JKPI Malaysia Bahas Kolaborasi Perpustakaan Islam dan Pemanfaatan AI dengan Perpusnas
Medan Merdeka Selatan, Jakarta — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menerima kunjungan kerja delegasi Jawatankuasa Perpustakaan Islam Malaysia (JKPIM), Persatuan Pustakawan Malaysia (PPM) dalam rangka mempererat hubungan kelembagaan dan menjajaki peluang kerja sama bidang kepustakawanan, khususnya dalam pengembangan perpustakaan Islam dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Rombongan tersebut disambut langsung oleh Kepala Bagian Umum Perpusnas, Chaerul Umam, didampingi Ketua Kelompok Kerja Bagian Kerja Sama Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat (HOKH), Vira Farhana, serta Pustakawan Ahli Muda, Sutrilastio.
Chaerul Umam menyampaikan apresiasi atas kedatangan para pustakawan Malaysia ke Indonesia. “Kami sangat berbahagia atas kunjungan Bapak-Ibu sekalian ke Perpusnas. Mudah-mudahan kami dapat memberikan layanan terbaik selama di sini,” ujarnya saat menerima audiensi, Rabu (29/10/2025).
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dalam Colombo Plan Program tahun 2023 yang membahas program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Hadir pula Fungsional Diplomat Ahli Madya Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Moehammad Amar Ma’ruf, yang menyambut baik terselenggaranya audiensi ini sebagai penguatan diplomasi literasi dan jejaring perpustakaan di kawasan.
“Kami berharap Perpusnas dapat menjadi rumah kedua bagi para pustakawan dunia. Banyak peluang yang bisa ditingkatkan antara Malaysia dan Indonesia dalam tingkat nasional maupun individu,” ungkapnya.
Ketua JKPIM, Nor Azzah Momin, menjelaskan bahwa pihaknya telah merencanakan kunjungan ke Indonesia sejak 2019 namun baru terealisasi pascapandemi. Selain Perpusnas, delegasi juga mengunjungi tujuh lembaga dan universitas di Jakarta serta menjajaki peluang kerja sama dengan perpustakaan Islam di Indonesia.
“Kami berhasrat untuk membina hubungan jaringan dan kerja sama dengan perpustakaan-perpustakaan Islam di sini. Selain bertukar ide, kami juga berdiskusi tentang program bersama, konferensi, dan penerbitan ilmiah,” tuturnya.
Noor Azzah menambahkan bahwa sejak 2006, komite yang dipimpinnya telah menggelar World Congress of Muslim Librarians serta menyusun panduan perpustakaan masjid bersama Perpustakaan Nasional Malaysia.
Menanggapi hal tersebut, Chaerul Umam menegaskan kesiapan Perpusnas untuk membuka peluang kolaborasi lebih luas. Ia menyampaikan bahwa Perpusnas memiliki koleksi naskah Islam kuno (ancient manuscripts) dan telah menerapkan sistem metadata digital International Image Interoperability Framework (IIIF) untuk akses daring melalui platform Khastara.
“Kami memiliki banyak manuskrip Islam, sebagian bahkan terdaftar di UNESCO. Tidak semua dapat diakses fisik karena rapuh, tapi kami terus berupaya membuka akses digital setinggi mungkin,” jelasnya.
Pria yang juga berkiprah sebagai Presiden ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN) periode 2026–2028 tersebut berharap momentum pertemuan ini dapat memperkuat kerja sama regional bidang perpustakaan dan literasi. “Kami menyambut baik kolaborasi jangka panjang yang bermanfaat bagi perkembangan perpustakaan Islam di ASEAN,” ucapnya.
Delegasi Malaysia juga menyoroti isu pemanfaatan AI dalam layanan perpustakaan. Menanggapi hal itu, Vira Farhana menyampaikan bahwa Perpusnas sedang mengembangkan teknologi AI untuk mendukung preservasi koleksi digital.
“Kami sedang mengembangkan beberapa aplikasi yang melibatkan AI, terutama dalam pelestarian koleksi. AI bukan ancaman, tapi peluang untuk menambah nilai layanan perpustakaan,” pungkasnya.
Di tengah sesi tur layanan perpustakaan ke sejumlah fasilitas, rombongan juga mengunjungi Lantai 24. Di lokasi tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, turut menemui para delegasi dan menyambut secara langsung.
Reporter: Vera Azharra / Alditta Khoirun Nisa
Dokumentasi: Suci Amelia Frananta
Galeri










