Hasil Survei Kepuasan Masyarakat 2025, Lima Layanan Perpusnas Raih Skor Tertinggi
Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Perpustakaan sebagai penyedia jasa informasi dituntut memberikan pelayanan yang maksimal, demi tercapainya kepuasan pemustaka. Kepuasan tersebut akan terwujud apabila persepsi pemustaka terhadap layanan perpustakaan melebihi harapannya.
Oleh karena itu, perpustakaan perlu menjalin hubungan yang baik dengan pemustaka, serta menyediakan layanan dan produk informasi yang berkualitas dan bermutu. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Survei Kepuasan Pemustaka (SKM).
Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Jasa Informasi dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Yeri Nurita, dalam kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun Kajian Kepuasan Pemustaka 2025 yang diselenggarakan secara hibrida Kamis (27/11/2025).
“Kegiatan ini merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan Perpusnas untuk memastikan layanan yang kita sediakan tetap relevan, berkualitas, inklusif, dan berorientasi kepada pemustaka,” jelasnya.
Ia menjelaskan survei kepuasan pemustaka pada tahun 2025, dilaksanakan sepenuhnya secara swakelola mulai dari penyusunan instrumen hingga analisis.
“Partisipasi lebih dari 3.700 responden menunjukkan besarnya kepedulian masyarakat terhadap pelayanan Perpusnas. Hal ini menjadi dasar yang kuat bagi evaluasi serta peningkatan layanan ke depan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, yang hadir secara daring, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan SKM hingga triwulan IV tahun 2025.
“Saya sangat mengapresiasi kepada para narasumber yang hadir, baik secara luring maupun daring dan kepada tim Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara sehingga SKM dapat terlaksana sampai triwulan IV,” tuturnya.
Lebih lanjut, Suharyanto menyampaikan delapan misi pokok guna mendukung visi Perpusnas, menjadi perpustakaan yang transformatif dan meningkatkan budaya baca dan literasi untuk mewujudkan bangsa bermartabat bersama Indonesia maju menuju Indonesia Emas 2045.
“Delapan misi tersebut adalah memperkuat budaya baca dan meningkatkan kecakapan literasi masyarakat, memperkuat perpustakaan digital dengan memanfaatkan teknologi terkini, meningkatkan pengelolaan perpustakaan sesuai standar, memperkuat program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, memperkuat peran masyarakat dalam gerakan budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi, peningkatan kualitas tenaga perpustakaan, serta pelestarian naskah kuno Nusantara,” urainya.
Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia sekaligus sebagai pembahas dari tim ahli kajian kepuasan pemustaka di lingkungan Pujasintara, Rahmi, memaparkan hasil Survei Kepuasan Pemustaka (SKM) tahun 2025. Menurutnya, angka-angka ini bukan sekadar nilai semata, melainkan jejak pengalaman pemustaka dalam memanfaatkan layanan Perpusnas.
“Survei Kepuasan Pemustaka dilakukan baik secara daring maupun luring sepanjang triwulan I hingga IV tahun 2025, mencakup 28 layanan yang tersedia di Perpusnas,”imbuhnya. Ia menerangkan, hasil SKM diharapkan dapat membantu audiens membaca hasil, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), tren, dan Importance–Performance Analysis (IPA) alias Analisis Tingkat Kepentingan–Kinerja, hingga merumuskan rekomendasi,”urainya.
Menurutnya, berdasarkan nilai IKM per layanan, terdapat lima layanan dengan skor kepuasan tertinggi, yakni Layanan Surat Kabar Langka (3,80), Layanan Referensi Virtual (3,75), Layanan Koleksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (3,69), Layanan Buku Langka (3,69), dan Layanan Penelusuran Informasi dan Penelitian (3,68).
“Layanan-layanan tersebut memiliki kesamaan nilai yang dapat dijadikan acuan oleh layanan lainnya, misalnya standar respons cepat dan konsisten, informasi layanan jelas (syarat, langkah, dan waktu proses), serta pendampingan pustakawan terasa kompeten dan suportif saat mendampingi pemustaka,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan area prioritas perbaikan yang bersifat lintas layanan diantaranya persyaratan dan prosedur belum cukup sederhana, waktu layanan dan antrean khususnya pada jam padat, akses dan transparansi sarana pengaduan, penyajian informasi layanan yang perlu dibuat lebih ringkas, serta kebutuhan perbaikan pada petunjuk penggunaan dan keandalan perangkat atau fasilitas pendukung.
“Adapun beberapa langkah percepatan perbaikan (quick wins) antara lain standarisasi SOP lintas layanan, pembangunan basis pengetahuan layanan berupa FAQ dan template jawaban, peningkatan kompetensi pustakawan pada layanan dengan intensitas interaksi tinggi, serta monitoring rutin terhadap unsur layanan yang menunjukkan penurunan,” pungkasnya.
Turut hadir secara daring melalui Zoom meeting, Guru Besar Ilmu Perilaku Informasi Universitas Airlangga Dessy Harisanty, Sekretaris Jenderal Ikatan Pustakawan Indonesia, Agus Rifai, dan hadir secara luring, Guru SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, Aris Yohanes Elean serta para akademisi ilmu perpustakaan, baik dosen maupun mahasiswa ilmu perpustakaan dan sains informasi, pakar dan praktisi di bidang perpustakaan dan informasi. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Pujasintara Perpusnas agar masyarakat dapat mengetahui hasil dari kajian pemustaka 2025 yang telah dilakukan oleh Pujasintara.
Reporter: Anastasia Lily
Editor: Dyah Sugiyanto
Dokumentasi: Qintara Amalia
Galeri









