Investasi Jangka Panjang Relima: Dampingi Masyarakat Bangun Budaya Literasi

Gallery image

Investasi Jangka Panjang Relima: Dampingi Masyarakat Bangun Budaya Literasi

Jakarta, Humas Perpusnas — Di tengah banyaknya anggapan masyarakat yang mengira kehadiran Program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) identik dengan penyaluran bantuan fisik, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz mengingatkan bahwa peran utama Relima adalah sebagai pendamping masyarakat dalam membangun budaya literasi. Aminudin pun meminta para relawan terus mengedukasi masyarakat bahwa pendampingan literasi merupakan investasi jangka panjang.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan Relima bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Penegasan tersebut disampaikannya dalam Dialog Kerja Relima Tahun 2026 secara daring, Jumat (17/7/2026).

Dialog kerja yang berlangsung lebih dari tiga jam tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus forum penyampaian aspirasi relawan dari berbagai wilayah di Indonesia. Di antara 360 relawan dan Satuan Tugas (Satgas) Relima, beberapa menyampaikan pengalamannya.  Mereka  mendampingi perpustakaan desa, taman baca masyarakat (TBM), serta berbagai lokus penerima bantuan bahan bacaan bermutu, sekaligus mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program.

Berbagai masukan mengemuka dalam dialog tersebut. Relawan dari berbagai wilayah menyoroti penguatan kapasitas pengelola perpustakaan, penyederhanaan pelaporan, keterbatasan akses di wilayah geografis yang sulit, minimnya dukungan anggaran bagi perpustakaan desa, hingga belum optimalnya pemanfaatan bantuan bahan bacaan bermutu. Di sisi lain, sejumlah daerah juga melaporkan praktik kolaborasi yang telah berjalan baik dengan dinas perpustakaan daerah.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kepala Perpusnas menegaskan bahwa pelaksanaan program Relima tidak dapat diseragamkan di seluruh Indonesia. "Wilayah dengan kondisi geografis yang sulit maupun karakter budaya yang berbeda perlu mendapatkan penyesuaian dalam pelaksanaan program. Yang kita kejar bukan sekadar kuantitas, tetapi kualitas dampak yang dihasilkan," ujarnya.

Sebagai contoh penerapan pendekatan berbasis dampak, Aminudin mengangkat pengalaman pendampingan literasi pada Program Sekolah Rakyat. Menurutnya, peserta yang sebelumnya belum mengenal huruf mampu berkembang hingga dapat membaca, bahkan menghasilkan lebih dari 1.100 cerita pendek dan sekitar 180 video hasil alih media. 

Ia menjelaskan bahwa pembangunan budaya baca membutuhkan proses yang berkelanjutan karena masyarakat Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat. Oleh karena itu, gerakan literasi harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya kegiatan yang bersifat sesaat. "Membaca dan menulis memerlukan pembudayaan serta pembiasaan. Gerakan literasi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan hit and run, tetapi harus berlangsung secara berkelanjutan," tuturnya.

Terkait bantuan bahan bacaan bermutu yang belum optimal dimanfaatkan di sejumlah lokasi, Kepala Perpusnas mengatakan, temuan tersebut perlu dikaji lebih lanjut. Tujuannya, untuk mengetahui bahwa koleksi yang telah didistribusikan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. Kajian tersebut mencakup kemungkinan penerapan mekanisme pemanfaatan yang lebih efektif sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengakui bahwa efisiensi anggaran berdampak terhadap sejumlah program penguatan literasi, mulai dari penyaluran bantuan bahan bacaan bermutu, kegiatan advokasi, hingga perluasan jangkauan program Relima. "Idealnya Relima berjalan hampir sepanjang tahun karena pembudayaan literasi tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Jika dukungan anggaran memungkinkan, program seperti ini perlu diperluas baik dari sisi durasi maupun jumlah relawan," ungkapnya.

Selain aspek program, Aminudin turut meminta agar mekanisme pelaporan dibuat lebih sederhana dan lebih berorientasi pada dampak yang dihasilkan di masyarakat, bukan sekadar pemenuhan administrasi maupun jumlah kegiatan.

Tak lupa, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh Relima yang tetap menjalankan pendampingan literasi di berbagai daerah dengan segala keterbatasan. Baginya, semangat para pegiat literasi menjadi salah satu sumber motivasi Perpusnas dalam memperjuangkan penguatan program literasi di tingkat nasional. "Semangat kami dibakar terus oleh teman-teman pegiat literasi di masyarakat. Itu menjadi salah satu pendorong kami untuk terus bekerja," pungkasnya.

Mengakhiri dialog, Perpusnas menegaskan bahwa keberadaan Relima merupakan bentuk apresiasi negara terhadap para pegiat literasi yang selama ini secara sukarela menggerakkan budaya baca di tengah masyarakat. Kolaborasi antara Perpusnas, pemerintah daerah, komunitas, dan para relawan diharapkan terus diperkuat agar gerakan literasi semakin berdampak bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AA)

Galeri