Inspirasi Buku ‘Visi Anak Pasar’: Dari Pasar Simpang ke Mimbar Dunia

Gallery image

Inspirasi Buku ‘Visi Anak Pasar’: Dari Pasar Simpang ke Mimbar Dunia

Ciamis, Jawa Barat—Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa buku “Visi Anak Pasar”, karyanya, membawa pesan spesifik untuk tiga kelompok masyarakat. Pertama, untuk mereka yang hidup dalam kekurangan ekonomi. Ia mengajak agar tidak menyerah pada keadaan. “Kreativitas lahir dari cara kita berpikir, bukan dari banyaknya harta,” ujarnya. 

Kelompok kedua yaitu warga kampung atau wilayah pinggiran. Ia menceritakan bagaimana dahulu sempat diremehkan saat bersekolah di Ciamis, namun justru tekadnya terbentuk dari pengalaman tersebut. “Orang kampung jangan minder,” tuturnya. 

Ketiga, yakni kelompok yang berasal dari sekolah atau lingkungan yang tidak dikenal. Menurutnya, sekolah kecil di pelosok tetap dapat mengantar peserta didik meraih prestasi bila gurunya berdedikasi dan lingkungan belajarnya dikelola dengan baik. 

Hal tersebut diutarakannya dalam gelaran kegiatan Bedah Buku “Visi Anak Pasar” pada Senin (1/12/2025) di Aula Adipati Angganaya Bappeda Kabupaten Ciamis, yang dihadiri oleh 127 peserta dari berbagai unsur pemerintahan, pendidikan, komunitas literasi, hingga perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Aminudin menceritakan bahwa buku autobiografi Visi Anak Pasar ditulis dari perjalanan hidupnya sebagai anak pedagang di Pasar Simpang Ciamis, hidup dalam keterbatasan namun terus memelihara cita-cita besar. “Saya ini betul-betul anak pasar. Sejak bayi sudah dibawa orang tua untuk berjualan. Tetapi kekurangan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa judul tersebut adalah paradoks yang menggambarkan perjalanan hidupnya, berasal dari lingkungan sederhana, namun memiliki visi dan tekad untuk mengubah nasib melalui pendidikan.

Dengan penuh haru dan kehangatan, Aminudin juga mengenang guru-gurunya, termasuk guru matematika yang pernah mengusirnya dari kelas karena pertanyaan kritisnya, serta seorang Guru IPA kelas 1-3 SMP Cikoneng Atty Surpiati, yang kisahnya ia abadikan dalam sepenggal bab di bukunya.

Pengalaman-pengalaman kecilnya yang membentuk pola pikir kritis, antara lain saat menyoal cara menghitung luas bola dalam pelajaran matematika, hingga kisah kedisiplinan dalam kegiatan sekolah. “Kalau saya bisa sampai di titik ini, itu karena dididik keras oleh guru-guru saya,” lugasnya.

Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada ilustrator jilid sekaligus teman sebangkunya, Jono, yang sejak SMP telah menunjukkan ketelitian artistik, serta kepada para sahabat yang turut hadir dan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. 

Selain itu, Aminudin mengatakan bahwa keberhasilan seseorang tidak otomatis menurun ke anak-anaknya. Karena itu ia selalu mendidik anaknya untuk tidak menikmati fasilitas hanya karena ayahnya telah sukses. 

Pentingnya komunikasi keluarga juga dibahasnya seperti obrolan duduk makan bersama (dinner talk), sebagai ruang menyamakan nilai, tekad, dan karakter anak-anak. “Anak-anak harus tahu bahwa kesuksesan bukan warisan fasilitas. Yang diwariskan adalah nilai perjuangan,” terangnya. 

Menariknya, Aminudin menegaskan bahwa ia tidak mengambil royalti dari buku ini dan membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat. Pada acara tersebut, ia juga membagikan eksemplar buku “Visi Anak Pasar” kepada 50 peserta pertama yang hadir.

