Kebangkitan Bangsa Dimulai dari Perencanaan yang Tepat
Jakarta-Humas Perpusnas. Momentum Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa kebangkitan bangsa tidak hanya lahir dari semangat perjuangan, tetapi juga dari kekuatan literasi, pendidikan, serta perencanaan yang matang.
Hal ini disampaikan Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Edi Wiyono, saat menyampaikan amanat dalam apel pagi yang digelar secara daring, Senin (25/5/2026).
Edi menyampaikan bahwa bulan Mei di Indonesia layak disebut sebagai “Bulan Literasi Kebangsaan”. Mulai dari Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, Hari Buku Nasional dan Hari Ulang Tahun Perpusnas pada 17 Mei, hingga Hari Kebangkitan nasional pada 20 Mei 2025.
“Jarang ada dalam kalender kita, di mana titik-titik balik sejarah, peradaban, dan instrumen kecerdasan bangsa berkumpul di satu bulan yang sama yaitu di bulan Mei. Kita akan menemukan satu kesimpulan filosofis yang kuat: Literasi adalah poros utama pembentukan, kebangkitan, dan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.
Pada kesempatan ini, Edi mengajak seluruh peserta apel untuk kembali merefleksikan sejarah lahirnya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Menurutnya Gerakan Boedi Oetomo tidak lahir dari angkatan bersenjata, melainkan dari ruang-ruang diskusi, dari tumpukan buku, dan dari kesadaran berpikir.
“Kebangkitan Nasional sesungguhnya adalah kebangkitan literasi. Tanpa tradisi membaca yang kuat dan akses terhadap ilmu pengetahuan, gagasan tentang "Indonesia Merdeka" tidak akan pernah mengkristal,” jelasnya.
Edi turut menegaskan bahwa memaknai Hari Kebangkitan Nasional saat ini harus diwujudkan melalui reformasi perencanaan dan penganggaran yang komprehensif, akuntabel, dan berorientasi pada hasil (outcome-oriented).
“Kita tidak boleh lagi terjebak pada rutinitas penganggaran yang sekadar menghabiskan pagu (spending money), melainkan beralih penuh pada penganggaran yang menggerakkan perubahan (spending for impact),” tegasnya.
Menutup amanatnya, Edi menyampaikan bahwa sejarah 1908 telah membuktikan bahwa kebangkitan sebuah bangsa tidak dimulai dari melimpahnya anggaran, melainkan dari ketepatan perencanaan. Boedi Oetomo lahir dari modal yang minim, tetapi karena memiliki perencanaan yang fokus pada literasi atau pendidikan serta dikelola secara akuntabel, mereka mampu mengubah jalannya sejarah Indonesia.
“Tugas kita hari ini adalah meneladani disiplin perencanaan tersebut agar setiap anggaran negara yang kita kelola menghasilkan dampak luas untuk masyarakat," pungkasnya. *** (GAS/Ed: BS/Dok: GAS)






