Literasi Jadi Fondasi Membangun Masyarakat Cerdas di Kota Global
Jakarta — Humas Perpusnas. Jakarta sebagai kota global tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, teknologi, dan konektivitas. Kemampuan masyarakat untuk belajar, mengolah informasi, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi fondasi penting pembangunan kota.
Tak hanya itu, dalam paparannya, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, juga menekankan pentingnya menempatkan pembangunan manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kota.
“Smart city harus sejalan dengan smart people. Karena pada akhirnya, pembangunan kota bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi bagaimana manusia yang berada di dalamnya mampu menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya, Kamis (8/10/2026), di Balai Kota DKI Jakarta.
Menurut Adin, perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan artifisial (AI) telah memberikan akses informasi yang semakin luas. Namun, melimpahnya informasi tidak secara otomatis menghasilkan pengetahuan.
Sehingga, ia menilai, masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi untuk memilah, memahami, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan sesuatu dari informasi yang diperoleh. Karena itu, perpustakaan tidak cukup dipandang sebagai tempat menyimpan dan menyediakan bahan bacaan.
“Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku. Perpustakaan dapat dimanfaatkan menjadi ruang belajar, ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya,” jelas Adin.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya membangun ekosistem literasi yang melibatkan keluarga, sekolah, perpustakaan, komunitas, dan pemerintah. Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan menerapkan pengetahuan dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Pada kesempatan yang sama, yakni Forum Dialog Kebijakan Penguatan Urusan Perpustakaan dan Kearsipan dalam Pembangunan Manusia, Nilai Budaya, Demokrasi, dan Kebhinekaan Jakarta, Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Perlindungan Arsip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mira Puspitarini, menekankan bahwa arsip memiliki peran lebih luas daripada sekadar penyimpanan dokumen.
“Arsip itu bukan hanya sekadar tumpukan di storage, tetapi bisa menjadi arsip strategis organisasi yang berfungsi sebagai referensi dalam pengelolaan informasi dan pengambilan keputusan yang strategis,” ucapnya.
Mira menegaskan bahwa pengelolaan arsip yang baik mendukung akurasi informasi, akuntabilitas, dan keberlanjutan pembangunan, sekaligus memperluas akses publik melalui transformasi digital.
Sementara itu, Peneliti dan Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Joko Adianto, membahas tantangan perpustakaan dan pusat arsip di tengah derasnya arus informasi digital dan penggunaan AI. Ia berpendapat, perpustakaan dan pusat arsip perlu berperan aktif sebagai rujukan untuk memeriksa informasi dan melawan hoaks serta misinformasi.
“Perpustakaan dapat menjadi public sphere bagi masyarakat Jakarta untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan membangun pengetahuan bersama. Selain itu, pemanfaatan ruang fisik dan digital diharapkan dapat memperluas akses serta mendorong kemampuan berpikir kritis masyarakat,” pungkasnya.*** (AKN/Ed: BS/Dok: KN)
Galeri










