Kedahsyatan Afterlife Events dari Perang di Nusantara

Gallery image

Kedahsyatan Afterlife Events dari Perang di Nusantara

Jakarta - Afterlife events dari Perang di Nusantara memiliki dampak yang jauh lebih dahsyat dari tragedi perang itu sendiri.

Demikian disampaikan oleh Sejarawan dan Peneliti Utama BRIN, Prof. Erwiza Erman saat menjadi narasumber pada kegiatan Diskusi Publik 200 Tahun Perang Jawa “Pejuang, Pengasingan, dan Pembentukan Memori”, Senin (22/9/2025).

“Makna heroik, keteguhan moral, jiwa nasionalisme, kepemimpinan inklusif, etika, dan pluralisme tetap ‘hidup’ melalui ritual, simbol, dan interpretasi kontemporer setiap generasi,” ucapnya.

Perang yang terjadi di Nusantara sebagian besar berbicara mengenai perampasan dan penguasaan sumber daya. Kekalahan yang terjadi dalam peperangan disebabkan oleh blokade rantai pasok yang dilakukan Belanda terhadap pasukan-pasukan pemberontak.

“Peperangan yang terus menerus di berbagai tempat di Nusantara telah menelan korban nyawa, harta, berakhir ‘pindahnya’ pemimpin peran ke ‘dunia pengasingan’. Bagi pemerintah kolonial, dunia pengasingan yang jauh dari daerah asal dimaksudkan memutus rantai pengaruh dan mematikan ide perlawanan terhadap penjajah,” jelasnya.

Sementara itu, Penulis dan Peneliti Sejarah, Mustaqim Asteja menambahkan sejarah pasti selalu berkaitan dengan tokoh, peristiwa, tempat, dan waktu. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa dalam hal sejarah, masyarakat harus arif untuk mampu memilah dari berbagai sumber.

“Belanda dalam sejarah punya tujuan untuk merendahkan para pejuang. Sebagai contoh, publikasi mengenai Pangeran Diponegoro di tahun 1842, dia disebut Belanda sebagai pengkhianat negara dan pembuat onar,” katanya.

Mustaqim menegaskan memori-memori yang dibuat oleh Belanda tidak bisa secara serta merta dipercaya, melainkan perlu ada publikasi pendukung lain sebagai bahan pembanding.

Lebih lanjut, ia mengatakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memiliki koleksi yang cukup lengkap untuk digunakan dalam membuat sejarah secara kronologis.

“Bahan publikasi seperti ini terbit dari 1814 sampai 1942, itu ada koleksinya di Perpusnas dan bisa diteliti untuk membuat sejarah secara kronologis, baik sejarah daerah atau sebagai jalan masuk untuk menyusuri arsip yang lebih dalam lagi melalui penelusuran digital,” terangnya.

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso membenarkan bahwa koleksi yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan koleksi dengan konten sejarah yang ada di Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara.

“Koleksi-koleksi tersebut meliputi koleksi majalah langka, surat kabar langka, buku langka, naskah kuno, audio visual dan mikrofis/microfilm, foto, peta, serta lukisan yang telah didigitalkan yang terdapat dalam platform koleksi langka digital Khastara,” ungkapnya.

Melalui platform tersebut, publik dapat mengakses berbagai sumber primer yang memberikan perspektif mendalam mengenai konflik besar tersebut, mulai dari latar belakang, jalannya pertempuran, hingga dampaknya terhadap tatanan masyarakat pasca-perang.

“Pemanfaatan teknologi digital ini tidak hanya memastikan kelestarian materi langka tersebut dari kerusakan fisik, tetapi juga memperluas jangkauan akses bagi peneliti, akademisi, dan masyarakat umum yang tertarik untuk menggali sejarah nasional secara lebih mendalam dan kritis,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini, Pustakawan Ahli Madya Perpusnas, Atikah meyakinkan bahwa Perpusnas memiliki keragaman koleksi yang dapat diakses baik dengan cara datang langsung maupun secara digital.

“Koleksi buku langka dapat ditemukan di lantai 14, foto, peta, dan lukisan di lantai 16, koleksi audio visual di lantai 8, serta majalah terjilid di lantai 23 Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas. Sedangkan koleksi surat kabar langka dari lantai 7c sampai 9 dan koleksi kliping CSIS di lantai 7b Perpusnas Salemba,” jabarnya.

Selain Khastara, Atikah menerangkan pemustaka juga dapat mengakses koleksi melalui Opac Perpusnas dan e-Resources. Ada pula Whatsapp dan email setiap Kelompok Layanan yang ada di setiap substansi koleksi klasika.

Reporter: Basma Sartika

Dokumentasi: Prakas Agrestian   

Galeri