Perpusnas dan Pusjarah TNI Rawat Sejarah melalui Koleksi Langka
Jakarta – Humas Perpusnas. Koleksi langka menjadi bagian penting dalam merawat memori sejarah bangsa sekaligus sumber untuk menghasilkan pengetahuan baru. Hal ini menjadi dasar penguatan kolaborasi antara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI) dalam hal pemanfaatan koleksi langka sebagai sumber literasi dan pengetahuan sejarah militer.
“Perpustakaan bukan hanya sebagai tempat untuk membaca dan berkunjung, tetapi juga menciptakan ilmu pengetahuan baru,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, Kamis (8/10/2026).
Sependapat dengan hal tersebut, Kepala Pusjarah TNI, Brigadir Jenderal TNI Stefie Slantje Nuhujanan, menilai sumber sejarah militer perlu terus diselamatkan agar dapat dimanfaatkan masyarakat. “Sumber tersebut tersimpan dalam berbagai bentuk, mulai dari buku, dokumen, museum, hingga monumen,” urainya.
Pada sesi gelar wicara, Kepala Subbidang Kajian Hubungan Masyarakat Pusjarah TNI, Letkol Sus Ede Aulah, memaparkan bahwa Perpustakaan TNI memiliki sekitar 43.285 judul buku, dengan sekitar 90 persen berkaitan dengan militer dan sejarah TNI. Koleksi langka tersebut antara lain berasal dari hibah Jenderal Besar A.H. Nasution sebanyak 5.628 judul dan Imawan Sutanto sebanyak 6.053 judul.
“Tujuan kita adalah bagaimana mendekatkan sejarah, buku, dan literasi kepada prajurit TNI maupun masyarakat umum,” kata Ede.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama Perpusnas, Desty Ayatun Funtayah, menyampaikan jumlah koleksi Perpusnas hingga Desember 2025 mencapai 3.563.564 judul atau 9.791.759 eksemplar. Khusus layanan koleksi langka atau Klasika, koleksi yang tersedia berasal dari rentang tahun 1547 hingga 2025, termasuk buku, peta, majalah, surat kabar, dan audiovisual.
“Naskah, peta, majalah, hingga koran kuno yang tersimpan di layanan koleksi langka Perpusnas bukanlah tumpukan kertas mati dari masa lalu. Mereka adalah mesin waktu yang menyimpan DNA peradaban dan rekam jejak intelektual bangsa,” tuturnya.
Pustakawan Ahli Muda Perpusnas, Miftakhus Salami menambahkan, koleksi langka Perpusnas juga menyimpan berbagai sumber primer terkait sejarah militer. Koleksi yang disimpan mulai dari buku, foto, peta, majalah, surat kabar, hingga koleksi audiovisual.
“Koleksi tersebut dapat dimanfaatkan untuk penelitian sejarah dan ditelusuri melalui layanan Perpusnas, termasuk OPAC dan Khastara,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Perpusnas dan Pusjarah TNI mendorong koleksi langka tidak hanya dilestarikan sebagai warisan sejarah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber penelitian dan pengembangan literasi masyarakat.
Kegiatan Pustakawan Menyapa Pemustaka Seri ke-45 bertema “Kebersamaan TNI dan Rakyat melalui Koleksi Langka di Perpustakaan Nasional” ini berlangsung secara daring dan menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 TNI.*** (RM, BS/Ed: DRS/Dok: REA)
Galeri








