Kajian Perpusnas 2025: Buku Kategori Fiksi dan Pendidikan Paling Diminati
Jakarta, Humas Perpusnas - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melakukan kajian kebutuhan pemustaka pada tahun 2025. Hasil kajian ini sebagai dasar pengembangan Koleksi perpustakaan.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menyampaikan bahwa kajian kebutuhan informasi pemustaka menjadi bagian penting dari upaya Perpusnas memperkuat budaya baca dan literasi masyarakat.
Ia menjelaskan, bahwa program tersebut sejalan dengan misi keempat Asta Cita. Di dalamnya, Presiden dan Wakil Presiden menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, termasuk di bidang pendidikan, sains, teknologi, kesehatan, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
"Perpusnas memiliki peran dalam mendukung terwujudnya masyarakat yang berpengetahuan dan berbudaya. Kajian ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat peran tersebut," ungkapnya pada Diseminasi Hasil Kajian Kebutuhan Informasi Pemustaka Tahun 2025
yang diselenggarakan secara daring, Kamis (11/3/2026).
Menurutnya, hasil kajian kebutuhan informasi ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas pengembangan Koleksi perpustakaan, tidak hanya di Perpusnas tetapi juga bagi perpustakaan di seluruh Indonesia.
"Pengembangan Koleksi tidak boleh lagi didasarkan pada asumsi atau tren semata, melainkan harus berbasis pada analisis kebutuhan pemustaka dan data pemanfaatan Koleksi," lanjutnya.
Kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari program PUSPA Pemustaka (Pustakawan Menyapa Pemustaka). PUSPA ditargetkan mencapai 44 seri kegiatan pada periode 2025-2026. Saat ini, program tersebut telah memasuki seri ke-13.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama (Pustama), Emyati Tangke Lembang menjelaskan kajian tersebut dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif, menggunakan teknik convenience sampling terhadap responden pengguna layanan Perpusnas.
"Hasil kajian menunjukkan bahwa kategori fiksi menjadi koleksi yang paling banyak diminati pemustaka. Kemudian, koleksi bidang pendidikan. Keduanya secara konsisten menempati urutan teratas dalam permintaan pengguna perpustakaan," jelasnya.
Selain itu, kajian juga menemukan bahwa 58,3 persen responden masih memilih menggunakan koleksi fisik sebagai sumber informasi utama.
Melengkapi data itu, Pustama, Adriati menyampaikan, kebutuhan pemustaka dipahami sebagai kebutuhan informasi yang diperlukan pengguna perpustakaan untuk mencapai tujuan tertentu.
"Karena perpustakaan melayani berbagai lapisan masyarakat, maka kebutuhan informasi yang muncul pun beragam," ungkapnya.
Ia mengatakan, prinsip klasik yang disampaikan oleh Ranganathan menyebutkan bahwa setiap buku memiliki pembacanya dan setiap pembaca memiliki bukunya. "Prinsip ini menggambarkan kondisi ideal di mana perpustakaan seharusnya mampu menyediakan semua informasi yang dibutuhkan pengguna," katanya. *** (WM/Ed:DRS/Dok:ATK)
Galeri









