Kecakapan Literasi, Ukuran Pembentukan Masyarakat Kreatif dan Inovatif

Gallery image

Kecakapan Literasi, Ukuran Pembentukan Masyarakat Kreatif dan Inovatif

Surabaya – Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025, telah usai digelar. Dalam acara tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar menyampaikan bahwa kecakapan literasi menjadi ukuran untuk membentuk masyarakat yang kreatif dan inovatif.

Mengacu pada UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Perbukuan, Adin mengatakan, literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis, sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. “Kecakapan literasi sangat berkorelasi dengan pendapatan yang diterima, sehingga semakin tinggi kecakapan literasi seseorang maka kesejahteraannya akan semakin tinggi pula,” ujarnya pada Kamis (20/11/2025).

Perpusnas, kata Adin, dalam hal ini telah melakukan penghitungan terhadap Indeks Peningkatkan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) selama tahun 2019-2024. “Hasilnya menunjukkan peningkatan meskipun tidak signifikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Adin menerangkan sejumlah akar persoalan literasi di Indonesia, di antaranya komplikasi pemahaman tentang konsep literasi, kurangnya sumber bacaan yang sesuai, kurangnya fasilitas pendukung, kurang relevannya program dan kegiatan literasi. Ia juga menyebut rendahnya kompetensi, dukungan, serta partisipasi para pemangku kepentingan pembangunan literasi.

“Akar persoalan ini perlu dibenahi. Salah satu upaya yang dilakukan Perpusnas adalah menginternalisasi kearifan lokal. Naskah Nusantara di alih wahanakan menjadi bahan bacaan bermutu berbasis pada tokoh-tokoh besar Indonesia. Selain itu, dalam memberikan akses kepada masyarakat, Perpusnas juga mengembangkan layanan digital seperti iPusnas, Indonesia OneSearch, e-Resources, dan Khastara,” jelasnya.

Tidak lagi hanya berfungsi sebagai repositori ilmiah, tempat menyimpan dan meminjam buku, perpustakaan dewasa ini berubah menjadi ruang terbuka untuk membangun kreativitas. Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Adin menjabarkan bahwa masyarakat diajak untuk mempraktikkan langsung pengetahuan yang mereka dapat dari membaca.

“Melalui giat-giat yang dilakukan di perpustakaan ini kita latih mereka cara untuk meningkatkan keterampilan hidup, karena ilmu itu kalo dimiliki tanpa dipraktikkan tidak akan ada manfaatnya,” pungkasnya.

Kegiatan KPPTI yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemenditisaintek) bersama Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) ini berlangsung di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) selama tiga hari, pada 19-21 November 2025.

 

Reporter: Basma Sartika

Editor: Dyah Rachmawati Sugiyanto

Dokumentasi: Rimba Ardia

Galeri