Kepala Perpusnas Ajak Generasi Muda Teladani Bung Hatta, Menjaga Akar Budaya dengan Membaca

Gallery image

Kepala Perpusnas Ajak Generasi Muda Teladani Bung Hatta, Menjaga Akar Budaya dengan Membaca

Bukittinggi — Humas Perpusnas. Melalui Gelar Wicara Pemikiran Bung Hatta, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz mengajak generasi muda meneladani Bung Hatta sebagai sosok yang memiliki local roots, global flowers, berakar kuat pada budaya bangsa, namun mampu berkiprah di tingkat global. 

Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakat Indonesia perlu menjaga jati diri budaya tanpa menutup diri terhadap perkembangan dunia. "Jangan sampai kita tercerabut dari akar budaya kita sendiri. Kita pelihara akar budaya kita, tetapi juga terbuka menerima hal-hal baik dari pergaulan global," ujarnya. Pesan tersebut disampaikannya dalam rangkaian Pekan Literasi Bung Hatta 2026 di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Sumatera Barat, Senin (10/8/2026). 

Aminudin mengungkap, keteladanan Bung Hatta dibangun melalui budaya membaca, orientasi hidup yang mengutamakan kepentingan bangsa, integritas yang dijaga melalui kejujuran, serta kesederhanaan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, tetap relevan sebagai bekal generasi muda menghadapi tantangan global. 

Mengusung tema "124 Tahun Bung Hatta: Warisan Nalar Kebangsaan untuk Generasi Indonesia yang Cerdas dan Berkarakter", Aminudin menegaskan bahwa peringatan hari lahir Bung Hatta bukanlah bentuk pengultusan terhadap tokoh, melainkan momentum mengambil pelajaran dari pemikiran dan keteladanannya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Perpusnas mengatakan, budaya membaca merupakan fondasi utama yang membentuk cara pandang Bung Hatta. Kecintaan Bung Hatta terhadap buku melahirkan keluasan wawasan dan ketajaman berpikir yang kemudian menjadi dasar perjuangannya membangun bangsa. "Bung Hatta melihat dunia dari akarnya yang paling hakiki, yaitu pengetahuan. Fondasi itu beliau bangun melalui kegiatan membaca. Tidak ada yang lebih beliau cintai selain membaca," paparnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pengetahuan yang dimiliki Bung Hatta tidak pernah diarahkan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemajuan bangsa. “Yang beliau pikirkan bukan dirinya sendiri, melainkan masyarakat dan bangsanya. Bung Hatta memiliki visi besar tentang Indonesia yang merdeka dan sejahtera,” jelasnya. 

Selain budaya membaca dan semangat kebangsaan, ia juga menggarisbawahi pentingnya kejujuran sebagai warisan moral Bung Hatta. “Tidak ada harta pusaka yang setara dengan kejujuran. Kurang cerdas masih bisa diperbaiki dengan belajar, tetapi ketika kejujuran hilang, kepercayaan juga akan hilang," tuturnya mengutip salah satu pemikiran Bung Hatta.

Nilai tersebut, terangnya, tercermin pula dalam kesederhanaan hidup Bung Hatta. Meski pernah menjabat sebagai Wakil Presiden, kesederhanaan Bung Hatta menjadi bukti bahwa kepemimpinan dibangun melalui keteladanan, bukan kemewahan. “Tidak ada harta yang beliau wariskan begitu banyak kepada keluarganya. Tapi nilai-nilai kehidupan yang beliau wariskan bukan hanya kepada keluarganya tapi kepada bangsanya. Nah karena beliau mempraktikkan hidup sesuai dengan apa yang dikatakannya,” lugasnya. 

Putri pertama Bung Hatta, Meutia Farida Hatta Swasono, turut mengajak generasi muda memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk memperkuat kualitas berpikir dan membangun bangsa. Menurutnya, kemudahan akses informasi saat ini harus diimbangi kemampuan memilih pengetahuan yang tepat serta mengolahnya menjadi solusi bagi Indonesia.

Meutia mengatakan, tantangan generasi saat ini jauh berbeda dengan masa Bung Hatta. "Dulu para pendiri bangsa memiliki pikiran yang kaya dengan peralatan yang masih terbatas. Sekarang akses teknologi sudah sangat maju, tetapi pikiran kita tidak boleh berhenti. Kita harus memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya untuk membangun bangsa dengan berpikir lebih kreatif dan kritis," katanya.

Bung Hatta di matanya merupakan sosok yang melampaui zaman pada saat itu karena tidak hanya gemar membaca. "Bung Hatta tidak sekadar membaca demokrasi dari luar negeri, tetapi mengembangkan pemikiran itu menjadi konsep yang sesuai dengan Indonesia. Yang kita perlukan bukan sekadar menerima pengetahuan, melainkan mengolahnya menjadi jalan terbaik bagi bangsa," sebutnya.

Harapannya terhadap generasi muda tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi pemikir yang mampu menentukan arah masa depan Indonesia dengan tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumatera Barat Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Jasman mengatakan Bung Hatta merupakan teladan pemimpin yang menjunjung tinggi integritas, literasi, dan keberanian mempertahankan prinsip. "Bung Hatta bukan hanya Wakil Presiden saat itu. Beliau adalah otak dan nurani Republik Indonesia. Jika Bung Karno adalah api yang membakar semangat, Bung Hatta adalah air yang menenangkan sekaligus menunjukkan arah," geloranya. 

Ia juga menilai Bung Hatta membuktikan bahwa literasi mampu menjadi kekuatan yang membangun bangsa. "Bung Hatta adalah lambang bahwa literasi lebih tajam daripada peluru," tandasnya. 

Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis mengatakan Kota Bukittinggi memiliki kehormatan sebagai tanah kelahiran Bung Hatta. Ibnu mengajak generasi muda menjadikan budaya membaca, berpikir kritis, dan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar.

Sebelumnya, Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Leksi Hedrifa memaparkan bahwa Gelar Wicara Pemikiran Bung Hatta merupakan pembuka rangkaian Pekan Literasi Bung Hatta 2026 yang berlangsung pada 9–14 Agustus 2026. Selama sepekan, masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari dialog literasi, webinar, lomba mewarnai, jalan sehat, kegiatan mendongeng, pemutaran film dokumenter, hingga diskusi kebunghattaan sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap nilai dan pemikiran Bung Hatta sekaligus membangkitkan semangat literasi. 

Gelar wicara tersebut juga menghadirkan Ketua Yayasan Hatta Halida Nuriah Hatta, Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Silfia Hanani, Lektor Kepala Unit Ilmu Sejarah Universitas Andalas Wannofri Samry, Pemimpin Pondok Pesantren Al-Manaar Batuhampar Mazmur Sya'roni (Datuak Oyah VIII), serta Duta Baca Provinsi Sumatera Barat Fahada Yusrah. Kelima narasumber membahas keteladanan dan pemikiran Bung Hatta dari berbagai perspektif, mulai dari keluarga, sejarah, pendidikan, nilai keislaman, hingga budaya literasi. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: Tim Humas UPT Perpustakaan Bung Hatta-AA)

Galeri