KBRI Dili Miliki Pusat Budaya Indonesia, Namun Koleksi Buku Masih Terbatas
Jakarta - Humas Perpusnas, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menerima kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Dili, Tasrifin Tahara. Audiensi tersebut membahas penguatan koleksi perpustakaan dan dukungan literasi di perpustakaan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).
“KBRI Dili memiliki Pusat Budaya Indonesia yang cukup besar, termasuk perpustakaan dan fasilitas mobil layanan. Namun, kendala utama kami adalah keterbatasan koleksi buku,” ungkapnya, Selasa (27/01/2026).
Tasrifin menjelaskan, bahwa meskipun unit kerja Atdikbud KBRI Dili relatif kecil, namun volume kerja yang dijalankan sangat tinggi. Hal ini disebabkan peran strategis Atdikbud dalam memberikan edukasi kepada masyarakat lokal Timor Leste, warga negara Indonesia (WNI), dan memfasilitasi pengiriman warga Timor Leste yang melanjutkan studi ke Indonesia.
Ia menambahkan bahwa perpustakaan PPI Dili memiliki tingkat kunjungan yang cukup tinggi, bahkan melebihi fasilitas serupa di beberapa perguruan tinggi setempat. “Pengunjung perpustakaan cukup tinggi karena dibanding perpustakaan perguruan tinggi di sana, yang pasti karena wifi cukup kuat jadi menarik pengunjung,” imbuhnya.
Menurutnya, koleksi buku yang sangat terbatas memiliki tantangan tersendiri, berbagai program, termasuk kegiatan literasi ke sekolah-sekolah dan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Selain pengajaran bahasa Indonesia, Atdikbud KBRI Dili juga rutin mengadakan kegiatan membaca cerita untuk siswa SD dan SMP. Tasrifin mengatakan, program BIPA di wilayahnya masih dilaksanakan tiap tahunnya, jumlah peserta sekitar 25 orang yang tersebar di 12 distrik.
Dijelaskannya, pendekatan literasi dipilih sebagai strategi utama dalam memperkuat penggunaan bahasa Indonesia, mengingat secara politis masyarakat Timor Leste diarahkan menggunakan bahasa Portugis. Di sisi lain, bahan bacaan berbahasa portugis masih sangat terbatas.
“Secara faktual, generasi muda di Timor Leste lebih memahami bahasa Indonesia dibandingkan Portugis. Bahasa Tetun sendiri memiliki kosakata yang terbatas, sehingga bahasa Indonesia menjadi pilihan paling mudah dan relevan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Perpusnas menyampaikan mekanisme pengadaan koleksi dapat dilakukan pada dua mekanisme. Pertama, penyerahan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SS KCKR). Ke dua, melalui pengadaan koleksi baru.
“Hanya memang kalau pengadaan baru agak kesulitan, karena terkena pemotongan anggaran. Sumber yang masih bisa dimanfaatkan melalui eksemplar koleksi deposit yang dapat dipilih sesuai kebutuhan, termasuk bacaan anak, buku fiksi dan buku pelajaran,” ungkapnya.
Dalam kesempatan terpisah, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menyerahkan bantuan 10 buku terbitan baru Perpusnas. Buku-buku tersebut merupakan hasil dari alih wahana dari naskah kuno nusantara, koleksi Perpusnas.*** (WM/ Ed: DRS/ Dok: AIF)
Galeri