Melalui kegiatan ini, ia juga memotivasi para peserta yang hadir untuk giat berusaha mengejar mimpi. “Jangan patah semangat. Teruslah belajar, teruslah melangkah. Kita semua punya kesempatan yang sama untuk tumbuh melalui pendidikan, di mana pun kita berasal,” pesannya. 

Ilustrator sampul, pelukis nasional, yang juga sahabat dekatnya sejak kecil, Jono Sugiartono, mengungkapkan filosofi dan proses kreatif di balik desain buku Visi Anak Pasar. Ia mengenang perjalanan mereka berdua yang dimulai dari kampung kecil di Ciamis, ketika setiap hari Aminudin berangkat sekolah menggunakan sepeda sembari menjajakan dagangan ibunya dan tetap menyempatkan membaca buku di perjalanan.

Menurut Jono, karakter tekun dan integritasnya sudah terlihat sejak masa remaja. Kesederhanaan hidup tidak menghalangi sahabatnya itu untuk memelihara impian besar. “Kami sama-sama berasal dari keluarga pedagang pasar, tapi sejak kecil sudah punya tekad untuk mengubah nasib,” katanya.

Jono menjelaskan bahwa sampul buku dirancang berdasarkan perjalanan hidup sahabatnya itu. Topi penjelajah melambangkan keberaniannya menempuh perjalanan intelektual hingga ke luar negeri. Busana berdasi menggambarkan transformasi dari anak pasar menjadi akademisi dan pemimpin nasional tanpa kehilangan identitas lokal. Latar hitam dipilih sebagai simbol ruang kosong yang diisi oleh ilmu pengetahuan, sementara garis horizontal merepresentasikan Al-Qur’an dan buku, dua hal yang baginya selalu menyertai Aminudin sejak masa SMP. Ia juga memasukkan fragmen catatan tulisan tangan Aminudin yang sejak remaja konsisten menuliskan cita-cita dan motivasi dirinya. 

“Ilustrasi ini bukan hanya gambar, tetapi perjalanan. Aminudin tidak pernah berubah, tetap sederhana, dekat dengan budaya Sunda, dan memiliki komitmen kuat pada pendidikan sejak kecil,” ucapnya. 

Guru IPA SMP Cikoneng, Atty Supriyati, yang pernah mengajar Aminudin selama kelas 1 hingga kelas 3 SMP, turut memberikan kesan mendalam mengenai sosok muridnya tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal, Aminudin kecil sudah menonjol sebagai siswa yang rapi, serius, dan berkarakter kuat.

Menurutnya, ia bukan hanya dikenal berprestasi di sekolah, tetapi juga aktif di lingkungan luar sekolah melalui berbagai kegiatan mulai OSIS hingga kesenian. Ia menggambarkan Aminudin sebagai anak yang sempurna penampilan, tertib, rambut klimis, dan berjalan tegap, sehingga mudah dikenali oleh para guru.

Atty mengenang bagaimana lingkungan keluarga turut membentuk karakter Aminudin. Ia masih mengingat sosok kedua orang tua Amin, yang sederhana namun penuh disiplin. “Saya masih terbayang bagaimana mereka datang ke sekolah dengan pakaian yang rapi dan sopan,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejak SMP, Aminudin sudah menunjukkan bakat kepemimpinan. Ketika ada kelas kosong, para guru sering memintanya menggantikan untuk membantu mengajar adik kelas. Ia bukan hanya cepat memahami pelajaran, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, dan kerap memancing teman-temannya untuk berpikir kritis.

Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika Aminudin datang ke rumahnya, saat itu guru tersebut tengah menempuh pendidikan lanjutan. Dengan penuh hormat, Aminudin menunjukkan perhatian tulus pada pendidikan gurunya dengan lontaran pertanyaan. Tak hanya bertanya, Aminudin muda bahkan mencarikan buku referensi tebal, sekitar 6 cm, yang dibutuhkan sang guru, hingga mencarinya ke Jakarta karena tidak tersedia di Bandung maupun Bogor.

“Ini bukan anak yang sibuk mengejar dirinya sendiri. Dia memikirkan gurunya, memperhatikan apa yang saya butuhkan. Itu sangat menyentuh,” sebutnya dengan suara bergetar. 

