Inilah Capaian Strategis Perpusnas dalam Pelestarian Naskah Nusantara dan Penguatan Akreditasi Perpustakaan

Gallery image

Inilah Capaian Strategis Perpusnas dalam Pelestarian Naskah Nusantara dan Penguatan Akreditasi Perpustakaan

Medan Merdeka Selatan—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mencatat capaian strategis sepanjang tahun 2024–2025 melalui program prioritas nasional yaitu pengarusutamaan Naskah Nusantara dan penguatan standardisasi dan akreditasi perpustakaan, termasuk pembangunan perpustakaan sekolah rakyat di berbagai daerah.

Belum lama, Perpusnas mendapat penghargaan dari UNESCO Memory of the World (MoW) Prize 2024, sebuah penghargaan bergengsi tingkat dunia atas komitmen dalam melaksanakan pelestarian dan konservasi naskah Nusantara.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perpusnas, E.Aminudin Aziz dalam Taklimat Media Media Televisi Perpusnas 2025, Jumat (31/10/2025).

Dalam pertemuan bertema “Perpustakaan Nasional, Transformasi Literasi untuk Indonesia Maju,” Ia menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi bukti nyata pengakuan dunia terhadap kerja pelestarian naskah yang dilakukan Indonesia.

“Baru dua minggu lalu, kami bersama tim diundang ke Barcelona untuk memaparkan praktik baik dalam forum The Best in Heritage. Sebanyak 42 lembaga terpilih dari lima benua, Perpusnas menjadi satu-satunya institusi berlatar belakang perpustakaan. Sementara, 41 lembaga lainnya berasal dari sektor museum. Ini menjadi sebuah keunikan tersendiri,” tuturnya.

Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menjelaskan bahwa program pengarusutamaan Naskah Nusantara merupakan langkah strategis. Menurutnya, upaya tersbeut untuk memastikan keberlanjutan warisan dokumenter bangsa agar tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat.

Hingga akhir tahun 2024, jumlah naskah Nusantara yang tercatat mencapai 143.259 naskah, terdiri atas 100.770 naskah yang berada di Indonesia dan 42.489 naskah yang tersebar di luar negeri. Dari jumlah tersebut, 13.318 naskah tersimpan di Perpustakaan Nasional, dan 7.987 naskah telah berhasil didigitalisasi serta dapat diakses publik melalui portal Khastara (Khasanah Pustaka Nusantara).

Suharyanto menjabarkan, program pengarusutamaan Naskah Nusantara dijalankan melalui tiga fokus utama, yaitu pelestarian fisik dan isi naskah, pendayagunaan dan pemanfaatan naskah, serta kampanye publik agar masyarakat semakin mengenal khasanah literasi klasik bangsa.

“Hingga saat ini, sebanyak delapan naskah Nusantara telah diakui UNESCO dalam daftar Memory of the World (MoW), yaitu La Galigo (2011), Negarakertagama (2013), Babad Diponegoro (2013), Cerita Panji (2017), Hikayat Aceh (2023), Tambo Tuanku Imam Bonjol (2024), serta dua naskah terbaru yang diakui pada tahun 2025, yakni Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan karya-karya Hamzah Fansuri,” urainya.

Selain itu, dirinya menyebutkan, Perpusnas juga mengembangkan konsep perpustakaan sebagai ruang kreativitas masyarakat. Di Gedung Layanan Perpusnas, berbagai kegiatan literasi diselenggarakan sepanjang tahun, mulai dari kelas literasi untuk anak-anak, remaja, dan penyandang disabilitas, hingga kelas aksara yang bertujuan melestarikan berbagai aksara daerah.

“Kelas aksara kami selenggarakan setiap akhir pekan sepanjang tahun. Para penggiatnya adalah filolog dan pustakawan Perpusnas,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Utama (Sestama) Joko Santoso, menjelaskan bahwa Perpusnas memperkuat kualitas perpustakaan di seluruh wilayah Indonesia melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK), baik fisik maupun nonfisik.  “Hingga tahun 2025, Perpusnas telah berhasil membangun 209 gedung layanan perpustakaan dengan rincian 173 gedung layanan perpustakaan di kabupaten, 31 gedung layanan perpustakaan di kota, dan 5 gedung layanan perpustakaan di provinsi,” jelasnya.

Terkait perluasan gedung layanan perpustakaan, Joko menjelaskan, ada 53 lokus gedung layanan perpustakaan di daerah yang sudah diperluas ruangannya. Gedung layanan yang dimaksud tersebut terdiri dari 30 gedung perpustakaan di kabupaten, 11  gedung perpustakaan di kota, dan di provinsi ada 12 gedung perpustakaan.

“Untuk renovasi gedung-gedung layanan yang mengalami kerusakan, dengan DAK fisik kami renovasi. Sampai tahun ini, kita sudah melakukan renovasi ada 92 gedung layanan perpustakaan yang rusak di daerah. Jadi, rinciannya ada 73 di kabupaten, 16 di kota, dan tiga di provinsi,” urainya.

Joko menambahkan, Perpusnas melalui DAK Fisik juga memberikan bantuan bahan perpustakaan di 381 lokus, bantuan TIK di 386 lokus, dan perabot di 363 lokus. “Perpusnas memberikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik di 272 lokus di seluruh Indonesia, baik di provinsi, kabupaten, dan kota. "DAK digunakan untuk mendukung kegiatan penguatan budaya baca dan kecakapan literasi, pengarusutamaan naskah nusantara, standardisasi, dan akreditasi perpustakaan melalui festival literasi daerah," Jelasnya.

Perpusnas, lanjutnya, juga memberikan dukungan perpustakaan ke sekolah rakyat. "Pada 2025 terdapat 100 lokus perpustakaan yang dibangun di sekolah rakyat dan total perpustakaan di sekolah tersebut mencapai 224," pungkasnya.

 

Reporter: Anastasia Lily

Editor : Dyah Sugiyanto

Dokumentasi: Aji Anwar & Andri Tri Kurnia

Galeri