Kecerdasan Buatan Ubah Perpustakaan Digital Lebih Cerdas dan Adaptif
Jakarta-Humas Perpusnas. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi keniscayaan dalam transformasi perpustakaan konvensional menuju smart library, khususnya dalam pengembangan perpustakaan digital yang lebih cerdas, dinamis, dan adaptif.
Demikian disampaikan Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso dalam webinar AI or DIE: The Digital Library “Unlock AI Knowledge Anytime, Anywhere”, Jumat (22/5/2026).
“Kecerdasan buatan memungkinkan sistem komputer untuk mensimulasikan kemampuan manusia di dalam belajar, memecahkan masalah guna meningkatkan efisiensi layanan pengetahuan dan juga layanan informasi pada perpustakaan,” jelasnya.
Joko menambahkan, kecerdasan buatan mampu mengubah paradigma pencarian informasi dari sekadar searching menjadi discovery atau penjelajahan pengetahuan secara semantik.
“Perpustakaan digital saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan pencarian berbasis kata kunci, metadata, maupun tagging yang kaku. Dengan dukungan AI dan natural language processing, sistem perpustakaan dapat memahami konteks pencarian pengguna dan menyajikan informasi yang lebih relevan,” tambahnya.
Meski banyak manfaatnya, Joko juga memaparkan tantangan perpustakaan dengan kecerdasan buatan, sepertinya contohnya dapat digunakan untuk memanipulasi dan membuat konten palsu atau yang disebut dengan fenomena deep fake. Menurutnya, perpustakaan bisa menjadi sebuah jangkar untuk menjaga dunia digital tetap berpijak pada realitas pada data dan berbasis pada bukti (evidence base).
“Perpustakaan dan para pustakawan harus bisa membendung konten yang mengandung hoax atau kepalsuan itu. Demikian juga dengan perpustakaan digital dapat berfungsi sebagai sumber data yang terpercaya karena data-data yang tersaji di dalamnya sudah terkurasi dengan sangat baik,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Joko menjelaskan pengembangan INLIS (Integrated Library System) Lite versi 3.3 yang dikembangkan Perpusnas kini telah mengimplementasikan pencarian informasi berbasis kecerdasan buatan. Inovasi ini merupakan upaya untuk mengubah katalog yang statis menjadi ekosistem pengetahuan yang cerdas sehingga diharapkan mampu menghadirkan layanan yang sesuai kebutuhan pengguna.
Software Expert-Java Competence Center of DEVK Insurance, Blasius Lofi Dewanto memaparkan bagian penting dari sebuah kecerdasan buatan adalah Large Language Model (LLM) yang didukung aspek lainnya seperti memory, context, security, dan tools.
Terkait perpustakaan digital, ia menjelaskan ekosistem perpustakaan digital terdiri dari layanan dan pengalaman yang berorientasi pada pengguna, koleksi digital yang beragam, administrasi dan manajemen konten, serta teknologi dan pelestarian.
Lebih lanjut, Blasius menyoroti tantangan perpustakaan digital yang dialami saat ini di berbagai belahan dunia. “Mulai dari technical debt atau sistem yang sudah usang dan tidak diperbarui, keterbatasan anggaran, hingga munculnya fenomena phantom citations, yakni referensi buku atau sumber yang sebenarnya tidak tersedia tetapi seolah-olah ada dalam sistem kecerdasan buatan,” urainya.
Sementara itu, Director-AI Venture, Alexander Ludi Epifanijanto menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat lembaga pemerintah yang bergerak pada bidang ekosistem inovasi digital yaitu Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 atau PIDI 4.0 yang merupakan bagian dari program prioritas nasional Making Indonesia 4.0.
Ia menjelaskan bahwa transformasi ekosistem digital saat ini telah diterapkan oleh berbagai kementerian dan lembaga. Sejumlah kementerian seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Kesehatan, hingga Kementerian Hukum telah mengembangkan digital transformation office untuk peningkatan layanan yang lebih baik.
Menurut Alexander, di tengah berkembangnya ekosistem transformasi digital tersebut, perpustakaan memiliki potensi besar menjadi konektor antar lembaga karena berperan sebagai pusat informasi dan pengetahuan. “Perpustakaan bisa menjadi konektor dari seluruh ekosistem transformasi digital tersebut,” pungkasnya.*** (AL/Ed: BS/Dok: AIF)






