Hadapi Tantangan Perubahan Zaman, Pustakawan Harus Menjadi Pemengaruh Positif

Gallery image

Hadapi Tantangan Perubahan Zaman, Pustakawan Harus Menjadi Pemengaruh Positif

Jakarta - Humas Perpusnas, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa pustakawan tidak lagi cukup berperan sebagai pengelola koleksi, melainkan harus menjadi pusat rujukan pengetahuan sekaligus pemengaruh yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya dalam Dialog Kinerja bersama Pustakawan Tahap II di lingkungan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi. “Ketika dia hadir, dia bisa menjadi tujuan dalam mencari pengetahuan. Itulah pustakawan, pusat rujukan,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam menjaga dan mewariskan pengetahuan lintas generasi. “Pengetahuan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu pustakawan harus selalu memutakhirkan ilmunya, menjaga warisan pemikiran masa lalu, sekaligus merawat koleksi, histori, dan sejarah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Aminudin menekankan bahwa pustakawan juga harus tampil sebagai pemengaruh. “Pustakawan itu harus menjadi pemengaruh. Memberikan pengaruh yang positif,” tegasnya.

Tak elak ia mengakui bahwa tantangan besar yang dihadapi pustakawan saat ini, salah satunya adalah perubahan lingkungan internal dan eksternal, termasuk perbedaan generasi di dalam organisasi. “Generasi baru berhadapan dengan senior-senior yang hidupnya dari zaman pascakolonial, berpikirnya masih feodal. Perbedaan generasi ini menjadi masalah tersendiri,” jelasnya.

Di samping itu, perkembangan teknologi yang sangat cepat, termasuk kecerdasan buatan, turut menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan. “Sekarang perubahan teknologi luar biasa cepat, dengan adanya kecerdasan buatan. Mau disebut AI, KA, atau KB, silakan saja. Yang penting kita siap beradaptasi,” ucapnya optimis.

Aminudin menambahkan bahwa perpustakaan memiliki sejarah panjang dan ekspektasi publik yang tinggi, terutama terkait pembinaan dan dukungan kepada masyarakat. “Ada harapan besar dari masyarakat kepada perpustakaan. Karena kita pernah membuat kampanye dan berbagai program, maka ekspektasi itu muncul,” terangnya.

Dalam konteks komunikasi publik, ia menegaskan pentingnya publikasi kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. “Ini bukan pamer. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban publik. Wajar kalau kegiatan baik disampaikan ke media massa dan media sosial,” tuturnya.

Sejumlah langkah konkret yang telah dan akan dilakukan turut disampaikannya, antara lain penguatan budaya kerja kolektif, penyusunan paket pelatihan bagi pegawai, serta penegakan kebijakan ruang kerja bebas rokok. “Langkah kita tidak boleh individual. Kita ini kolega. Harus bekerja bersama, berangkat dari visi lembaga, memahami tugas, memahami lingkungan, dan menguatkan kerja sama tim,” ucapnya.

Seluruh upaya tersebut, menurut Aminudin, harus berorientasi pada hasil bersama, bukan pencapaian personal. “Pekerjaan kita harus diorientasikan untuk pencapaian hasil bersama, bukan hasil kerja individual,” pungkasnya. *** (AKN/Ed.DRS/Dok.AA)

Galeri