Kepala Perpusnas: Literasi Bukan Beban, Tetapi Investasi Masa Depan
Banten, Humas Perpusnas. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menegaskan penguatan budaya literasi di Provinsi Banten Sebagai bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hal ini disampaikan dalam Festival Literasi Provinsi Banten Tahun 2026 yang diselenggarakan di Gedung Negara Banten, Kamis (8/10/2026).
"Urusan perpustakaan itu bukan urusan beban, tetapi urusan investasi masa depan," tegasnya. Ia menyayangkan, perpustakaan selama ini masih kerap dipandang sebelah mata. “Perpustakaan seringkali ditempatkan sebagai sektor yang kurang mendapat prioritas dalam pembangunan. Padahal, perpustakaan memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan,kreativitas dan meningkatkan kualitas SDM, ungkapnya.
“Urusan perpustakaan itu adalah urusan keilmuan, urusan bagaimana kita melihat perkembangan dunia, bagaimana kita memberdayakan manusia, dan bagaimana kita mengembangkan kreativitas,” ujarnya.
Menurutnya, Banten memiliki sejarah yang sangat panjang.ratusan tahun lalu, Banten telah melakukan kegiatan membaca, menulis dan mencatat berbagai peristiwa. Begitu banyak sejarah tentang Banten yang telah ditulis dan diwariskan.
Bahkan, catatan-catatan kuno tentang Banten banyak yang saat ini tersimpan di Perpusnas, di Arsip Nasional, dan tentu saja di berbagai perpustakaan yang ada di Banten. Sejarah Banten telah membuktikan sebuah perjalanan yang sangat gemilang.
"Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang Banten, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang literasi tingkat tinggi," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Perpusnas juga memaparkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Banten 2025 berada di angka 48,59, sedangkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Banten mencapai 56,53.
Perpusnas, lanjutnya, telah memberikan sejumlah dukungan untuk memperkuat literasi di Banten. Dalam dua tahun terakhir, hampir setengah juta buku telah disalurkan ke sekitar 495 lokus di Provinsi Banten. Dukungan juga diberikan kepada komunitas, termasuk komunitas perempuan, petani maupun nelayan di 132 lokus .
Selain itu, pemerintah pusat menyalurkan DAK nonfisik sekitar 5,2 miliar untuk mendukung program literasi di Provinsi Banten.
Sementara itu, Asisten Daerah (Asda) III Provinsi Banten, Rina Dewiyanti, mengatakan Festival Literasi Provinsi Banten ini memiliki tujuan membangun kesadaran. Ia mengungkapkan, literasi merupakan salah satu fondasi utama dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Banten yang unggul dan berkarakter. Kegiatan ini juga diparalelkan dengan peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Banten dengan semangat Banten Bergerak Maju Berdampak.
"Kita bergerak Bersama. Kita satukan seluruh sumber daya, termasuk dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh stakeholder yang hadir dan berkontribusi dalam kegiatan ini," katanya.
Ia mengatakan, budaya literasi harus dimulai sejak usia dini dan dimulai dari lingkungan keluarga. Membangun kebiasaan membaca harus dimulai dari keluarga terkecil. Hal ini sangat penting untuk menjaga generasi muda sebagai penerus bangsa agar mampu membaca, memahami, berpikir, dan berkomunikasi dengan baik.
"Kita ingin anak-anak Banten tumbuh menjadi generasi yang gemar membaca, memiliki wawasan yang luas, kreatif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan keterlibatan dan kolaborasi dari semua pihak," katanya.
Festival Literasi ini, lanjutnya, sebaiknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial yang selesai setelah acara berakhir. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah evaluasi terhadap semua program yang telah dilakukan. "Kita ingin program-program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," lanjutnya.
Berbagai kegiatan seperti pameran, aktivitas edukasi, dan kegiatan literasi lainnya telah dilaksanakan. Diharapkan dapat menumbuhkan kembali semangat membaca sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkreasi, dan berkembang.
"Saya berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama antara Pemerintah Provinsi Banten dengan pemerintah kabupaten dan kota dalam mengembangkan perpustakaan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, harapnya.
"Mari kita bangun Banten sebagai provinsi dengan masyarakat yang gemar membaca, terbuka terhadap pengetahuan, dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari," ajaknya. *** (WM/Ed: DRS/Dok: ATK)
Galeri










