakat, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, memupuk minat dan budaya baca, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Founder Padepokan Dakwah Kreatif, M. Kh. Rachman Ridhatullah, menjelaskan bahwa saat ini GPMB berhadapan dengan kondisi zaman yang menuntut untuk selalu kreatif. Di mana tantangan pertama yang dihadapi organisasi literasi adalah bagaimana mengembangkan sebuah kreativitas saat berhadapan dengan problem yang terjadi di masyarakat.

 

“Kunci keberhasilan GPMB terletak pada tiga transformasi besar pengembangan program-program yang berkelanjutan. Yang pertama mengubah dari gaya kampanye menjadi pendekatan ekosistem, kemudian dari program menjadi platform, dan dari gerakan sosial menjadi gerakan pengetahuan,” imbuhnya.

 

Reporter: Gilang Arwin Saputri & Qintara Amalia

Dokumentasi: Aji Anwar

 

 

Galeri