Hubungan baik dengan Aminudin tetap terjalin hingga kini. Ia selalu diundang pada berbagai pencapaian besar muridnya itu, mulai dari pengukuhan profesor, jabatan akademik, hingga tugas di luar negeri. “Silaturahmi tidak pernah putus,” ujarnya bangga.

Harapan Atty mengenai kisah hidup Aminudin dapat memotivasi generasi muda Ciamis. “Semoga muncul penulis-penulis muda yang lebih kreatif. Untuk Pak Amin, teruslah berkarya dan menginspirasi anak bangsa,” harapnya. 

Konsistensi karakter Aminudin juga terlihat di masa SMA. Salah satu sahabat masa remajanya, Rd. Rani Trihayatini, yang dulu merupakan Ketua Kelas IPA 3 SMA Ciamis, turut memberikan kesan mendalam tentang sosok yang ia kenal sejak 1983. Menurut Rani, perjalanan panjang Aminudin hari ini tak lepas dari karakter kuat yang sudah terlihat sejak di bangku sekolah menengah.

“Prestasinya sekarang bisa dicari di YouTube, tapi cerita tentang siapa beliau di masa SMA hanya kami, teman-temannya, yang tahu,” ungkapnya. 

Ia mendeskripsikannya sebagai remaja pendiam, sederhana, namun memiliki keteguhan hati dan empati yang besar. “Kami hormat bukan karena jabatannya sekarang, tapi karena kesederhanaannya. Ia tetap rendah hati, tetap menjadi teman yang sama seperti dulu,” lanjutnya.

Rani juga mengisahkan bagaimana Aminudin remaja kerap pulang sekolah dengan bekal yang sangat terbatas, seringnya hanya cukup untuk ongkos naik delman. “Kadang kalau uangnya kurang, ia turun di tengah jalan dan melanjutkan dengan berjalan kaki.  Sekarang ia sudah melangkah sampai Inggris dan Turki. Dulu berjalan kaki pulang sekolah, sekarang ia berjalan ke mimbar internasional. Kami bangga sekali,” kenangnya. 

Meski pendiam, Aminudin kecil dikenal memiliki gaya khas yang justru sering jadi bahan candaan penuh kehangatan di kelas, misalnya rambut selalu rapi mengkilap, pakaian selalu bersih dan licin, serta kebiasaan memakai sepatu pantofel di tengah teman-temannya memilih sepatu olahraga. “Itu yang paling melekat. Kalau jalan, pasti kelihatan dari jauh, itu Amin,” ujarnya sambil tertawa.

Kedekatan itu membuat Rani merasakan sendiri kegigihan sahabatnya itu. Ia mengenang masa ketika Aminudin bercerita ingin melanjutkan kuliah, namun kondisi ekonomi keluarga menjadi hambatan. “Dengan segala keterbatasan, dia tetap berjalan. Dia ingin sekali berprestasi. Dan ternyata benar, jalur hidupnya akhirnya terbuka lebar,” tuturnya. 

Lebih lanjut, Rani mengemukakan, keberhasilan hari ini bukanlah kejutan bagi orang-orang yang mengenalnya sejak muda. “Dari dulu kami sudah melihat dia berbeda. Berpikirnya dalam, sikapnya halus, tapi tekadnya kuat. Bahkan hingga kini, di tengah kesibukan sebagai pejabat negara, Amin tetap menjaga hubungan baik dengan teman-teman lamanya. Kalau kami bertemu, cara ngobrolnya masih sama. Tidak ada jarak. Tidak memposisikan diri sebagai profesor,” lugasnya. 

Rani menegaskan bahwa kisah hidup Aminudin adalah inspirasi nyata bagi generasi muda Ciamis. “Ia tumbuh dari keterbatasan, tapi tidak pernah berhenti melangkah. Sampai hari ini pun, ia tetap setia menjaga silaturahmi. Itu kebanggaan terbesar kami,” pungkasnya.

 

Reporter & Dokumentasi: Alditta Khoirun Nisa

Editor: Dyah R. Sugiyanto

Galeri