Jamu Sebagai Simbol Perlawanan dan Pelestarian Tradisi
Merdeka Selatan, Jakarta- Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar Lokakarya Jamu Diponegoro dengan tema “Tradisi, Ketahanan dan Perlawanan”, di Plaza Gedung Perpusnas, Medan Merdeka Selatan (Marsela), untuk memperingati 200 Tahun Perang Jawa pada Kamis (24/7/2025).
Dalam sambutannya, Yeri Nurita, Pustakawan Ahli Madya, membahas mengenai Pangeran Diponegoro yang bukan saja seorang pemimpin perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga figur yang menjaga dan menghidupi budaya lokal dalam kehidupan sehari-harinya.
“Pangeran Diponegoro memilih jamu sebagai cara untuk mempertahankan daya tahan tubuh, dan juga simbol perlawanan terhadap dominasi pengobatan barat,” ungkapnya.
Melalui lokakarya ini, Perpusnas berupaya untuk tidak hanya memperkenalkan kembali sejarah penggunaan jamu oleh Pangeran Diponegoro. Selain diskusi sejarah, peserta lokakarya juga diajak meracik jamu untuk mendekatkan teori dengan praktik, serta sejarah dengan kehidupan sehari-hari.
“Akhir kata, mari bersama kita menghidupkan kembali pengetahuan leluhur dan menenemukan kekuatan budaya dalam segelas jamu,” tutupnya.
Lokakarya menghadirkan Intan Rahmaningtyas, Co-founder dan Manajer dari Lestari Jamuku, sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, Intan membagikan kisah singkat tentang perjuangan mendirikan Lestari Jamuku, sekaligus menekankan relevansi jamu sebagai warisan budaya yang hidup.
“Pangeran Diponegoro lebih memilih minum jamu seperti beras kencur dan kedaung dibandingkan pengobatan kolonial modern. Ia juga menjaga pola makan sederhana, termasuk mengonsumsi ubi kering untuk mengatasi mabuk laut,” tambah Intan. Pilihan Diponegoro tersebut bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga simbol perlawanan dan pelestarian tradisi.
Intan melanjutkan, bahwa jamu dikenal sebagai kependekan dari Jampi dan Usodo—doa penyembuhan dan kesehatan. Di masa silam, proses peracikan biasanya diawali dengan doa, bahkan dijalani dengan puasa terlebih dahulu. Semua dilakukan sebagai bentuk kesungguhan spiritual karena diyakini bahwa khasiat jamu akan lebih kuat bila diramu dengan laku dan niat yang tulus.
Setelah memberikan penjelasan, Intan mengajak peserta untuk membuat jamu secara langsung. Jamu Kunyit Asam. Mengapa Jamu Kunyit Asam? Karena merupakan salah satu jamu yang tidak begitu sulit dibuat dan memiliki banyak manfaat terhadap tubuh.
Lewat lokakarya ini, Perpusnas menegaskan komitmennya untuk melestarikan pengetahuan tradisional dan agar masyarakat lebih menghargai warisan budaya lokal.
Reporter: Frista Maria
Dokumentasi: Prakas Agrestian
Editor: Eka Cahyani
Galeri








